Suasana Mabit di Muzdhalifah

Muzdhalifah, 7 – 8 Desember 2008 / 9 – 10 Dzulhijjah 1429

Mungkin jarang-jarang jamaah haji plus bisa mabit di muzdhalifah. Mabit yang benar-benar mabit, bukan menginap di bus yang terjebak macet.

Turun di kawasan muzdhalifah, menginap beratapkan langit dan beralas tikar. Sungguh pada saat itu terasa sekali bagaimana menjadi orang yang tak memiliki apa-apa. Seorang hamba yang lemah, tak berdaya, tak berharta. Yang dimiliki hanya bekal iman, takwa serta tawakal kepada Allah.

Segalanya yang tadinya dimiliki seakan hilang tak pernah ada. Rumah yang besar, hangat dan nyaman, tempat tidur dan bantal yang empuk, makanan minuman yang banyak, enak dan lezat. Dinding kokoh yang melindungi dari sengatan dingin. Semua menguap. Bak fatamorgana di tengah padang pasir. Yang ada hanyalah sebuah tikar terbentang di atas tanah pasir. Aku pun duduk, berbaring dan tidur di atasnya, memandang pekatnya malam yang berhias bintang-bintang serta bulan.

Di antara kami tidak ada yang mengeluh. Sibuk termenung dalam pikiran masing-masing. Ada yang berdzikir, ada yang bengong, ada yang sibuk mengais-ais pasir mencari batu, ada pula yang tidur. Yang kutau mereka tadinya dari kalangan berada bahkan bisa dibilang lebih dalam harta. Tapi kali ini, di sini… di Muzdhalifah. Semua sama.

Leave a Reply