Masih seputar palestine yang dimana-mana menjadi salah satu bahan pembicaraan. Entah itu di warung makan, warung kopi, bahkan sampai di dunia chat. Seperti halnya tadi malam, seorang kawan melempar sebuah topik diskusi tentang palestina.
Ada 3 pemikiran menarik yang dilontarkannya, yaitu
1. Pasifnya sebagian besar rakyat palestine terhadap serangan Yahudi
2. Hamas yang terlalu mengusung bendera hamasnya saat melawan Yahudi
3. Tujuan rakyat palestine berjuang
Poin pertama dan kedua, kawan berargumen bahwa rakyat palestina saat ini semangat berjuangnya kurang. Sementara perjuangan hamas terlalu dibesar-besarkan media. Bukan perjuangan rakyat palestine itu sendiri, tapi perjuangan kelompok (Hamas). Tentu saja tidak semua rakyat palestine adalah Hamas. Seharusnya dalam keadaan seperti ini, bendera-bendara kelompok ditanggalkan, rakyat bersatu padu.
Masih menurut kawan tersebut, suara rakyat palestine terbagi-bagi, ada yang ingin damai saja, ada yang ingin berjuang sampai titik darah penghabisan serta ada yang hanya menunggu dan mengharap belas kasihan dan bantuan dari negara lain. Seharusnya tidak begitu ujarnya, mereka (rakyat palestine) harus berjuang dan melawan supaya tidak menjadi bangsa yang hina seperti sekarang.
Sempat juga aku menyanggah, “Tapi kan rakyat palestine adalah rakyat yang lemah. Kekurangan dalam segala hal, makanan, minuman, dan terutama senjata. Nt kan tahu gimana canggihnya senjata para zionist itu”
Dengan kalem dia menanggapi, “Percaya sama Allah kan?
Aku menjawab tanpa keraguan, “Ya”
Dia pun meneruskan, “Ingat di Afganistan? Batu ajah bisa jadi bom yang mematikan. Pesawat tempur bisa dilawan dengan burung atas kehendak Allah. Sesungguhnya kita orang yang lemah, senjata secanggih apa pun tidak bermanfaat. Tanpa seijin Allah.”
Itu mungkin yang tidak dipikirkan rakyat palestine. Oyah… berikut ini video bagaimana sebuah F16 yang jatuh karena seekor burung. Tentu saja atas ijin Allah.
Selanjutnya dia menambahkan tentang tujuan berjuang/berperang di atas panji Allah serta laa ilaha illallah. Dan tentu saja tidak lupa soal tauhid yang selalu dia nasehatkan kepadaku.