Melihat kondisi umat Islam yang kian hari makin memprihatinkan, muncullah pertanyaan bagi mereka yang punya semangat berdakwah, “Apa yang mesti didakwahkan?”

Jawabannya ternyata beragam. Ada yang memulai dengan ingin menegakkan pemerintahan Islami, kemudian terjun ke politik atau menyerukan penegakan hukum Islam dengan turun ke jalan-jalan. Ada lagi yang berpindah-pindah dari masjid ke masjid, yang katanya bertujuan untuk amar ma’ruf nahi munkar. Namun, umumnya mereka semua menghindari masalah pemurnian akidah, sebab dianggap akan merintangi dakwah dan mengganggu persatuan umat.

MISI DAKWAH SEMUA RASUL
Jika kita mau menengok Al Quran, dalam surat Al A’raf saja akan terdapat beberapa ayat yang menyebutkan tentang misi dakwah para rasul. Di antaranya, “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata, ‘Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).’” (Al A’raf: 59)

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata, ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’” (Al A’raf: 65)

“Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu’aib. la berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.’” (Al A’raf: 85)

Perhatikanlah, sekalipun umat para rasul itu berbeda-beda dan beragam pula permasalahnnya, akan tetapi dakwah kepada tauhid ini tetap menjadi dasar yang paling penting, baik yang mereka hadapi masalah ekonomi seperti kaum Madyan atau masalah politik. Karena mereka (umat tersebut) waktu itu tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah.

RASULULLAH DAN TAUHID
Rasulullah sebagai panutan kita memberikan teladan mengenai bagaimana pentingnya perkara tauhid bagi umatnya. Terbukti dalam perjalanan hidupnya, beliau tak henti-henti memerhatikan dan mendakwahkan masalah ini.

Berkata Syeikh Mubarak Al-Maili “Nabi tidak henti-hentinya melarang manusia menjadikan patung-patung sebagai sekutu-sekutu bagi Allah, padahal beliau sendiri (di Mekah). Beliau tidak pernah melalaikan dakwah tauhid walaupun diboikot oleh beberapa kabilah suku Quraisy selama 3 tahun hingga mengalami kesulitan hidup.

Beliau tidak pernah melupakannya sekalipun sedang bersembunyi dari kejaran musuh yang berusaha keras mencarinya. Beliau tidak pernah berhenti membicarakan tauhid walaupun beliau telah memperoleh kemenangan di Madinah dan di antara para pembelanya.

Beliau tidak pernah berhenti menyelami dan membahasnya sekalipun kota Mekah telah dibuka dan ditundukkan. Beliau tidak lalai darinya mestipun sibuk berjihad, menyerang musuh, kemudian meraih kemenangan.

Beliau tidak mencukupkan dengan hanya mengajak dan meminta baiat para pengikutnya untuk tetap berjihad, tetapi lebih dari itu beliau mengingatkan mereka untuk mengembalikan kehormatan baiat tersebut dengan berjalan di atas tauhid dan menghapus kesyirikan. Inilah kisah perjalanan hidup yang ditempuh oleh beliau yang terekam dalam sejarah dan benar-benar merupakan kenyataan…”

YANG PERTAMA KALI DIDAKWAHKAN
Rasulullah juga memberikan petunjuk kepada para juru dakwah agar tauhid menjadi prioritas utama. Ibnul Qayyim mengatakan bahwa tauhid merupakan kunci dakwah para rasul. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Muadz, Rasulullah bersabda kepada Mu’adz tatkala mengutusnya ke Yaman, “Sesungguhnya kamu akan mendatangi kaum ahli kitab, maka hendaknya dakwah pertama kali yang kamu sampaikan kepada mereka ialah syahadat “laa illaaha illallah” Dalam riwayat
lain disebutkan, “Supaya mereka mentauhidkan Allah.” Jika mereka telah mematuhi apa yang kamu dakwahkan itu, maka sampaikanlah bahwa Allah mewajibkan kepada mereka salat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka untuk diberikan kepada orang-orang fakir. Jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan itu, maka jauhkanlah dirimu dari harta pilihan (yang baik-baik) mereka; dan jagalah dirimu dari doa orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tiada suatu penghalang pun antara doanya dengan Allah.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, jangan sampai cahaya tauhid ini menjadi padam, lantaran adanya anggapan bahwa tauhid telah bersemayam di hati setiap manusia. Cobalah perhatikan bagaimana Nabi Ibrahim, pemimpin orang-orang yang bertauhid, berdoa agar tidak jatuh dalam kesyirikan!

Inilah doanya, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata,”Ya Rabbku, jadikanlah negri ini (Mekah), negri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia.” (Ibrahim: 35-36)

Berkata Mughirah bin Miqsam, “Pernah Ibrahim At-Taimi berkata, ‘Siapakah orang yang merasa aman dari bencana terjatuh kepada syirik setelah Khalilullah Ibrahim, yang berkata, ‘Jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala?’” (Riwayat Ibnu Jarir di dalam Tafsir-nya)

Untuk itulah, sebagai seorang muslim yang baik kita seharusnya mencontoh Nabi baik dalam masalah dakwah maupun masalah lainnya. Bukannya mencari cara lain yang belum teruji keberhasilannya.

Sumber :
Abdul Malik bin Ahmad Ramdhani, Sittu Duror (Landasan Membangun Jalan Selamat), Cet. I, Media Hidayah

Disalin dari Majalah Nikah Vol 5 No 1 April 2006

6 Responses to “Mengapa Harus Tauhid”

  • abu azzam says:

    kita mesti ingat bahwa syirik itu banyak macamnya, riya’ juga termasuk syirik yang termasuk dosa besar…..

  • Jaisy says:

    Saya kira ketika kita berbicara masalah metodologi dakwah Rasul maka kita harus place back dan baca sirah-sirah Rasul sebagai rujukan paling utama, sehingga kita memahami bahwa urgensi dakwah di awali dengan pondasi akidah yang kuat jutsru dengan akidah yang kuat itulah sehingga kita mampu untuk menggerakan langkah kita sebagai pengemban dakwah itu sendiri dari artinya saja dakwah (Menyeru) maka dalam hal ini Rasulpun tidak hanya mengatakan dakwah itu cuma Akidah saja, tetapi kita akan dapati bahwa Rasul Membina para sahabat dari mulai Akidah Ruhiyah sampai akidah siyasah. Sehingga bener Islam akan menjadikan sebuah Agama yang mengatur kehidupan, jikalau islam hanya berkutat masalah akidah saja saya kira Islam tidak akan berkembang seperti ini, menjadi lokomotif perubahan Masyarakat. Isyarat Nubuwah akan datangnya kemenangan Islam dan sebagai Aturan bagi Kehidupan….Allahu Akbar

  • abu khansa,, says:

    saya setuju dengan penulis…berdakwah memang harus dimulai dari tauhid,…karena mendakwahkan tauhid sama saja melakukan upaya perubahan dari dasar/awal…, jika kita melihat berbagai kemaksyiatan yang ada di masyarakat kita,,,…kemaksiatan yang terjadi saat ini sangatlah sistemik,,,karena kemaksiatan yang terjadi tidak hanya terjadi pada tataran individu yg kebanyakan muslim,…tetapi kemaksiatan ini juga terjadi pada tataran negara,..oleh karena itu dakwah harus di gulirkan dalam rangka merubah tauhid individu dan juga tauhid dari negara ini…dan ini tidak bisa tidak,…

    kondisi yang dialami rasulullah nyaris sama dengan yang terjadi saat ini… hanya saja yang membedakan pada masa rasulullah adalah kaum muslimin saat itu masih minoritas,sehingga dakwah kepada tauhid lebih bermakna dakwah untuk masuk kepada Islam… sedangkan sekarang kaum muslimin sudah cukup banyak,…hanya saja permasalahannya adalah di aqidah/tauhid nya yang kurang benar…seperti masih suka tahayul, tidak yakin dg rizki Allah, bahkan gemar mejalankan hukum2 kufur…
    padahal tauhid yang benar itu di tandakan dengan kepasrahan/ketundukan diri terhadap segala ketentuan Allah, termasuk untuk berhukum dengan Hukum2 Islam….atau dalam istilah ulama dikenal tauhid ar-rububiyyah dan uluhiyyah….
    ayat 2 terkait seperti:

    “Katakanlah: Taatilah Allah dan Rasul-Nya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang kafir. (Ali ‘Imran: 32)

    “Sesiapa yang mentaati Rasul maka sesungguhnya ia telah mentaati Allah.” (An-Nisa’: 80)

    “Sesungguhnya jawapan orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, lalu mereka berkata: Kami dengar dan kami patuh. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An-Nur: 51)

    “Dan sesiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, nescaya Allah akan memasukkannya ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan sesiapa yang berpaling nescaya Dia akan mengazab kamu dengan azab yang pedih.” (Al-Fath: 17)

    “Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah, dan apa yang dilarang bagimu maka tinggallah.” (Al-Hasyr: 7)

    “Dan tidak patut bagi lelaki-lelaki mukmin dan bagi perempuan-perempuan Mu’minah, apabila Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu ketetapan, ada pilihan lain bagi mereka tentang urusan mereka.” (Al-Ahzab: 36)

    “Dan jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu maka kembalilah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman dengan Allah dan Hari Akhirat.” (An-Nisa’: 59)

    “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa sesuatu keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima sepenuhnya.” (An-Nisa’: 65)

    lalu pertanyaan nya sekarang, bagaimana metode mendakwahkannya???

    untuk merubah tauhid individu, sebagaimana Rasul dan para sahabat menyerukannya dengan dakwah langsung, membacakan ayat2 dan menawarkan Islam di hadapan penduduk..sebagian menerima islam, sebagian menolak(tetap kufur)…bg yang menerima akhirnya di bina dalam kajian intensif di pengajian arqom….sampai akhirnya terbentuk pola pikir dan sikap islami di antara mereka yg akhirnya menjadi penguat dakwah Rasul kemudian……

    untuk merubah tauhid negara…adalah dengan medakwahkan keburukan dari sistem kufur yang ada, mencela penguasa2 zalim, serta rusaknya tauhid serta kebiasaan yang di amini di masyarakat kita,,,, dan menjelaskan tentang Islam itu sendiri sebagai ajaran yang sempurna….
    hal ini di lakukan semata2 agar umat menyadari kekeliruannya dan kembali ke pada islam sebagai jalan yang benar…… meskipun pada fase ini sangat sulit, karena tentu saja berhadapan dengan penguasa zalim,…

    tetapi ini lah yg dialami sebagaimana rasul…. 3 tahun setelah ada perintah Allah tuk dakwah terbuka dan menantang…. (kita bisa melihat dari ayat2 Al Quran yang turun pada masa itu).. begitu nyata pertentangan orang2 kafir quraisy… di timpuk, disiksa, , bahkan ada yg sampai di bunuh..hal ini terjadi karena dakwah Rasul saat itu langsung menyerang secara terbuka terhadap punguasa dan budaya qurais yg rusak,…(sebagaimana turunnya surat Al-Lahab, dst..)

    inilah yg menjadi keyakinan saya,…bahwa dakwah tauhid,.,,tidak hanya sebatas individu…tetapi juga ditujukan untuk merubah tauhid negara,…. dan masing2 ini memiliki karakter yang berbeda jika kita melihat kondisi 3 tahun awal dakwah rasul dan 3 tahun sesudahnya,,.,,,,

    wallahu’alam bishowab….

  • Budi Marta says:

    To Abu Khansa : Mencela penguasa muslim yg dzolim bukan merupakan bagian dari Ahlussunnah sedikitpun, karena prinsip menasehati penguasa ala Ahlussunnah adalah dengan sirri ( bukan di mimbar2 ). Al imam Al barbahari berkata dalam Syarhussunnah : ” ketahuilah !! barangsiapa yang mencela penguasa muslim maka dia adalah Ahlul bid’ah, imam Ahmad bin Hambal juga telah menjelaskan juga di dalam ushulussunnah bahwa wajib selalu memnta’ati waliyul amri dalam hal yg ma’ruf……

  • ukhti ry says:

    @ abu azzam, apakah riya = syirik?
    knapa bisa gitu?

  • Anonymous says:

    riya = syirik kecil, karena orang yang riya itu beribadahnya tidak ikhlas, bukan semata-mata karena mengharap wajah Allah Azza wa Jalla, tetapi karena ia mengharapkan pujian dari orang lain.

Leave a Reply