Apa saja yang dapat dilakukan seorang hamba untuk menghapus dosa-dosanya? Tentu dengan bertobat dan banyak beramal shalih. Sebab amal-amal shalih bisa menghapuskan dosa-dosa kecil. Dan dengan tauhid yang benar, dapat menjadi sebab diampuninya dosa-dosa. Mengapa bisa demikian?
Itulah salah satu keutamaan tauhid, mampu menghapuskan dosa-dosa seorang hamba, sehingga merupakan sarana kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhirat: Namun, tentu saja ada syarat yang harus dipenuhi bagi seorang muslim yang ingin mendapat keutamaan tadi.
JAMINAN KEAMANAN
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Orang-orang yang beriman dan tidak menodai iman mereka dengan kezhaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat ketenteraman dan mereka itu adalah orang-orang yang menepati jalan hidayah.” (Al-An’am: 82)
Ayat inilah yang membuat para sahabat resah dan bertanya-tanya, karena siapakah yang tidak pernah berbuat zhalim? Hal itu dapat ditemukan dalam beberapa riwayat, salah satunya dari Ibnu Masud, dia berkata, “Ketika ayat ini turun, para sahabat bertanya-tanya, ‘Siapakah di antara kita yang tidak pernah menzlialimi dirinya. ‘Rasulullah pun bersabda, ‘Bukan seperti yang kamu maksud, tidakkah kamu perhatikan perkataan Luqman, ‘Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) benar-benar kezhaliman yang besar (Luqman: 31).’”
Mengapa syirik disebut kezhaliman? Karena syirik adalah perbuatan menempatkan suatu ibadah tidak pada tempatnya dan memberikannya kepada yang tidak berhak menerimanya.
Ibnu Katsir berkata menafsirkan surat Al-An’am: 82 , “Maksudnya, mereka adalah orang-orang yang memurnikan ibadah hanya kepada Allah saja. Mereka tidak menyekutukannya sama sekali. Mereka itulah orang-orang yang tentram pada hari kiamat dan mendapat petunjuk di dunia dan akhirat.”
Oleh karena itu, ayat tersebut memberikan kabar gembira berupa pemberian petunjuk dan jaminan keamanan dari siksa neraka bagi orang mukmin yang bertauhid dan tidak menodai imannya dengan syirik.
TAK CUKUP DIUCAPKAN
Kita juga sudah tahu bahwa syirik merupakan lawan tauhid. Permasalahannya, banyak umat Islam yang mengaku bertauhid namun baru sebatas ucapan saja. Padahal, jika hanya sekadar itu tidaklah cukup membuat seseorang mendapat jaminan surga di ahirat kelak.
Sebab, makna sebenarnya dari kalimat tauhid yang biasa diucapkan seseorang yang ingin masuk Islam adalah melepaskan diri dari setiap sesembahan dan bersungguh-sungguh dalam mengkhususkan diri dengan semua jenis Ibadah hanya untuk Allah semata, serta melakukan ibadah-ibadah tersebut sesuai cara yang dicintai dan diridhai-Nya.
Jika seorang muslim belum mengerjakannya atau hanya melakukan beberapa saja dan dia juga beribadah Kepada selain Allah, berarti dirinya telah merusak ibadahnya sendiri. Sehingga persaksian tentang kalimat tauhid tersebut tiada lagi berguna baginya.
Untuk lebih jelasnya, coba perhatikan hadist Rasulullah berikut ini : Ubadah bin Shamit menuturkan, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa bersyahadat, bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, dan bersyahadat bahwa Isa adalah hamba Allah, RasuLNya, dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam serta ruh dari-Nya, serta bersyahadat bahwa surga itu benar adanya dan neraka pun benar adanya, maka Allah pasti memasukkannya ke dalam surga, betapapun amal yang pernah dilakukannya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula hadist dari Itban, “Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan ‘laa ilaaha illallah’ dengan ikhlas semata-mata mengharap wajah Allah.”
Dari dua hadits tersebut, jelaslah bahwa seseorang tidak akan selamat dari api neraka dengan hanya mengucapkan kalimat “Laa ilaha illallah” saja. Orang yang beranggapan seperti itu berarti dia belum faham makna “Laa ilaha illallah”. Rasulullah bersabda, “Barang siapa mengucapkan ‘Laa ilaha illallah’ dan mengingkari sesembahan selain Allah, haramlah harta dan darahnya, sedang hisab (perhitungan)nya adalah terserah kepada Allah.”
Hadits itu termasuk hal terpenting yang menjelaskan pengertian “Laa ilaha illallah”. Sebab apa yang dijadikan Rasulullah sebagai pelindung darah dan harta bukanlah sekadar mengucapkan kalimat “Laa ilaha illallah” itu, bukan pula dengan mengerti makna dan lafadznya, bukan pula dengan mengakui kebenaran kalimat tersebut, bahkan bukan juga tidak meminta kecuali kepada Allah saja, yang tiada sekutu bagi-Nya.
Akan tetapi tidaklah haram dan terlindung harta dan darahnya hingga dia menambahkan kepada pengucapan kalimat “Laa ilaha illallah” itu pengingkaran kepada segala sembahan selain Allah. Jika dia masih ragu atau bimbang, maka belumlah haram dan terlindung harta dan darahnya.
Rasulullah bersabda, “Allah berfirman, ‘Hai anak Adam, seandainya kamu datang kepadaku dengan dosa sepenuh bumi, sedangkan kamu ketika mati (berjumpa dengan-ku) berada dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-ku, niscaya aku akan memberikan kepadamu ampunan sepenuh bumi pula.’” (Riwayat At-Tirmidzi)
Nah, sudah seharusnya tauhid tersebut kita murnikan agar mendapatkan keistimewaannya yang mampu menghapuskan dosa-dosa.
Sumber:
Syaikh Abdurrahman Hasan Alu Syaikh, Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid (edisi revisi), Cet. IV, Pustaka Azzam, Jakarta, 2003.
Diketik ulang dari Majalah Nikah Vol 5 No 2 Mei 2006