<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Raudhah Al Ilmi &#187; Aqidah</title>
	<atom:link href="http://oryza.or.id/category/aqidah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://oryza.or.id</link>
	<description>Berilmu untuk Meraih Jannah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Oct 2009 13:37:14 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Apakah Doa Bisa Merubah Ketentuan?</title>
		<link>http://oryza.or.id/2009/06/apakah-doa-bisa-merubah-ketentuan/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2009/06/apakah-doa-bisa-merubah-ketentuan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 07:12:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=352</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Muhammad bin Shalih Al-&#8217;Utsaimin ditanya : &#8220;Apakah do&#8217;a berpengaruh merubah apa yang telah tertulis untuk manusia sebelum kejadian?&#8221;
Jawaban beliau
Tidak diragukan lagi bahwa do&#8217;a berpengaruh dalam merubah apa yang telah tertulis. Akan tetapi perubahan itupun sudah digariskan melalui do&#8217;a.
Janganlah anda menyangka bila anda berdo&#8217;a, berarti meminta sesuatu yang belum tertulis, bahkan do&#8217;a anda telah tertulis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-&#8217;Utsaimin ditanya : &#8220;Apakah do&#8217;a berpengaruh merubah apa yang telah tertulis untuk manusia sebelum kejadian?&#8221;</p>
<p>Jawaban beliau<br />
Tidak diragukan lagi bahwa do&#8217;a berpengaruh dalam merubah apa yang telah tertulis. Akan tetapi perubahan itupun sudah digariskan melalui do&#8217;a.</p>
<p>Janganlah anda menyangka bila anda berdo&#8217;a, berarti meminta sesuatu yang belum tertulis, bahkan do&#8217;a anda telah tertulis dan apa yang terjadi karenanya juga tertulis. Oleh karena itu, kita menemukan seseorang yang mendo&#8217;akan orang sakit, kemudian sembuh, juga kisah kelompok sahabat yang diutus nabi singgah bertamu kepada suatu kaum. Akan tetapi kaum tersebut tidak mau menjamu mereka. Kemudian Allah mentakdirkan seekor ular menggigit tuan mereka. Lalu mereka mencari orang yang bisa membaca do&#8217;a kepadanya (supaya sembuh). Kemudian para sahabat mengajukan persyaratan upah tertentu untuk hal tersebut. Kemudian mereka (kaum) memberikan sepotong kambing. Maka berangkatlah seorang dari sahabat untuk membacakan Al-Fatihah untuknya. Maka hilanglah racun tersebut seperti onta terlepas dari teralinya. Maka bacaan do&#8217;a tersebut berpengaruh menyembuhkan orang yang sakit.</p>
<p>Dengan demikian, do&#8217;a mempunyai pengaruh, namun tidak merubah Qadar. Akan tetapi kesembuhan tersebut telah tertulis dengan lantaran do&#8217;a yang juga telah tertulis. Segala sesuatu terjadi karena Qadar Allah, begitu juga segala sebab mempunyai pengaruh terhadap musabab-nya dengan izin Allah. Maka semua sebab telah tertulis dan semua musabab juga telah tertulis.</p>
<p>Sumber : Tanya Jawab Tentang Qadha dan Qadar, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin&#8217;, penerbit Pustaka At-Tibyan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2009/06/apakah-doa-bisa-merubah-ketentuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Empat Pertanyaan di Padang Mahsyar</title>
		<link>http://oryza.or.id/2009/02/empat-pertanyaan-di-padang-mahsyar/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2009/02/empat-pertanyaan-di-padang-mahsyar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Feb 2009 07:26:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Badan]]></category>
		<category><![CDATA[Harta]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Padang Masyar]]></category>
		<category><![CDATA[Umur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=329</guid>
		<description><![CDATA[Setiap muslim wajib mengimani hari akhir atau hari Kiamat. Bahkan hal itu merupakan rukun iman yang kelima. Di dalam hadits-hadits shahih diterangkan bahwa setelah dunia ini hancur, manusia yang di dalam kubur dibangkitkan dan semua akan dikumpulkan oleh Allah di padang Mahsyar. Siapkah kita menghadapi peristiwa tersebut? Apa saja yang akan terjadi pada saat itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap muslim wajib mengimani hari akhir atau hari Kiamat. Bahkan hal itu merupakan rukun iman yang kelima. Di dalam hadits-hadits shahih diterangkan bahwa setelah dunia ini hancur, manusia yang di dalam kubur dibangkitkan dan semua akan dikumpulkan oleh Allah di padang Mahsyar. Siapkah kita menghadapi peristiwa tersebut? Apa saja yang akan terjadi pada saat itu ?</p>
<p>Pada saat itu manusia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Ta&#8217;ala tentang segala macam yang telah dilakukan selama hidup di dunia ini. Pada hari itu tidak berguna harta, anak, tidak bermanfaat apa yang dibanggakan selama di dunia ini. Pada hari itu hanya ada penguasa tunggal yaitu Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala yang telah memberikan berbagai macam nikmat kepada manusia, kemudian Dia menyuruh menggunakan nikmat tersebut sebaik-baiknya dalam rangka mengabdi kepada-Nya. </p>
<p>Karena Allah yang telah mengaruniakan nikmat-nikmat itu kepada manusia, maka sangatlah wajar apabila Ia menanyakan kepada manusia untuk apa nikmat-nikmat itu digunakan.<br />
<span id="more-329"></span><br />
Dalam sebuah hadits, Rasululah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam bersabda : “Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba (menuju batas shiratul mustaqim) sehingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, ilmunya untuk apa ia amalkan , hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia habiskan dan badannya untuk apa ia gunakan” (Hadits Shahih Riwayat At Tirmidzi dan Ad Darimi)</p>
<p><strong>1. Umur </strong><br />
Umur adalah sesuatu yang tidak pernah lepas dari manusia. Bila kita berbicara tentang umur, maka berarti kita berbicara tentang waktu. Allah dalam Al Qur’an telah bersumpah dengan waktu “Demi masa” maksudnya agar manusia lebih memperhatikan waktu. Waktu yang diberikan Allah adalah 24 jam dalam sehari-semalam. Untuk apa kita gunakan waktu itu? Apakah waktu itu untuk beribadah atau untuk yang lain-lain yang sia-sia? </p>
<p>Diantara sebab-sebab kemunduran umat Islam ialah bahwa mereka tidak pandai menggunakan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat, sebagian besar waktunya untuk bergurau, bercanda, ngobrol tentang hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan terkadang membawa kepada perdebatan yng tidak berarti dan pertikaian. Sementara orang-orang kafir menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya, sehingga mereka maju dalam berbagai bidang kehidupan dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. </p>
<p>Keadaan umat Islam saat ini sangat memprihatinkan. Ada diantara mereka yang tidak mengerti ajaran agamanya dan ada yang tidak mengerti ilmu pengetahuan umum. Bahkan ada di antara mereka yang buta huruf baca tulis Al Qur’an. Bila kita mau meningkatkan iman dan amal, maka seharusnyalah kita bertanya kepada diri masing-masing; sudah berapa umur kita hari ini?, dan apa yang sudah kita ketahui tentang Islam?, apa pula yang sudah kita amalkan dari ajaran Islam ini? Janganlah kita termasuk orang yang merugi. </p>
<p><strong>2. Ilmu</strong><br />
Yang membedakan antara muslim dan kafir adalah ilmu dan amal. Orang muslim berbeda amaliahnya dengan orang kafir dalam segala hal, dari mulai kebersihan, berpakaian, berumah tangga, bermua’malah dan lain-lain. Seorang muslim diperintahkan oleh Allah dan RasulNya agar menuntut ilmu. Allah berfirman “Apakah sama orang yang tahu (berilmu) dengan yang tidak berilmu?” (QS. Az Zumar:9) </p>
<p>Ayat ini kendatipun berbentuk pertanyaan tetapi mengandung perintah untuk menuntut ilmu. Menuntut ilmu agama hukumnya wajib atas setiap individu muslim, misalnya tentang membersihkan najis. Berwudhu yang benar, cara shalat yang benar dan hal-hal yang dilaksanakan setiap hari. Karena bila ia tidak tahu, maka amalannya akan tertolak , dan Allah akan bertanya kepadanya kenapa ia mengikuti apa yang tidak ia ketahui, seperti dalam firmanNya : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya (QS. Al Isra’:36)</p>
<p>Ilmu yang sudah dipelajari oleh umat islam harus digunakan untuk kepentingan Islam. Ilmu yang sudah dituntut dan dipelajari wajib diamalkan menurut syari’at Islam. Ilmu tidak akan berarti apa-apa dalam hidup dan kehidupan manusia kecuali bila manusia mengamalkannya Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam bersabda : &#8220;Beramallah kamu (dengan ilmu yang ada) karena tiap-tiap orang dimudahkan menurut apa-apa yang Allah ciptakan atasnya” (HR. Muslim)</p>
<p><strong>3. Harta</strong><br />
Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam bersabda : &#8220;Bagi tiap-tiap umat itu fitnah dan sesungguhnya fitnah ummatku adalah harta” (HR. At Tirmidzi dan Hakim) </p>
<p>Harta pada hakikatnya adalah milik Allah. Harta adalah amanat Allah yang dilimpahkan kepada umat manusia agar dia mencari harta itu dengan halal, menggunakan harta itu pada tempat yang telah ditetapkan oleh syari’at islam. Bila kita amati keadaaan umat islam saat ini, banyak kita dapati diantara mereka yang tidak lagi peduli dengan cara mengumpulkan hartanya apakah dari jalan yang halal atau dari jalan yang haram. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah meramalkan hal ini dengan sabdanya “Nanti akan datang satu masa; di masa itu manusia tidak perduli dari mana harta itu ia peroleh, apakah dari yang halal ataukan dari yang haram” (HR. Al Bukhari). </p>
<p>Setiap muslim harus hati-hati dalam mencari mata pencaharian hidupnya kerena banyak manusia yang terdesak masalah ekonomi lalu ia menjadi kalut hingga tidak perduli lagi harta itu dari mana ia peroleh. Ada yang memperoleh harta dari usaha-usaha yang batil, misalnya hutang tidak dibayar, korupsi, riba, merampok, berjudi dan lain sebagainya. Orang yang mencari usaha dari yang haram akan mendapat siksa dari Allah, seperti disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam : “Barangsiapa yang dagingnya tumbuh dari barang yang haram, maka Neraka itu lebih patut baginya (sebagi tempat).&#8221; (HR. Al Hakim) </p>
<p>Harta yang kita dapat dengan cara yang halal harus pula kita infaqkan pada jalan yang benar pula. Bila tadi disebutkan bahwa harta itu milik Allah, maka wajib pula kita gunakan harta itu dalam rangka untuk menggakkan kalimat Allah di muka bumi ini. </p>
<p>Di dalam Al Qur’an ada delapan golongan yang berhak mendapat zakat, yaitu para fuqara (orang fikir), masakin (orang miskin), amil (pengurus) zakat, Mua’llaf (orang yang baru masuk islam), untuk membebaskan budak, orang-orang yang berhutang, untuk perjuangan jalan Allah dan orang yang sedang dalam perjalanan. Di masa-masa sekarang ini ada beberapa kelompok yang masuk prioritas utama yang berhak mendapat infaq dan shadaqah, yaitu golongan fuqara, masakin dan orang yang di jalan Allah. </p>
<p>Orang fakir adalah orang yang butuh tetapi tidak mempunyai pekerjaan sedangkan hidupnya digunakan untuk membantu agama Islam. Jadi orang fikir yang dibantu adalah orang yang memang hidupnya untuk berjuang di jalan Allah bukan pemalas yang tidak mau berusaha dan tidak melaksanakan syari’at Islam. Sedangkan orang miskin adalah orang yang berusaha tetapi usahanya hanya mencukupi kebutuhan minimalnya dalam keluarganya untuk makan sehari-hari.</p>
<p><strong>4. Badan</strong><br />
Manusia merupakan mahkuk yang paling sempurna yang diciptakan Allah dimuka bumi ini. Dengan kesempurnaan susunan tubuh serta akal fikiran yang diberikan Allah, manusia dijadikan sebagai khalifah di bumi, manusia dibebani taklif agar dapat melaksanakan fungsinya dengan baik. Jasmani manusia ini dituntut bekerja untuk melaksanakan fungsi khilafah dalam rangka mengabdi kepada Allah. Letihnya manusia dalam malaksanakan ibadah kepada Allah akan diganjar dengan pahala. Tetapi bila letihnya dalam rangka bermain-main, mengerjakan maksiat, perbuatan sia-sia, beribadah dengan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam, maka sia-sialah letihnya itu bahkan ada yang diganjar dengan api Neraka, karena mereka termasuk orang-orang yang celaka, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam :”Tiap-tiap amal (pekerjaan) ada masa-masa semangat, dan tiap–tiap masa semangat ada masa lelahnya maka barangsiapa lelah letihnya karena melaksanakan sunnahku, maka ia telah mendapatkan petunjuk, dan barangsiapa lelah letihnya bukan karena melaksanakan sunnahku, maka dia termasuk orang yang binasa” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi). </p>
<p>Demikianlah pada hari mahsyar masing-masing manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan yang telah dikerjakannya selama hidupnya di dunia. Sudah siapkah kita menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan kepada kita pada saat itu? Kalau belum kapan lagi kita mempersipkan diri kalau tidak sekarang? </p>
<p>Segala puji bagi Allah, Penguasa sekalian alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan atas nabi kita Muhammad, keluarganya dan para shahabatnya.</p>
<p>Disalin dari Pamflet Siapkah Anda Menghadapi Empat Pertanyaan di Padang Mahsyar? oleh Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas, Diterbitkan oleh Islamic Cultural Center Dammam</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2009/02/empat-pertanyaan-di-padang-mahsyar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sakaratul Maut dan Khusnul Khatimah</title>
		<link>http://oryza.or.id/2009/02/sakaratul-maut-dan-khusnul-khatimah/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2009/02/sakaratul-maut-dan-khusnul-khatimah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2009 07:08:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian]]></category>
		<category><![CDATA[Khusnul Khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[Sakratul Maut]]></category>
		<category><![CDATA[Su'ul Khatimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Abdurrahman ibn Abdil Ghaits
Orang yang meregang nyawa, di ambang pintu kematian mengalami rasa sakit yang bukan alang kepalang. Saat-saat kritis itulah yang disebut dengan sekarat atau sakratul maut.
Kematian yang wajar dan normal dapat dikenali dengan beberapa tanda. Di antara tanda-tanda datangnya kematian itu adalah:
1. Orang yang mau meninggal akan melihat malaikat maut. Jika dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Oleh: Abdurrahman ibn Abdil Ghaits</p>
<p>Orang yang meregang nyawa, di ambang pintu kematian mengalami rasa sakit yang bukan alang kepalang. Saat-saat kritis itulah yang disebut dengan sekarat atau sakratul maut.</p>
<p>Kematian yang wajar dan normal dapat dikenali dengan beberapa tanda. Di antara <strong>tanda-tanda datangnya kematian</strong> itu adalah:</p>
<p>1. Orang yang mau meninggal akan melihat malaikat maut. Jika dia termasuk calon orang yang berbahagia maka dia akan melihat malaikat maut dalam rupa yang bagus, dan melihat malaikat rahmat berwajah putih. Mereka membawa kafan dan tikar dari sorga. Mereka duduk dari padanya sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut seraya duduk di sisi kepalanya dan berkata: “Keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaan-Nya!” Adapun jika dia termasuk calon orang yang celaka, maka dia akan melihat malaikat maut dalam rupa yang lain, serta melihat malaikat adzab menghitam wajahnya. Mereka membawa kafan dan tikar dari api neraka. Kemudian datanglah malaikat maut seraya duduk di sisi kepalanya dan memberinya kabar gembira dengan kemurkaan Allah atasnya, dan dia melihat tempat duduknya di neraka. Berkatalah malaikat maut: “Keluarlah wahai jiwa yang keji, dan bergembiralah dengan kemurkaan dan kemarahan Allah!”<br />
<span id="more-196"></span><br />
2. Dengan keadaan yang demikian, saat orang yang mau meninggal melihat malaikat maut, diapun lemas, tidak bisa berkutik, mual, merasakan pedihnya sekarat, dan kesusahan, tidak mampu berkata-kata. Dia mendengar tapi tidak mampu menjawab, melihat tapi tidak mampu menerangkannya, hatipun kacau, detak jantung sudah tidak beraturan, kadang dia tersadar, kadang dia pingsan karena pedihnya sakaratul maut. Ya Allah, tolonglah kami atas sakaratul maut.</p>
<p><strong>Tanda-tanda yang menunjukkan seseorang itu telah meninggal:</strong><br />
1. Terbelalaknya mata, berdasarkan hadits Ummu Salamah, dia berkata : “Rasulullah masuk kepada Abu Salamah, sementara matanya telah terbelalak kemudian Nabi memejamkannya seraya bersabda: ”Sesungguhnya jika roh itu dicabut, mata akan mengikutinya….” (HR. Muslim dan Ahmad)<br />
2. Condongnya hidung kearah kanan atau kiri<br />
3. Kendur (terbuka)nya rahang bawah, karena kendurnya seluruh anggota tubuh secara umum.<br />
4. Diam dan berhentinya detak jantung.<br />
5. Mendinginnya seluruh tubuh secara umum.<br />
6. Merapatnya betis kanan dengan betis kiri, dan sebaliknya berdasarkan firman Allah : “Dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan).” (QS. al-Qiyamah: 29)</p>
<p><strong>Apa yang harus kita lakukan setelah kita yakin akan kematiannya?</strong><br />
1. Memejamkan kedua matanya<br />
2. Menutupkan mulutnya<br />
3. Melemaskan tulang-tulang persendian seketika, satu jam setelah kematiannya, untuk memudahkan pemindahan, pemandian dan pengkafanannya.<br />
4. Meletakkan pemberat yang sesuai di atas perutnya agar tidak menggelembung jika tidak disegerakan prosesi pemandiannya.<br />
5. Menutup seluruh lubang tubuh hingga diselenggarakan perawatannya.<br />
6. Mempercepat penyelenggaraan jenazah, berdasarkan sabda Nabi “Bersegeralah kalian (menyelenggarakan) jenazah, jika dia shalih, maka sebuah kebaikan telah kalian ajukan, jika selain itu maka sebuah keburukan yang kalian letakkan dari leher-leher kalian.” (HR. Bukhari)<br />
7. Bersegera membayarkan hutangnya, berdasarkan hadits Abu Hurairah dari Nabi beliau bersabda:”Jiwa seorang mukmin tergadaikan oleh hutangnya hingga dilunasi.” (HR. Turmudzi)</p>
<p><strong>Khusnul khatimah dan tanda-tandanya:</strong><br />
1. Hadits pertama dari Mu’adz, dia berkata, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa akhir ucapannya di dunia ini adalah Laa Ilaha Ilallah, dia masuk sorga.” (HR. Abu Dawud, dan al-Hakim)<br />
2. Hadits kedua dari Buraidah ibn Hushaib dia berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda: “Kematian seorang mukmin (ditandai dengan) keringat di dahi.” (HR. Ahmad, Nasa’i, Turmudzi dan lainnya)<br />
3. Hadits ketiga dari Abdullah ibn ‘Amr, dia berkata, Rasulullah bersabda: “Tidak ada seorang muslimpun yang meninggal pada hari jum’at atau malam jum’at melainkan dia akan dibebaskan dari siksa kubur.” (HR. Turmudzi)<br />
4. Dan di antara tanda khusnul khatimah adalah mati di saat menjalankan keta’atan kepada Allah dan rasul-Nya, seperti meninggal dalam keadaan shalat, atau puasa, atau haji, umrah atau dalam keadaan berjihad di jalan Allah atau dalam dakwah kepada Allah. Dan barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah, Dia akan memberinya taufik untuk beramal shalih kemudian mencabut nyawanya.<br />
5. Pujian baik oleh sekumpulan kaum muslimin atasnya, berdasarkan hadits Anas, dia berkata, (Para sahabat) pernah melewati sebuah jenazah, kemudian mereka memuji kebaikan atasnya. Maka Nabi bersabda: “Wajib.” Kemudian mereka melewati sebuah jenazah yang lain, lalu mereka mengutarakan keburukannya. Maka Nabi bersabda: “Wajib.” Maka Umar berkata: “Apa yang wajib?” Beliau bersabda:<br />
“Yang ini kalian menyebut baik atasnya, maka wajib baginya sorga, sementara yang itu kalian menyebut buruk atasnya maka wajib baginya neraka, kalian adalah saksi Allah di bumi-Nya.” (HR. Bukhari Muslim)<br />
6. Tanda-tanda yang bisa dilihat dari si mayit setelah kematiannya:<br />
a. Senyuman di wajah<br />
b. Terangkatnyajari telunjuk, yang menunjukkan syahadat tauhid<br />
c. Bersinar, dan bercahayanya wajah karena kegembiraan menerima kabar gembira yang didengarnya dari malaikat maut.</p>
<p><strong>Adapun tanda su’ul khatimah banyak dan bermacam-macam, di antaranya:</strong><br />
1. Mati di atas kesyirikan, atau meninggalkan shalat dengan meremehkan perintah-perintah Allah dan rasul-Nya, begitupula mereka yang mati saat mendengarkan nyanyian (musik), suara seruling, sinema, atau film komedi, dan mereka yang mati di atas perbuatan-perbuatan keji secara umum, begitupula yang mati dengan khamr (miras) dan narkoba.<br />
2. Di antara tanda yang tampak pada mayat setelah kematiannya adalah; murung, gelap dan menghitamnya wajah, karena kengerian yang dirasakan saat mendengar berita buruk tentang murka Allah dari malaikat maut. Kadang-kadang warna hitam ini menyelimuti seluruh tubuh -wal ‘iyadzu billah-.</p>
<p>Saya nasihatkan kepada orang-orang yang sembrono dalam menunaikan ibadah shalat —terutama yang meninggalkannya— agar segera bertaubat kepada Allah, dan segera menjaga shalat tersebut hingga mendapatkan kekhusyu’an di dalamnya. Dikarenakan shalat adalah tiang agama Islam, dan sesungguhnya (pembatas) antara seseorang dengan kekufuran adalah meninggalkan shalat sebagaimana suri tauladan dan Nabi kita Muhammad telah mengajarkan: “Perjanjian antara kita dan mereka (orang-orang munafik) adalah shalat, maka barangsiapa meninggalkannya, dia telah kufur.” (HR. Ahmad dan Malik)</p>
<p>Shalat adalah sebenar-benar perisai bagi pelakunya, dialah pencegah dari perbuatan keji dan munkar, Allah berfirman : “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)</p>
<p>Maka di manakah anda —mudah-mudahan Allah menjaga anda- dari perisai ini?! Di manakah anda dari sungai yang akan menghapus dosa-dosa anda sebanyak lima kali dalam sehari semalam ini? Bertaubatlah saudaraku sekarang juga, sebelum hilangnya kesempatan! Dan sebelum datangnya malaikat maut secara tiba-tiba. Dikarenakan panen dari sesuatu yang telah engkau tanam di dunia dimulai saat malaikat maut memerintahkan ruh untuk keluar darimu. Maka bercocok tanamlah kebaikan, engkau akan senang dengan hasilnya!</p>
<p>Adapun orang yang berpaling dari kebaikan ini, dan dia meninggalkan shalat, maka tanda-tanda su’ul khatimahnya adalah hitam yang menyelimuti seluruh tubuhnya saat jenazahnya dimandikan. Kita berlindung kepada Allah dari kehinaan.</p>
<p>(Abdurrahman ibn Abdil Ghaits; dalam Kitab Al-Wajiz fi Tajhizil Jinazah)</p>
<p>Disalin oleh oryza dari Qiblati edisi 02 tahun 02</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2009/02/sakaratul-maut-dan-khusnul-khatimah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Harus Tauhid</title>
		<link>http://oryza.or.id/2009/02/mengapa-harus-tauhid/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2009/02/mengapa-harus-tauhid/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2009 03:30:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[Melihat kondisi umat Islam yang kian hari makin memprihatinkan, muncullah pertanyaan bagi mereka yang punya semangat berdakwah, &#8220;Apa yang mesti didakwahkan?&#8221;
Jawabannya ternyata beragam. Ada yang memulai dengan ingin menegakkan pemerintahan Islami, kemudian terjun ke politik atau menyerukan penegakan hukum Islam dengan turun ke jalan-jalan. Ada lagi yang berpindah-pindah dari masjid ke masjid, yang katanya bertujuan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Melihat kondisi umat Islam yang kian hari makin memprihatinkan, muncullah pertanyaan bagi mereka yang punya semangat berdakwah, &#8220;Apa yang mesti didakwahkan?&#8221;</p>
<p>Jawabannya ternyata beragam. Ada yang memulai dengan ingin menegakkan pemerintahan Islami, kemudian terjun ke politik atau menyerukan penegakan hukum Islam dengan turun ke jalan-jalan. Ada lagi yang berpindah-pindah dari masjid ke masjid, yang katanya bertujuan untuk amar ma&#8217;ruf nahi munkar. Namun, umumnya mereka semua menghindari masalah pemurnian akidah, sebab dianggap akan merintangi dakwah dan mengganggu persatuan umat.</p>
<p><strong>MISI DAKWAH SEMUA RASUL</strong><br />
Jika kita mau menengok Al Quran, dalam surat Al A&#8217;raf saja akan terdapat beberapa ayat yang menyebutkan tentang misi dakwah para rasul. Di antaranya, &#8220;Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata, &#8216;Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).&#8217;&#8221; (Al A&#8217;raf: 59)<br />
<span id="more-214"></span><br />
&#8220;Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata, &#8216;Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?&#8217;&#8221; (Al A&#8217;raf: 65)</p>
<p>&#8220;Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu&#8217;aib. la berkata: &#8220;Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.&#8217;&#8221; (Al A&#8217;raf: 85)</p>
<p>Perhatikanlah, sekalipun umat para rasul itu berbeda-beda dan beragam pula permasalahnnya, akan tetapi dakwah kepada tauhid ini tetap menjadi dasar yang paling penting, baik yang mereka hadapi masalah ekonomi seperti kaum Madyan atau masalah politik. Karena mereka (umat tersebut) waktu itu tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah.</p>
<p><strong>RASULULLAH DAN TAUHID</strong><br />
Rasulullah sebagai panutan kita memberikan teladan mengenai bagaimana pentingnya perkara tauhid bagi umatnya. Terbukti dalam perjalanan hidupnya, beliau tak henti-henti memerhatikan dan mendakwahkan masalah ini.</p>
<p>Berkata Syeikh Mubarak Al-Maili &#8220;Nabi tidak henti-hentinya melarang manusia menjadikan patung-patung sebagai sekutu-sekutu bagi Allah, padahal beliau sendiri (di Mekah). Beliau tidak pernah melalaikan dakwah tauhid walaupun diboikot oleh beberapa kabilah suku Quraisy selama 3 tahun hingga mengalami kesulitan hidup.</p>
<p>Beliau tidak pernah melupakannya sekalipun sedang bersembunyi dari kejaran musuh yang berusaha keras mencarinya. Beliau tidak pernah berhenti membicarakan tauhid walaupun beliau telah memperoleh kemenangan di Madinah dan di antara para pembelanya.</p>
<p>Beliau tidak pernah berhenti menyelami dan membahasnya sekalipun kota Mekah telah dibuka dan ditundukkan. Beliau tidak lalai darinya mestipun sibuk berjihad, menyerang musuh, kemudian meraih kemenangan.</p>
<p>Beliau tidak mencukupkan dengan hanya mengajak dan meminta baiat para pengikutnya untuk tetap berjihad, tetapi lebih dari itu beliau mengingatkan mereka untuk mengembalikan kehormatan baiat tersebut dengan berjalan di atas tauhid dan menghapus kesyirikan. Inilah kisah perjalanan hidup yang ditempuh oleh beliau yang terekam dalam sejarah dan benar-benar merupakan kenyataan&#8230;&#8221;</p>
<p><strong>YANG PERTAMA KALI DIDAKWAHKAN</strong><br />
Rasulullah juga memberikan petunjuk kepada para juru dakwah agar tauhid menjadi prioritas utama. Ibnul Qayyim mengatakan bahwa tauhid merupakan kunci dakwah para rasul. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Muadz, Rasulullah bersabda kepada Mu&#8217;adz tatkala mengutusnya ke Yaman, &#8220;Sesungguhnya kamu akan mendatangi kaum ahli kitab, maka hendaknya dakwah pertama kali yang kamu sampaikan kepada mereka ialah syahadat &#8220;laa illaaha illallah&#8221; Dalam riwayat<br />
lain disebutkan, &#8220;Supaya mereka mentauhidkan Allah.&#8221; Jika mereka telah mematuhi apa yang kamu dakwahkan itu, maka sampaikanlah bahwa Allah mewajibkan kepada mereka salat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka untuk diberikan kepada orang-orang fakir. Jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan itu, maka jauhkanlah dirimu dari harta pilihan (yang baik-baik) mereka; dan jagalah dirimu dari doa orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tiada suatu penghalang pun antara doanya dengan Allah.&#8221; (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Oleh karena itu, jangan sampai cahaya tauhid ini menjadi padam, lantaran adanya anggapan bahwa tauhid telah bersemayam di hati setiap manusia. Cobalah perhatikan bagaimana Nabi Ibrahim, pemimpin orang-orang yang bertauhid, berdoa agar tidak jatuh dalam kesyirikan!</p>
<p>Inilah doanya, &#8220;Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata,&#8221;Ya Rabbku, jadikanlah negri ini (Mekah), negri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia.&#8221; (Ibrahim: 35-36)</p>
<p>Berkata Mughirah bin Miqsam, &#8220;Pernah Ibrahim At-Taimi berkata, &#8216;Siapakah orang yang merasa aman dari bencana terjatuh kepada syirik setelah Khalilullah Ibrahim, yang berkata, &#8216;Jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala?&#8217;&#8221; (Riwayat Ibnu Jarir di dalam Tafsir-nya)</p>
<p>Untuk itulah, sebagai seorang muslim yang baik kita seharusnya mencontoh Nabi baik dalam masalah dakwah maupun masalah lainnya. Bukannya mencari cara lain yang belum teruji keberhasilannya.</p>
<p>Sumber :<br />
Abdul Malik bin Ahmad Ramdhani, Sittu Duror (Landasan Membangun Jalan Selamat), Cet. I, Media Hidayah</p>
<p>Disalin dari Majalah Nikah Vol 5 No 1 April 2006</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2009/02/mengapa-harus-tauhid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penghapus Dosa-dosa</title>
		<link>http://oryza.or.id/2009/02/penghapus-dosa-dosa/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2009/02/penghapus-dosa-dosa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 02:49:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[Apa saja yang dapat dilakukan seorang hamba untuk menghapus dosa-dosanya? Tentu dengan bertobat dan banyak beramal shalih. Sebab amal-amal shalih bisa menghapuskan dosa-dosa kecil. Dan dengan tauhid yang benar, dapat menjadi sebab diampuninya dosa-dosa. Mengapa bisa demikian?
Itulah salah satu keutamaan tauhid, mampu menghapuskan dosa-dosa seorang hamba, sehingga merupakan sarana kebahagiaan seorang hamba di dunia dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa saja yang dapat dilakukan seorang hamba untuk menghapus dosa-dosanya? Tentu dengan bertobat dan banyak beramal shalih. Sebab amal-amal shalih bisa menghapuskan dosa-dosa kecil. Dan dengan <a href="http://oryza.or.id/2008/12/memahami-arti-tauhid/" target="_blank">tauhid</a> yang benar, dapat menjadi sebab diampuninya dosa-dosa. Mengapa bisa demikian?</p>
<p>Itulah salah satu keutamaan tauhid, mampu menghapuskan dosa-dosa seorang hamba, sehingga merupakan sarana kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhirat: Namun, tentu saja ada syarat yang harus dipenuhi bagi seorang muslim yang ingin mendapat keutamaan tadi.</p>
<p><strong>JAMINAN KEAMANAN</strong><br />
Allah Subhanahu wa ta&#8217;ala berfirman, &#8220;<em>Orang-orang yang beriman dan tidak menodai iman mereka dengan kezhaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat ketenteraman dan mereka itu adalah orang-orang yang menepati jalan hidayah</em>.&#8221; (Al-An&#8217;am: 82)<br />
<span id="more-218"></span><br />
Ayat inilah yang membuat para sahabat resah dan bertanya-tanya, karena siapakah yang tidak pernah berbuat zhalim? Hal itu dapat ditemukan dalam beberapa riwayat, salah satunya dari Ibnu Masud, dia berkata, &#8220;Ketika ayat ini turun, para sahabat bertanya-tanya, &#8216;Siapakah di antara kita yang tidak pernah menzlialimi dirinya. &#8216;Rasulullah pun bersabda, &#8216;Bukan seperti yang kamu maksud, tidakkah kamu perhatikan perkataan Luqman, &#8216;Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) benar-benar kezhaliman yang besar (Luqman: 31).&#8217;&#8221;</p>
<p>Mengapa syirik disebut kezhaliman? Karena syirik adalah perbuatan menempatkan suatu ibadah tidak pada tempatnya dan memberikannya kepada yang tidak berhak menerimanya.</p>
<p>Ibnu Katsir berkata menafsirkan surat Al-An&#8217;am: 82 , &#8220;Maksudnya, mereka adalah orang-orang yang memurnikan ibadah hanya kepada Allah saja. Mereka tidak menyekutukannya sama sekali. Mereka itulah orang-orang yang tentram pada hari kiamat dan mendapat petunjuk di dunia dan akhirat.&#8221;</p>
<p>Oleh karena itu, ayat tersebut memberikan kabar gembira berupa pemberian petunjuk dan jaminan keamanan dari siksa neraka bagi orang mukmin yang bertauhid dan tidak menodai imannya dengan syirik.</p>
<p><strong>TAK CUKUP DIUCAPKAN</strong><br />
Kita juga sudah tahu bahwa syirik merupakan lawan tauhid. Permasalahannya, banyak umat Islam yang mengaku bertauhid namun baru sebatas ucapan saja. Padahal, jika hanya sekadar itu tidaklah cukup membuat seseorang mendapat jaminan surga di ahirat kelak.</p>
<p>Sebab, makna sebenarnya dari kalimat tauhid yang biasa diucapkan seseorang yang ingin masuk Islam adalah melepaskan diri dari setiap sesembahan dan bersungguh-sungguh dalam mengkhususkan diri dengan semua jenis Ibadah hanya untuk Allah semata, serta melakukan ibadah-ibadah tersebut sesuai cara yang dicintai dan diridhai-Nya.</p>
<p>Jika seorang muslim belum mengerjakannya atau hanya melakukan beberapa saja dan dia juga beribadah Kepada selain Allah, berarti dirinya telah merusak ibadahnya sendiri. Sehingga persaksian tentang kalimat tauhid tersebut tiada lagi berguna baginya.</p>
<p>Untuk lebih jelasnya, coba perhatikan hadist Rasulullah berikut ini : Ubadah bin Shamit menuturkan, Rasulullah bersabda, &#8220;Barangsiapa bersyahadat, bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, dan bersyahadat bahwa Isa adalah hamba Allah, RasuLNya, dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam serta ruh dari-Nya, serta bersyahadat bahwa surga itu benar adanya dan neraka pun benar adanya, maka Allah pasti memasukkannya ke dalam surga, betapapun amal yang pernah dilakukannya.&#8221; (Riwayat Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula hadist dari Itban, &#8220;Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan &#8216;laa ilaaha illallah&#8217; dengan ikhlas semata-mata mengharap wajah Allah.&#8221;</p>
<p>Dari dua hadits tersebut, jelaslah bahwa seseorang tidak akan selamat dari api neraka dengan hanya mengucapkan kalimat &#8220;Laa ilaha illallah&#8221; saja. Orang yang beranggapan seperti itu berarti dia belum faham makna &#8220;Laa ilaha illallah&#8221;. Rasulullah bersabda, &#8220;Barang siapa mengucapkan &#8216;Laa ilaha illallah&#8217; dan mengingkari sesembahan selain Allah, haramlah harta dan darahnya, sedang hisab (perhitungan)nya adalah terserah kepada Allah.&#8221;</p>
<p>Hadits itu termasuk hal terpenting yang menjelaskan pengertian &#8220;Laa ilaha illallah&#8221;. Sebab apa yang dijadikan Rasulullah sebagai pelindung darah dan harta bukanlah sekadar mengucapkan kalimat &#8220;Laa ilaha illallah&#8221; itu, bukan pula dengan mengerti makna dan lafadznya, bukan pula dengan mengakui kebenaran kalimat tersebut, bahkan bukan juga tidak meminta kecuali kepada Allah saja, yang tiada sekutu bagi-Nya.</p>
<p>Akan tetapi tidaklah haram dan terlindung harta dan darahnya hingga dia menambahkan kepada pengucapan kalimat &#8220;Laa ilaha illallah&#8221; itu pengingkaran kepada segala sembahan selain Allah. Jika dia masih ragu atau bimbang, maka belumlah haram dan terlindung harta dan darahnya.</p>
<p>Rasulullah bersabda, &#8220;Allah berfirman, &#8216;Hai anak Adam, seandainya kamu datang kepadaku dengan dosa sepenuh bumi, sedangkan kamu ketika mati (berjumpa dengan-ku) berada dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-ku, niscaya aku akan memberikan kepadamu ampunan sepenuh bumi pula.&#8217;&#8221; (Riwayat At-Tirmidzi)</p>
<p>Nah, sudah seharusnya tauhid tersebut kita murnikan agar mendapatkan keistimewaannya yang mampu menghapuskan dosa-dosa.</p>
<p>Sumber:<br />
Syaikh Abdurrahman Hasan Alu Syaikh, Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid (edisi revisi), Cet. IV, Pustaka Azzam, Jakarta, 2003.</p>
<p>Diketik ulang dari Majalah Nikah Vol 5 No 2 Mei 2006</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2009/02/penghapus-dosa-dosa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dosa-dosa Besar (Al Kabair)</title>
		<link>http://oryza.or.id/2009/02/dosa-dosa-besar-al-kabair/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2009/02/dosa-dosa-besar-al-kabair/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Feb 2009 05:51:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[1. Syirik
2. Membunuh
3. Sihir
4. Meninggalkan Shalat
5. Tidak membayar zakat
6. Berbuka di Siang Hari pada bulan ramadhan tanpa udzur
7. Meninggalkan Haji Padahal Mampu
8. Mendurhakai Orangtua
9. Memutus Hubungan Kerabat
10. Zina

11. Liwath (Homoseks)
12. Riba
13. Memakan harta anak yatim dan menzhaliminya
14. Berbuat dusta terhadap Allah dan Rasulullah
15. Melarikan diri dari medan perang
16. Pemimpin penipu dan penganiaya rakyat
17. Sombong dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1. Syirik<br />
2. Membunuh<br />
3. Sihir<br />
4. Meninggalkan Shalat<br />
5. Tidak membayar zakat<br />
6. Berbuka di Siang Hari pada bulan ramadhan tanpa udzur<br />
7. Meninggalkan Haji Padahal Mampu<br />
8. Mendurhakai Orangtua<br />
9. Memutus Hubungan Kerabat<br />
10. Zina<br />
<span id="more-149"></span><br />
11. Liwath (Homoseks)<br />
12. Riba<br />
13. Memakan harta anak yatim dan menzhaliminya<br />
14. Berbuat dusta terhadap Allah dan Rasulullah<br />
15. Melarikan diri dari medan perang<br />
16. Pemimpin penipu dan penganiaya rakyat<br />
17. Sombong dan yang sejenisnya<br />
18. Kesaksian palsu<br />
19. Minum minuman keras<br />
20. Berjudi<br />
21. Menuduh wanita mukminah berbuat zina<br />
22. Ghulul terhadap harta ghanimah, baitul mal dan zakat<br />
23. Mencuri<br />
24. Menyamun<br />
25. Sumpah palsu<br />
26. Berbuat aniaya<br />
27. Memungut Cukai<br />
28. Memakan Barang Haram<br />
29. Bunuh diri<br />
30. Banyak berdusta<br />
31. Hakim yang jahat<br />
32. Menerima suap<br />
33. Perempuan yang menyerupai lelaki dan sebaliknya<br />
34. Lelaki yang membiarkan istrinya berbuat serong (dayyuts)<br />
35. Muhallil dan muhallil lahu<br />
36. Tidak menjaga dengan seksama terhadap air seni<br />
37. Riya&#8217;<br />
38. Menuntut ilmu untuk dunia dan menyembunyikan ilmu<br />
39. Khianat<br />
40. Mengungkit-ungkit pemberian<br />
41. Mendustakan takdir<br />
42. Menguping rahasia orang lain<br />
43. Namimah (mengadu domba)<br />
44. Banyak melaknat<br />
45. Menipu dan mengingkari janji<br />
46. Membenarkan dukun dan tukang ramal<br />
47. Durhaka kepada suami<br />
48. Menggambar dan melukis<br />
49. Memukul wajah, menjerit-jerit, merobek baju, menggunduli kepala dan bersumpah serapah di kala mengalami musibah<br />
50. Bertindak melampaui batas<br />
51. Bertindak semena-mena terhadap orang yang lemah, budak, istri, dan binatang<br />
52. Menyakiti tetangga<br />
53. Menyakiti orang-orang islam dan mencela mereka<br />
54. Menyakiti hamba Allah dan bertindak lalim terhadap mereka<br />
55. Isbal (menjulurkan kain di bawah mata kaki dengan sombong)<br />
56. Memakai kain sutera dan emas bagi kaum lelaki<br />
57. Budak yang melarikan diri dari tuannya<br />
58. Menyembelih karena selain Allah<br />
59. Menasabkan diri kepada selain bapaknya sediri<br />
60. Berdebat dan bersengketa<br />
61. Menahan kelebihan air dari orang yang memerlukan<br />
62. Mengurangi timbangan dan ukuran<br />
63. Merasa aman dari makar Allah<br />
64. Berputus asa dari rahmat Allah<br />
65. Meninggalkan shalat jamaah lalu mengerjakannya sendirian tanpa udzur<br />
66. Terus-menerus meninggalkan shalat jum&#8217;at dan shalat jamaah tanpa halangan<br />
67. Mendatangkan kerugian dalam wasiat<br />
68. Makar dan tipu daya<br />
69. Memata-matai orang islam dan membeberkan rahasia mereka<br />
70. Mencela salah seorang sahabat nabi</p>
<p>Disalin dari buku Dosa-dosa Besar oleh Imam Adz-Dzahabi. Penerbit : Pustaka Arafah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2009/02/dosa-dosa-besar-al-kabair/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Macam-macam Syirik</title>
		<link>http://oryza.or.id/2009/02/macam-macam-syirik/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2009/02/macam-macam-syirik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Feb 2009 00:41:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=156</guid>
		<description><![CDATA[Penyusun Ulang: Ummu Aufa
Muroja’ah: Ust. Abu Mushlih
Pembagian syirik ada berbagai macam tergantung dikelompokkan pada kelompok yang mana.
1. Syirik yang Terkait dengan Kekhususan Allah Ta’ala
a. Syirik di dalam Rububiyyah
Yaitu meyakini bahwa selain Allah mampu menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan atau mematikan dan lainnya dari sifat-sifat rububiyyah.
b. Syirik di dalam Uluhiyyah
Yaitu meyakini bahwa selain Allah bisa memberikan madharat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penyusun Ulang: Ummu Aufa<br />
Muroja’ah: Ust. Abu Mushlih</p>
<p>Pembagian syirik ada berbagai macam tergantung dikelompokkan pada kelompok yang mana.</p>
<p><strong>1. Syirik yang Terkait dengan Kekhususan Allah Ta’ala</strong><br />
a. Syirik di dalam Rububiyyah<br />
Yaitu meyakini bahwa selain Allah mampu menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan atau mematikan dan lainnya dari sifat-sifat rububiyyah.</p>
<p>b. Syirik di dalam Uluhiyyah<br />
Yaitu meyakini bahwa selain Allah bisa memberikan madharat atau manfaat, memberikan syafaat tanpa izin Allah, dan lainnya yang termasuk sifat-sifat uluhiyyah.</p>
<p>c. Syirik di dalam Asma’ wa Sifat<br />
Yaitu seorang meyakini bahwa sebagian makhluk Allah memiliki sifat-sifat khusus yang Allah ta’alla miliki, seperti mengetahui perkara gaib, dan sifat-sifat lainnya yang merupakan kekhususan Rabb kita yang Maha Suci.<br />
<span id="more-158"></span><br />
<strong>2. Syirik Menurut Kadarnya</strong></p>
<p>a. Syirik Akbar (besar)<br />
Yaitu syirik dalam keyakinan, dan hal ini mengeluarkan pelakunya dari agama islam.</p>
<p>- Syirik dalam berdoa<br />
Adalah merendahkan diri kepada selain Allah dengan tujuan untuk istighatsah dan isti’anah kepada selain-Nya.</p>
<p>- Syirik dalam niat, kehendak dan maksud<br />
Adalah manakala melakukan ibadah tersebut semata-mata ingin dilihat orang atau untuk kepentingan dunia semata.</p>
<p>- Syirik dalam keta’atan<br />
Yaitu menjadikan sesuatu sebagai pembuat syariat selain Allah Subhanahu wa Ta’ala atau menjadikan sesuatu sebagai sekutu bagi Allah dalam menjalankan syariat dan ridho atas hukum tersebut.</p>
<p>- Syirik dalam kecintaan<br />
Adalah mengambil makhluk sebagai tandingan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menyetarakan kecintaan makhluk dengan Allah.</p>
<p>b. Syirik Ashghar (kecil)<br />
Yaitu riya’, hal ini tidak mengeluarkan pelakunya dari agama islam, akan tetapi pelakunya wajib untuk bertaubat. Akan tetapi bukan hanya riya’ saja yang termasuk syirik Ashgar. Riya’ termasuk Syirik Ashghar namun tidak semua Syirik Ashghar hanya berupa riya’.</p>
<p>c. Syirik Khafi (tersembunyi)<br />
Yaitu seorang beramal dikarenakan keberadaan orang lain, hal ini pun termasuk riya’, dan hal ini tidak mengeluarkan pelakunya dari agama islam sebagaimana anda ketahui, namun pelakunya wajib bertaubat.</p>
<p><strong>3. Syirik Menurut Letak Terjadinya</strong><br />
a. Syirik I’tiqodi<br />
Syirik yang berupa keyakinan, misalnya meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan kita dan memberi rizki pada kita namun di sisi lain juga percaya bahwa dukun bisa mengubah takdir yang digariskan kepada kita. Hal ini termasuk Syirik Akbar yang mengeluarkan pelakunya dari agama islam, kita berlindung kepada Allah dari hal ini.</p>
<p>b. Syirik Amali<br />
Yaitu setiap amalan fisik yang dinilai oleh syari’at islam sebagai sebuah kesyirikan, seperti menyembelih untuk selain Allah, dan bernazar untuk selain Allah dan lainnya.</p>
<p>c. Syirik Lafzhi<br />
Yaitu setiap lafazh yang dihukumi oleh syari’at islam sebagai sebuah kesyirikan, seperti bersumpah dengan selain nama Allah, seperti perkataan sebagian orang, “Tidak ada bagiku kecuali Allah dan engkau”, dan “Aku bertawakal kepadamu”, “Kalau bukan karena Allah dan si fulan maka akan begini dan begitu”, dan lafazh-lafazh lainnya yang mengandung unsur kesyirikan.</p>
<p>Dengan mengetahui beberapa kategori syirik diatas dapat membantu kita untuk menghindarinya agar tidak terjatuh dalam kesyirikan dalam bentuk apapun dan cara bagaimana pun. Semoga kita semua bisa terhindar dari syirik tersebut di manapun dan kapan pun jua. Wallohu a’lam bishowab.</p>
<p>Maraji’:<br />
Penjelasan Al-Qaul Al-Mufid fii Adillati At-Tauhid (terj)</p>
<p>Sumber : http://muslimah.or.id/aqidah/macam-macam-syirik.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2009/02/macam-macam-syirik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memahami Arti Tauhid</title>
		<link>http://oryza.or.id/2008/12/memahami-arti-tauhid/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2008/12/memahami-arti-tauhid/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Dec 2008 07:17:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[Tauhid secara bahasa arab merupakan bentuk masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu saja. Syaikh Ibnu Sholeh Al Utsaimin berkata: “Makna ini tidak tepat kecuali diikuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu selain sesuatu yang kita jadikan satu saja, kemudian baru menetapkannya” (Lihat Syarh Tsalatsatil Ushul).
Secara istilah syar’i, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tauhid secara bahasa arab merupakan bentuk masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu saja. Syaikh Ibnu Sholeh Al Utsaimin berkata: “Makna ini tidak tepat kecuali diikuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu selain sesuatu yang kita jadikan satu saja, kemudian baru menetapkannya” (Lihat Syarh Tsalatsatil Ushul).</p>
<p>Secara istilah syar’i, makna tauhid adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususannya (Lihat Syarh Tsalatsatil Ushul). Dari makna ini sesungguhnya dapat dipahami bahwa sesungguh banyak hal yang dijadikan sesembahan oleh manusia, bisa jadi mereka menyembah Malaikat, menyembah para Nabi, menyembah orang-orang shalih atau bahkan makhluk Allah yang lain, namun seorang yang bertauhid hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan saja.</p>
<p><strong>Pembagian Tauhid</strong><br />
Dari hasil pengkajian terhadap dalil-dalil tauhid yang dilakukan para ulama sejak dahulu hingga sekarang, mereka menyimpulkan bahwa ada tauhid terbagi menjadi 3 aspek: Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Nama dan Sifat Allah.</p>
<p>Yang dimaksud dengan Tauhid Rububiyyah adalah mentauhidkan Allah dengan amalan dan penyataan yang tegas bahwa Allah Ta’ala adalah Tuhan, Raja, Pencipta semua makhluk. Dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka. (Lihat Al Jadid Syarh Kitab Tauhid). Meyakini rububiyah yaitu meyakini kekuasaan Allah dalam mencipta dan mengatur alam semesta, misalnya meyakini bumi dan langit serta isinya diciptakan oleh Allah, Allahlah yang memberikan rizqi, Allah yang mendatangkan badai dan hujan, Allah menggerakan bintang-bintang, dll. Di nyatakan dalam Al Qur’an:<br />
“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan Mengadakan gelap dan terang” (Al An’am: 1) <span id="more-133"></span></p>
<p>Dan perhatikanlah baik-baik, tauhid rububiyyah ini diyakini semua orang baik mukmin, maupun kafir, sejak dahulu hingga sekarang. Bahkan mereka menyembah dan beribadah kepada Allah. Hal ini dikhabarkan dalam Al Qur’an:<br />
“Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’Siapa yang telah menciptakan mereka?’, niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’ ”. (Az Zukhruf: 87)</p>
<p>Oleh karena itu kita dapati ayahanda dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bernama Abdullah,yang artinya hamba Allah. Padahal Abdullah diberi nama demikian, Rasulullah tentunya belum lahir.<br />
Adapun yang tidak mengimani rububiyah Allah adalah kaum komunis yang atheis. Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata: “Orang-orang komunis tidak mengakui adanya Tuhan. Dengan keyakinan mereka yang demikian, berarti mereka lebih kufur daripada orang-orang kafir jahiliyah” (Lihat Firqotun Najiyyah)<br />
Pertanyaan, jika orang kafir jahiliyyah sudah menyembah dan beribadah kepada Allah sejak dahulu, lalu apa yang diperjuangkan oleh Rasulullah dan para sahabat? Mengapa mereka berlelah-lelah penuh penderitaan dan mendapat banyak perlawanan dari kaum kafirin? Jawabannya, meski orang kafir jahilyyah beribadah kepada Allah mereka tidak bertauhid uluhiyyah kepada Allah, dan inilah yang diperjuangkan oleh Rasulullah dan para sahabat.</p>
<p>Tauhid Uluhiyyah adalah mentauhidkan Allah dalam segala bentuk peribadahan baik yang zhahir maupun batin (Lihat Al Jadid Syarh Kitab Tauhid). Dalilnya:<br />
“Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan” (Al Fatihah: 5)</p>
<p>Sedangkan makna ibadah adalah semua hal yang dicintai oleh Allah baik berupa perkataan maupun perbuatan. Apa maksud ‘yang dicintai Allah’? Yaitu segala sesuatu yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, segala sesuatu yang dijanjikan balasan kebaikan bila melakukannya. Seperti shalat, puasa, bershodaqoh, menyembelih. Termasuk ibadah juga berdoa, cinta, bertawakkal, istighotsah dan isti’anah. Maka seorang yang bertauhid uluhiyah hanya meyerahkan semua ibadah ini kepada Allah semata, dan tidak kepada yang lain. Sedangkan orang kafir jahiliyyah selain beribadah kepada Allah mereka juga memohon, berdoa, beristighotsah kepada selain Allah. Dan inilah yang diperangi Rasulullah, ini juga inti dari ajaran para Nabi dan Rasul seluruhnya, mendakwahkan tauhid uluhiyyah. Syaikh DR. Shalih Al Fauzan berkata: “Dari tiga bagian tauhid ini yang paling ditekankan adalah tauhid uluhiyah. Karena ini adalah misi dakwah para rasul, dan alas an diturunkannya kitab-kitab suci, dan alasan ditegakkannya jihad di jalan Allah. Semua itu adalah agar hanya Allah saja yang disembah, dan agar penghambaan kepada selainNya ditinggalkan” (Lihat Syarh Aqidah Ath Thahawiyah).</p>
<p>Maka perhatikanlah, sungguh aneh jika ada sekelompok ummat Islam yang sangat bersemangat menegakkan syariat, berjihad dan memerangi orang kafir, namun mereka tidak memiliki perhatian serius terhadap tauhid uluhiyyah. Padahal tujuan ditegakkan syariat, jihad adalah untuk ditegakkan tauhid uluhiyyah. Mereka memerangi orang kafir karena orang kafir tersebut tidak bertauhid uluhiyyah, sedangkan mereka sendiri tidak perhatian terhadap tauhid uluhiyyah??</p>
<p>Sedangkan Tauhid Nama dan Sifat Allah adalah mentauhidkan Allah Ta’ala dengan nama dan sifat yang telah Ia tetapkan bagi dirinya dalam Al Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Bertauhid nama dalam dan sifat Allah ialah dengan cara menetapkan nama dan sifat yang Allah tetapkan bagi dirinya dan menafikan nama dan sifat yang Allah nafikan dari dirinya, dengan tanpa tahrif, tanpa ta’thil dan tanpa takyif (Lihat Syarh Tsalatsatil Ushul). Allah Ta’ala berfirman yang artinya:<br />
“Hanya milik Allah nama-nama yang husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya” (Al A’raf: 180)</p>
<p>Tahrif adalah memalingkan makna ayat atau hadits tentang nama atau sifat Allah dari makna zhahirnya menjadi makna lain yang batil. Sebagai misalnya kata ‘istiwa’ yang artinya ‘bersemayam’ dipalingkan menjadi ‘menguasai’.</p>
<p>Ta’thil adalah mengingkari dan menolak sebagian sifat-sifat Allah. Sebagaimana sebagian orang yang menolak bahwa Allah berada di atas langit dan mereka berkata Allah berada di mana-mana.</p>
<p>Takyif adalah menggambarkan hakikat wujud Allah. Padahal Allah sama sekali tidak serupa dengan makhluknya, sehingga tidak ada makhluk yang mampu menggambarkan hakikat wujudnya. Misalnya sebagian orang berusaha menggambarkan bentuk tangan Allah,bentuk wajah Allah, dan lain-lain.</p>
<p>Adapun penyimpangan lain dalam tauhid asma wa sifat Allah adalah tasybih dan tafwidh.<br />
Tasybih adalah menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya. Padahal Allah berfirman yang artinya:<br />
“Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Lagi Maha Melihat” (Asy Syura: 11)</p>
<p>Kemudian tafwidh, yaitu tidak mau menetapkan pengertian sifat-sifat Allah, misalnya sebagian ora?g menolak bahwa Allah bersemayam (istiwa) di atas Arsy kemudian berkata ‘kita serahkan makna istiwa kepada Allah’. Pemahaman ini tidak benar karena Allah Ta’ala telah mengabarkan sifat-sifatNya dalam Qur’an dan Sunnah agar hamba-hambaNya mengetahui. Dan Allah telah mengabarkannya dengan bahasa Arab yang jelas dipahami. Maka jika kita berpemahaman tafwidh maka sama dengan menganggap perbuatan Allah mengabarkan sifat-sifatNya adalah sia-sia karena tidak dapat dipahami oleh hamba-Nya.</p>
<p><strong>Pentingnya mempelajari tauhid</strong><br />
Banyak orang yang mengaku Islam. Namun jika kita tanyakan kepada mereka, apa itu tauhid, bagaimana tauhid yang benar, maka sedikit sekali orang yang dapat menjawabnya. Sungguh ironis melihat realita orang-orang yang mengidolakan artis-artis atau pemain sepakbola saja begitu hafal dengan nama, hobi, alamat, sifat, bahkan keadaan mereka sehari-hari. Di sisi lain seseorang mengaku menyembah Allah namun ia tidak mengenal Allah yang disembahnya. Ia tidak tahu bagaimana sifat-sifat Allah, tidak tahu nama-nama Allah, tidak mengetahui apa hak-hak Allah yang wajib dipenuhinya. Yang akibatnya, ia tidak mentauhidkan Allah dengan benar dan terjerumus dalam perbuatan syirik. Wal’iyydzubillah. Maka sangat penting dan urgen bagi setiap muslim mempelajari tauhid yang benar, bahkan inilah ilmu yang paling utama. Syaikh Ibnu Utsaimin berkata: “Sesungguhnya ilmu tauhid adalah ilmu yang paling mulia dan paling agung kedudukannya. Setiap muslim wajib mempelajari, mengetahui, dan memahami ilmu tersebut, karena merupakan ilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentang asma-asma-Nya, sifat-sifat-Nya, dan hak-hak-Nya atas hamba-Nya” (Lihat Syarh Ushulil Iman).</p>
<p>Sumber : http://www.mii.fmipa.ugm.ac.id/new/2008/06/18/sudahkah-kita-memahami-apa-itu-tauhid/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2008/12/memahami-arti-tauhid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
