<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Raudhah Al Ilmi &#187; Artikel Islam</title>
	<atom:link href="http://oryza.or.id/category/artikel-islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://oryza.or.id</link>
	<description>Berilmu untuk Meraih Jannah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Oct 2009 13:37:14 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sakaratul Maut dan Khusnul Khatimah</title>
		<link>http://oryza.or.id/2009/02/sakaratul-maut-dan-khusnul-khatimah/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2009/02/sakaratul-maut-dan-khusnul-khatimah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2009 07:08:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian]]></category>
		<category><![CDATA[Khusnul Khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[Sakratul Maut]]></category>
		<category><![CDATA[Su'ul Khatimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Abdurrahman ibn Abdil Ghaits
Orang yang meregang nyawa, di ambang pintu kematian mengalami rasa sakit yang bukan alang kepalang. Saat-saat kritis itulah yang disebut dengan sekarat atau sakratul maut.
Kematian yang wajar dan normal dapat dikenali dengan beberapa tanda. Di antara tanda-tanda datangnya kematian itu adalah:
1. Orang yang mau meninggal akan melihat malaikat maut. Jika dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Oleh: Abdurrahman ibn Abdil Ghaits</p>
<p>Orang yang meregang nyawa, di ambang pintu kematian mengalami rasa sakit yang bukan alang kepalang. Saat-saat kritis itulah yang disebut dengan sekarat atau sakratul maut.</p>
<p>Kematian yang wajar dan normal dapat dikenali dengan beberapa tanda. Di antara <strong>tanda-tanda datangnya kematian</strong> itu adalah:</p>
<p>1. Orang yang mau meninggal akan melihat malaikat maut. Jika dia termasuk calon orang yang berbahagia maka dia akan melihat malaikat maut dalam rupa yang bagus, dan melihat malaikat rahmat berwajah putih. Mereka membawa kafan dan tikar dari sorga. Mereka duduk dari padanya sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut seraya duduk di sisi kepalanya dan berkata: “Keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaan-Nya!” Adapun jika dia termasuk calon orang yang celaka, maka dia akan melihat malaikat maut dalam rupa yang lain, serta melihat malaikat adzab menghitam wajahnya. Mereka membawa kafan dan tikar dari api neraka. Kemudian datanglah malaikat maut seraya duduk di sisi kepalanya dan memberinya kabar gembira dengan kemurkaan Allah atasnya, dan dia melihat tempat duduknya di neraka. Berkatalah malaikat maut: “Keluarlah wahai jiwa yang keji, dan bergembiralah dengan kemurkaan dan kemarahan Allah!”<br />
<span id="more-196"></span><br />
2. Dengan keadaan yang demikian, saat orang yang mau meninggal melihat malaikat maut, diapun lemas, tidak bisa berkutik, mual, merasakan pedihnya sekarat, dan kesusahan, tidak mampu berkata-kata. Dia mendengar tapi tidak mampu menjawab, melihat tapi tidak mampu menerangkannya, hatipun kacau, detak jantung sudah tidak beraturan, kadang dia tersadar, kadang dia pingsan karena pedihnya sakaratul maut. Ya Allah, tolonglah kami atas sakaratul maut.</p>
<p><strong>Tanda-tanda yang menunjukkan seseorang itu telah meninggal:</strong><br />
1. Terbelalaknya mata, berdasarkan hadits Ummu Salamah, dia berkata : “Rasulullah masuk kepada Abu Salamah, sementara matanya telah terbelalak kemudian Nabi memejamkannya seraya bersabda: ”Sesungguhnya jika roh itu dicabut, mata akan mengikutinya….” (HR. Muslim dan Ahmad)<br />
2. Condongnya hidung kearah kanan atau kiri<br />
3. Kendur (terbuka)nya rahang bawah, karena kendurnya seluruh anggota tubuh secara umum.<br />
4. Diam dan berhentinya detak jantung.<br />
5. Mendinginnya seluruh tubuh secara umum.<br />
6. Merapatnya betis kanan dengan betis kiri, dan sebaliknya berdasarkan firman Allah : “Dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan).” (QS. al-Qiyamah: 29)</p>
<p><strong>Apa yang harus kita lakukan setelah kita yakin akan kematiannya?</strong><br />
1. Memejamkan kedua matanya<br />
2. Menutupkan mulutnya<br />
3. Melemaskan tulang-tulang persendian seketika, satu jam setelah kematiannya, untuk memudahkan pemindahan, pemandian dan pengkafanannya.<br />
4. Meletakkan pemberat yang sesuai di atas perutnya agar tidak menggelembung jika tidak disegerakan prosesi pemandiannya.<br />
5. Menutup seluruh lubang tubuh hingga diselenggarakan perawatannya.<br />
6. Mempercepat penyelenggaraan jenazah, berdasarkan sabda Nabi “Bersegeralah kalian (menyelenggarakan) jenazah, jika dia shalih, maka sebuah kebaikan telah kalian ajukan, jika selain itu maka sebuah keburukan yang kalian letakkan dari leher-leher kalian.” (HR. Bukhari)<br />
7. Bersegera membayarkan hutangnya, berdasarkan hadits Abu Hurairah dari Nabi beliau bersabda:”Jiwa seorang mukmin tergadaikan oleh hutangnya hingga dilunasi.” (HR. Turmudzi)</p>
<p><strong>Khusnul khatimah dan tanda-tandanya:</strong><br />
1. Hadits pertama dari Mu’adz, dia berkata, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa akhir ucapannya di dunia ini adalah Laa Ilaha Ilallah, dia masuk sorga.” (HR. Abu Dawud, dan al-Hakim)<br />
2. Hadits kedua dari Buraidah ibn Hushaib dia berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda: “Kematian seorang mukmin (ditandai dengan) keringat di dahi.” (HR. Ahmad, Nasa’i, Turmudzi dan lainnya)<br />
3. Hadits ketiga dari Abdullah ibn ‘Amr, dia berkata, Rasulullah bersabda: “Tidak ada seorang muslimpun yang meninggal pada hari jum’at atau malam jum’at melainkan dia akan dibebaskan dari siksa kubur.” (HR. Turmudzi)<br />
4. Dan di antara tanda khusnul khatimah adalah mati di saat menjalankan keta’atan kepada Allah dan rasul-Nya, seperti meninggal dalam keadaan shalat, atau puasa, atau haji, umrah atau dalam keadaan berjihad di jalan Allah atau dalam dakwah kepada Allah. Dan barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah, Dia akan memberinya taufik untuk beramal shalih kemudian mencabut nyawanya.<br />
5. Pujian baik oleh sekumpulan kaum muslimin atasnya, berdasarkan hadits Anas, dia berkata, (Para sahabat) pernah melewati sebuah jenazah, kemudian mereka memuji kebaikan atasnya. Maka Nabi bersabda: “Wajib.” Kemudian mereka melewati sebuah jenazah yang lain, lalu mereka mengutarakan keburukannya. Maka Nabi bersabda: “Wajib.” Maka Umar berkata: “Apa yang wajib?” Beliau bersabda:<br />
“Yang ini kalian menyebut baik atasnya, maka wajib baginya sorga, sementara yang itu kalian menyebut buruk atasnya maka wajib baginya neraka, kalian adalah saksi Allah di bumi-Nya.” (HR. Bukhari Muslim)<br />
6. Tanda-tanda yang bisa dilihat dari si mayit setelah kematiannya:<br />
a. Senyuman di wajah<br />
b. Terangkatnyajari telunjuk, yang menunjukkan syahadat tauhid<br />
c. Bersinar, dan bercahayanya wajah karena kegembiraan menerima kabar gembira yang didengarnya dari malaikat maut.</p>
<p><strong>Adapun tanda su’ul khatimah banyak dan bermacam-macam, di antaranya:</strong><br />
1. Mati di atas kesyirikan, atau meninggalkan shalat dengan meremehkan perintah-perintah Allah dan rasul-Nya, begitupula mereka yang mati saat mendengarkan nyanyian (musik), suara seruling, sinema, atau film komedi, dan mereka yang mati di atas perbuatan-perbuatan keji secara umum, begitupula yang mati dengan khamr (miras) dan narkoba.<br />
2. Di antara tanda yang tampak pada mayat setelah kematiannya adalah; murung, gelap dan menghitamnya wajah, karena kengerian yang dirasakan saat mendengar berita buruk tentang murka Allah dari malaikat maut. Kadang-kadang warna hitam ini menyelimuti seluruh tubuh -wal ‘iyadzu billah-.</p>
<p>Saya nasihatkan kepada orang-orang yang sembrono dalam menunaikan ibadah shalat —terutama yang meninggalkannya— agar segera bertaubat kepada Allah, dan segera menjaga shalat tersebut hingga mendapatkan kekhusyu’an di dalamnya. Dikarenakan shalat adalah tiang agama Islam, dan sesungguhnya (pembatas) antara seseorang dengan kekufuran adalah meninggalkan shalat sebagaimana suri tauladan dan Nabi kita Muhammad telah mengajarkan: “Perjanjian antara kita dan mereka (orang-orang munafik) adalah shalat, maka barangsiapa meninggalkannya, dia telah kufur.” (HR. Ahmad dan Malik)</p>
<p>Shalat adalah sebenar-benar perisai bagi pelakunya, dialah pencegah dari perbuatan keji dan munkar, Allah berfirman : “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)</p>
<p>Maka di manakah anda —mudah-mudahan Allah menjaga anda- dari perisai ini?! Di manakah anda dari sungai yang akan menghapus dosa-dosa anda sebanyak lima kali dalam sehari semalam ini? Bertaubatlah saudaraku sekarang juga, sebelum hilangnya kesempatan! Dan sebelum datangnya malaikat maut secara tiba-tiba. Dikarenakan panen dari sesuatu yang telah engkau tanam di dunia dimulai saat malaikat maut memerintahkan ruh untuk keluar darimu. Maka bercocok tanamlah kebaikan, engkau akan senang dengan hasilnya!</p>
<p>Adapun orang yang berpaling dari kebaikan ini, dan dia meninggalkan shalat, maka tanda-tanda su’ul khatimahnya adalah hitam yang menyelimuti seluruh tubuhnya saat jenazahnya dimandikan. Kita berlindung kepada Allah dari kehinaan.</p>
<p>(Abdurrahman ibn Abdil Ghaits; dalam Kitab Al-Wajiz fi Tajhizil Jinazah)</p>
<p>Disalin oleh oryza dari Qiblati edisi 02 tahun 02</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2009/02/sakaratul-maut-dan-khusnul-khatimah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Harus Tauhid</title>
		<link>http://oryza.or.id/2009/02/mengapa-harus-tauhid/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2009/02/mengapa-harus-tauhid/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2009 03:30:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[Melihat kondisi umat Islam yang kian hari makin memprihatinkan, muncullah pertanyaan bagi mereka yang punya semangat berdakwah, &#8220;Apa yang mesti didakwahkan?&#8221;
Jawabannya ternyata beragam. Ada yang memulai dengan ingin menegakkan pemerintahan Islami, kemudian terjun ke politik atau menyerukan penegakan hukum Islam dengan turun ke jalan-jalan. Ada lagi yang berpindah-pindah dari masjid ke masjid, yang katanya bertujuan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Melihat kondisi umat Islam yang kian hari makin memprihatinkan, muncullah pertanyaan bagi mereka yang punya semangat berdakwah, &#8220;Apa yang mesti didakwahkan?&#8221;</p>
<p>Jawabannya ternyata beragam. Ada yang memulai dengan ingin menegakkan pemerintahan Islami, kemudian terjun ke politik atau menyerukan penegakan hukum Islam dengan turun ke jalan-jalan. Ada lagi yang berpindah-pindah dari masjid ke masjid, yang katanya bertujuan untuk amar ma&#8217;ruf nahi munkar. Namun, umumnya mereka semua menghindari masalah pemurnian akidah, sebab dianggap akan merintangi dakwah dan mengganggu persatuan umat.</p>
<p><strong>MISI DAKWAH SEMUA RASUL</strong><br />
Jika kita mau menengok Al Quran, dalam surat Al A&#8217;raf saja akan terdapat beberapa ayat yang menyebutkan tentang misi dakwah para rasul. Di antaranya, &#8220;Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata, &#8216;Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).&#8217;&#8221; (Al A&#8217;raf: 59)<br />
<span id="more-214"></span><br />
&#8220;Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata, &#8216;Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?&#8217;&#8221; (Al A&#8217;raf: 65)</p>
<p>&#8220;Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu&#8217;aib. la berkata: &#8220;Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.&#8217;&#8221; (Al A&#8217;raf: 85)</p>
<p>Perhatikanlah, sekalipun umat para rasul itu berbeda-beda dan beragam pula permasalahnnya, akan tetapi dakwah kepada tauhid ini tetap menjadi dasar yang paling penting, baik yang mereka hadapi masalah ekonomi seperti kaum Madyan atau masalah politik. Karena mereka (umat tersebut) waktu itu tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah.</p>
<p><strong>RASULULLAH DAN TAUHID</strong><br />
Rasulullah sebagai panutan kita memberikan teladan mengenai bagaimana pentingnya perkara tauhid bagi umatnya. Terbukti dalam perjalanan hidupnya, beliau tak henti-henti memerhatikan dan mendakwahkan masalah ini.</p>
<p>Berkata Syeikh Mubarak Al-Maili &#8220;Nabi tidak henti-hentinya melarang manusia menjadikan patung-patung sebagai sekutu-sekutu bagi Allah, padahal beliau sendiri (di Mekah). Beliau tidak pernah melalaikan dakwah tauhid walaupun diboikot oleh beberapa kabilah suku Quraisy selama 3 tahun hingga mengalami kesulitan hidup.</p>
<p>Beliau tidak pernah melupakannya sekalipun sedang bersembunyi dari kejaran musuh yang berusaha keras mencarinya. Beliau tidak pernah berhenti membicarakan tauhid walaupun beliau telah memperoleh kemenangan di Madinah dan di antara para pembelanya.</p>
<p>Beliau tidak pernah berhenti menyelami dan membahasnya sekalipun kota Mekah telah dibuka dan ditundukkan. Beliau tidak lalai darinya mestipun sibuk berjihad, menyerang musuh, kemudian meraih kemenangan.</p>
<p>Beliau tidak mencukupkan dengan hanya mengajak dan meminta baiat para pengikutnya untuk tetap berjihad, tetapi lebih dari itu beliau mengingatkan mereka untuk mengembalikan kehormatan baiat tersebut dengan berjalan di atas tauhid dan menghapus kesyirikan. Inilah kisah perjalanan hidup yang ditempuh oleh beliau yang terekam dalam sejarah dan benar-benar merupakan kenyataan&#8230;&#8221;</p>
<p><strong>YANG PERTAMA KALI DIDAKWAHKAN</strong><br />
Rasulullah juga memberikan petunjuk kepada para juru dakwah agar tauhid menjadi prioritas utama. Ibnul Qayyim mengatakan bahwa tauhid merupakan kunci dakwah para rasul. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Muadz, Rasulullah bersabda kepada Mu&#8217;adz tatkala mengutusnya ke Yaman, &#8220;Sesungguhnya kamu akan mendatangi kaum ahli kitab, maka hendaknya dakwah pertama kali yang kamu sampaikan kepada mereka ialah syahadat &#8220;laa illaaha illallah&#8221; Dalam riwayat<br />
lain disebutkan, &#8220;Supaya mereka mentauhidkan Allah.&#8221; Jika mereka telah mematuhi apa yang kamu dakwahkan itu, maka sampaikanlah bahwa Allah mewajibkan kepada mereka salat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka untuk diberikan kepada orang-orang fakir. Jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan itu, maka jauhkanlah dirimu dari harta pilihan (yang baik-baik) mereka; dan jagalah dirimu dari doa orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tiada suatu penghalang pun antara doanya dengan Allah.&#8221; (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Oleh karena itu, jangan sampai cahaya tauhid ini menjadi padam, lantaran adanya anggapan bahwa tauhid telah bersemayam di hati setiap manusia. Cobalah perhatikan bagaimana Nabi Ibrahim, pemimpin orang-orang yang bertauhid, berdoa agar tidak jatuh dalam kesyirikan!</p>
<p>Inilah doanya, &#8220;Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata,&#8221;Ya Rabbku, jadikanlah negri ini (Mekah), negri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia.&#8221; (Ibrahim: 35-36)</p>
<p>Berkata Mughirah bin Miqsam, &#8220;Pernah Ibrahim At-Taimi berkata, &#8216;Siapakah orang yang merasa aman dari bencana terjatuh kepada syirik setelah Khalilullah Ibrahim, yang berkata, &#8216;Jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala?&#8217;&#8221; (Riwayat Ibnu Jarir di dalam Tafsir-nya)</p>
<p>Untuk itulah, sebagai seorang muslim yang baik kita seharusnya mencontoh Nabi baik dalam masalah dakwah maupun masalah lainnya. Bukannya mencari cara lain yang belum teruji keberhasilannya.</p>
<p>Sumber :<br />
Abdul Malik bin Ahmad Ramdhani, Sittu Duror (Landasan Membangun Jalan Selamat), Cet. I, Media Hidayah</p>
<p>Disalin dari Majalah Nikah Vol 5 No 1 April 2006</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2009/02/mengapa-harus-tauhid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penghapus Dosa-dosa</title>
		<link>http://oryza.or.id/2009/02/penghapus-dosa-dosa/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2009/02/penghapus-dosa-dosa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 02:49:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[Apa saja yang dapat dilakukan seorang hamba untuk menghapus dosa-dosanya? Tentu dengan bertobat dan banyak beramal shalih. Sebab amal-amal shalih bisa menghapuskan dosa-dosa kecil. Dan dengan tauhid yang benar, dapat menjadi sebab diampuninya dosa-dosa. Mengapa bisa demikian?
Itulah salah satu keutamaan tauhid, mampu menghapuskan dosa-dosa seorang hamba, sehingga merupakan sarana kebahagiaan seorang hamba di dunia dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa saja yang dapat dilakukan seorang hamba untuk menghapus dosa-dosanya? Tentu dengan bertobat dan banyak beramal shalih. Sebab amal-amal shalih bisa menghapuskan dosa-dosa kecil. Dan dengan <a href="http://oryza.or.id/2008/12/memahami-arti-tauhid/" target="_blank">tauhid</a> yang benar, dapat menjadi sebab diampuninya dosa-dosa. Mengapa bisa demikian?</p>
<p>Itulah salah satu keutamaan tauhid, mampu menghapuskan dosa-dosa seorang hamba, sehingga merupakan sarana kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhirat: Namun, tentu saja ada syarat yang harus dipenuhi bagi seorang muslim yang ingin mendapat keutamaan tadi.</p>
<p><strong>JAMINAN KEAMANAN</strong><br />
Allah Subhanahu wa ta&#8217;ala berfirman, &#8220;<em>Orang-orang yang beriman dan tidak menodai iman mereka dengan kezhaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat ketenteraman dan mereka itu adalah orang-orang yang menepati jalan hidayah</em>.&#8221; (Al-An&#8217;am: 82)<br />
<span id="more-218"></span><br />
Ayat inilah yang membuat para sahabat resah dan bertanya-tanya, karena siapakah yang tidak pernah berbuat zhalim? Hal itu dapat ditemukan dalam beberapa riwayat, salah satunya dari Ibnu Masud, dia berkata, &#8220;Ketika ayat ini turun, para sahabat bertanya-tanya, &#8216;Siapakah di antara kita yang tidak pernah menzlialimi dirinya. &#8216;Rasulullah pun bersabda, &#8216;Bukan seperti yang kamu maksud, tidakkah kamu perhatikan perkataan Luqman, &#8216;Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) benar-benar kezhaliman yang besar (Luqman: 31).&#8217;&#8221;</p>
<p>Mengapa syirik disebut kezhaliman? Karena syirik adalah perbuatan menempatkan suatu ibadah tidak pada tempatnya dan memberikannya kepada yang tidak berhak menerimanya.</p>
<p>Ibnu Katsir berkata menafsirkan surat Al-An&#8217;am: 82 , &#8220;Maksudnya, mereka adalah orang-orang yang memurnikan ibadah hanya kepada Allah saja. Mereka tidak menyekutukannya sama sekali. Mereka itulah orang-orang yang tentram pada hari kiamat dan mendapat petunjuk di dunia dan akhirat.&#8221;</p>
<p>Oleh karena itu, ayat tersebut memberikan kabar gembira berupa pemberian petunjuk dan jaminan keamanan dari siksa neraka bagi orang mukmin yang bertauhid dan tidak menodai imannya dengan syirik.</p>
<p><strong>TAK CUKUP DIUCAPKAN</strong><br />
Kita juga sudah tahu bahwa syirik merupakan lawan tauhid. Permasalahannya, banyak umat Islam yang mengaku bertauhid namun baru sebatas ucapan saja. Padahal, jika hanya sekadar itu tidaklah cukup membuat seseorang mendapat jaminan surga di ahirat kelak.</p>
<p>Sebab, makna sebenarnya dari kalimat tauhid yang biasa diucapkan seseorang yang ingin masuk Islam adalah melepaskan diri dari setiap sesembahan dan bersungguh-sungguh dalam mengkhususkan diri dengan semua jenis Ibadah hanya untuk Allah semata, serta melakukan ibadah-ibadah tersebut sesuai cara yang dicintai dan diridhai-Nya.</p>
<p>Jika seorang muslim belum mengerjakannya atau hanya melakukan beberapa saja dan dia juga beribadah Kepada selain Allah, berarti dirinya telah merusak ibadahnya sendiri. Sehingga persaksian tentang kalimat tauhid tersebut tiada lagi berguna baginya.</p>
<p>Untuk lebih jelasnya, coba perhatikan hadist Rasulullah berikut ini : Ubadah bin Shamit menuturkan, Rasulullah bersabda, &#8220;Barangsiapa bersyahadat, bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, dan bersyahadat bahwa Isa adalah hamba Allah, RasuLNya, dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam serta ruh dari-Nya, serta bersyahadat bahwa surga itu benar adanya dan neraka pun benar adanya, maka Allah pasti memasukkannya ke dalam surga, betapapun amal yang pernah dilakukannya.&#8221; (Riwayat Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula hadist dari Itban, &#8220;Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan &#8216;laa ilaaha illallah&#8217; dengan ikhlas semata-mata mengharap wajah Allah.&#8221;</p>
<p>Dari dua hadits tersebut, jelaslah bahwa seseorang tidak akan selamat dari api neraka dengan hanya mengucapkan kalimat &#8220;Laa ilaha illallah&#8221; saja. Orang yang beranggapan seperti itu berarti dia belum faham makna &#8220;Laa ilaha illallah&#8221;. Rasulullah bersabda, &#8220;Barang siapa mengucapkan &#8216;Laa ilaha illallah&#8217; dan mengingkari sesembahan selain Allah, haramlah harta dan darahnya, sedang hisab (perhitungan)nya adalah terserah kepada Allah.&#8221;</p>
<p>Hadits itu termasuk hal terpenting yang menjelaskan pengertian &#8220;Laa ilaha illallah&#8221;. Sebab apa yang dijadikan Rasulullah sebagai pelindung darah dan harta bukanlah sekadar mengucapkan kalimat &#8220;Laa ilaha illallah&#8221; itu, bukan pula dengan mengerti makna dan lafadznya, bukan pula dengan mengakui kebenaran kalimat tersebut, bahkan bukan juga tidak meminta kecuali kepada Allah saja, yang tiada sekutu bagi-Nya.</p>
<p>Akan tetapi tidaklah haram dan terlindung harta dan darahnya hingga dia menambahkan kepada pengucapan kalimat &#8220;Laa ilaha illallah&#8221; itu pengingkaran kepada segala sembahan selain Allah. Jika dia masih ragu atau bimbang, maka belumlah haram dan terlindung harta dan darahnya.</p>
<p>Rasulullah bersabda, &#8220;Allah berfirman, &#8216;Hai anak Adam, seandainya kamu datang kepadaku dengan dosa sepenuh bumi, sedangkan kamu ketika mati (berjumpa dengan-ku) berada dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-ku, niscaya aku akan memberikan kepadamu ampunan sepenuh bumi pula.&#8217;&#8221; (Riwayat At-Tirmidzi)</p>
<p>Nah, sudah seharusnya tauhid tersebut kita murnikan agar mendapatkan keistimewaannya yang mampu menghapuskan dosa-dosa.</p>
<p>Sumber:<br />
Syaikh Abdurrahman Hasan Alu Syaikh, Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid (edisi revisi), Cet. IV, Pustaka Azzam, Jakarta, 2003.</p>
<p>Diketik ulang dari Majalah Nikah Vol 5 No 2 Mei 2006</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2009/02/penghapus-dosa-dosa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dosa-dosa Besar (Al Kabair)</title>
		<link>http://oryza.or.id/2009/02/dosa-dosa-besar-al-kabair/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2009/02/dosa-dosa-besar-al-kabair/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Feb 2009 05:51:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[1. Syirik
2. Membunuh
3. Sihir
4. Meninggalkan Shalat
5. Tidak membayar zakat
6. Berbuka di Siang Hari pada bulan ramadhan tanpa udzur
7. Meninggalkan Haji Padahal Mampu
8. Mendurhakai Orangtua
9. Memutus Hubungan Kerabat
10. Zina

11. Liwath (Homoseks)
12. Riba
13. Memakan harta anak yatim dan menzhaliminya
14. Berbuat dusta terhadap Allah dan Rasulullah
15. Melarikan diri dari medan perang
16. Pemimpin penipu dan penganiaya rakyat
17. Sombong dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1. Syirik<br />
2. Membunuh<br />
3. Sihir<br />
4. Meninggalkan Shalat<br />
5. Tidak membayar zakat<br />
6. Berbuka di Siang Hari pada bulan ramadhan tanpa udzur<br />
7. Meninggalkan Haji Padahal Mampu<br />
8. Mendurhakai Orangtua<br />
9. Memutus Hubungan Kerabat<br />
10. Zina<br />
<span id="more-149"></span><br />
11. Liwath (Homoseks)<br />
12. Riba<br />
13. Memakan harta anak yatim dan menzhaliminya<br />
14. Berbuat dusta terhadap Allah dan Rasulullah<br />
15. Melarikan diri dari medan perang<br />
16. Pemimpin penipu dan penganiaya rakyat<br />
17. Sombong dan yang sejenisnya<br />
18. Kesaksian palsu<br />
19. Minum minuman keras<br />
20. Berjudi<br />
21. Menuduh wanita mukminah berbuat zina<br />
22. Ghulul terhadap harta ghanimah, baitul mal dan zakat<br />
23. Mencuri<br />
24. Menyamun<br />
25. Sumpah palsu<br />
26. Berbuat aniaya<br />
27. Memungut Cukai<br />
28. Memakan Barang Haram<br />
29. Bunuh diri<br />
30. Banyak berdusta<br />
31. Hakim yang jahat<br />
32. Menerima suap<br />
33. Perempuan yang menyerupai lelaki dan sebaliknya<br />
34. Lelaki yang membiarkan istrinya berbuat serong (dayyuts)<br />
35. Muhallil dan muhallil lahu<br />
36. Tidak menjaga dengan seksama terhadap air seni<br />
37. Riya&#8217;<br />
38. Menuntut ilmu untuk dunia dan menyembunyikan ilmu<br />
39. Khianat<br />
40. Mengungkit-ungkit pemberian<br />
41. Mendustakan takdir<br />
42. Menguping rahasia orang lain<br />
43. Namimah (mengadu domba)<br />
44. Banyak melaknat<br />
45. Menipu dan mengingkari janji<br />
46. Membenarkan dukun dan tukang ramal<br />
47. Durhaka kepada suami<br />
48. Menggambar dan melukis<br />
49. Memukul wajah, menjerit-jerit, merobek baju, menggunduli kepala dan bersumpah serapah di kala mengalami musibah<br />
50. Bertindak melampaui batas<br />
51. Bertindak semena-mena terhadap orang yang lemah, budak, istri, dan binatang<br />
52. Menyakiti tetangga<br />
53. Menyakiti orang-orang islam dan mencela mereka<br />
54. Menyakiti hamba Allah dan bertindak lalim terhadap mereka<br />
55. Isbal (menjulurkan kain di bawah mata kaki dengan sombong)<br />
56. Memakai kain sutera dan emas bagi kaum lelaki<br />
57. Budak yang melarikan diri dari tuannya<br />
58. Menyembelih karena selain Allah<br />
59. Menasabkan diri kepada selain bapaknya sediri<br />
60. Berdebat dan bersengketa<br />
61. Menahan kelebihan air dari orang yang memerlukan<br />
62. Mengurangi timbangan dan ukuran<br />
63. Merasa aman dari makar Allah<br />
64. Berputus asa dari rahmat Allah<br />
65. Meninggalkan shalat jamaah lalu mengerjakannya sendirian tanpa udzur<br />
66. Terus-menerus meninggalkan shalat jum&#8217;at dan shalat jamaah tanpa halangan<br />
67. Mendatangkan kerugian dalam wasiat<br />
68. Makar dan tipu daya<br />
69. Memata-matai orang islam dan membeberkan rahasia mereka<br />
70. Mencela salah seorang sahabat nabi</p>
<p>Disalin dari buku Dosa-dosa Besar oleh Imam Adz-Dzahabi. Penerbit : Pustaka Arafah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2009/02/dosa-dosa-besar-al-kabair/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Macam-macam Syirik</title>
		<link>http://oryza.or.id/2009/02/macam-macam-syirik/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2009/02/macam-macam-syirik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Feb 2009 00:41:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=156</guid>
		<description><![CDATA[Penyusun Ulang: Ummu Aufa
Muroja’ah: Ust. Abu Mushlih
Pembagian syirik ada berbagai macam tergantung dikelompokkan pada kelompok yang mana.
1. Syirik yang Terkait dengan Kekhususan Allah Ta’ala
a. Syirik di dalam Rububiyyah
Yaitu meyakini bahwa selain Allah mampu menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan atau mematikan dan lainnya dari sifat-sifat rububiyyah.
b. Syirik di dalam Uluhiyyah
Yaitu meyakini bahwa selain Allah bisa memberikan madharat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penyusun Ulang: Ummu Aufa<br />
Muroja’ah: Ust. Abu Mushlih</p>
<p>Pembagian syirik ada berbagai macam tergantung dikelompokkan pada kelompok yang mana.</p>
<p><strong>1. Syirik yang Terkait dengan Kekhususan Allah Ta’ala</strong><br />
a. Syirik di dalam Rububiyyah<br />
Yaitu meyakini bahwa selain Allah mampu menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan atau mematikan dan lainnya dari sifat-sifat rububiyyah.</p>
<p>b. Syirik di dalam Uluhiyyah<br />
Yaitu meyakini bahwa selain Allah bisa memberikan madharat atau manfaat, memberikan syafaat tanpa izin Allah, dan lainnya yang termasuk sifat-sifat uluhiyyah.</p>
<p>c. Syirik di dalam Asma’ wa Sifat<br />
Yaitu seorang meyakini bahwa sebagian makhluk Allah memiliki sifat-sifat khusus yang Allah ta’alla miliki, seperti mengetahui perkara gaib, dan sifat-sifat lainnya yang merupakan kekhususan Rabb kita yang Maha Suci.<br />
<span id="more-158"></span><br />
<strong>2. Syirik Menurut Kadarnya</strong></p>
<p>a. Syirik Akbar (besar)<br />
Yaitu syirik dalam keyakinan, dan hal ini mengeluarkan pelakunya dari agama islam.</p>
<p>- Syirik dalam berdoa<br />
Adalah merendahkan diri kepada selain Allah dengan tujuan untuk istighatsah dan isti’anah kepada selain-Nya.</p>
<p>- Syirik dalam niat, kehendak dan maksud<br />
Adalah manakala melakukan ibadah tersebut semata-mata ingin dilihat orang atau untuk kepentingan dunia semata.</p>
<p>- Syirik dalam keta’atan<br />
Yaitu menjadikan sesuatu sebagai pembuat syariat selain Allah Subhanahu wa Ta’ala atau menjadikan sesuatu sebagai sekutu bagi Allah dalam menjalankan syariat dan ridho atas hukum tersebut.</p>
<p>- Syirik dalam kecintaan<br />
Adalah mengambil makhluk sebagai tandingan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menyetarakan kecintaan makhluk dengan Allah.</p>
<p>b. Syirik Ashghar (kecil)<br />
Yaitu riya’, hal ini tidak mengeluarkan pelakunya dari agama islam, akan tetapi pelakunya wajib untuk bertaubat. Akan tetapi bukan hanya riya’ saja yang termasuk syirik Ashgar. Riya’ termasuk Syirik Ashghar namun tidak semua Syirik Ashghar hanya berupa riya’.</p>
<p>c. Syirik Khafi (tersembunyi)<br />
Yaitu seorang beramal dikarenakan keberadaan orang lain, hal ini pun termasuk riya’, dan hal ini tidak mengeluarkan pelakunya dari agama islam sebagaimana anda ketahui, namun pelakunya wajib bertaubat.</p>
<p><strong>3. Syirik Menurut Letak Terjadinya</strong><br />
a. Syirik I’tiqodi<br />
Syirik yang berupa keyakinan, misalnya meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan kita dan memberi rizki pada kita namun di sisi lain juga percaya bahwa dukun bisa mengubah takdir yang digariskan kepada kita. Hal ini termasuk Syirik Akbar yang mengeluarkan pelakunya dari agama islam, kita berlindung kepada Allah dari hal ini.</p>
<p>b. Syirik Amali<br />
Yaitu setiap amalan fisik yang dinilai oleh syari’at islam sebagai sebuah kesyirikan, seperti menyembelih untuk selain Allah, dan bernazar untuk selain Allah dan lainnya.</p>
<p>c. Syirik Lafzhi<br />
Yaitu setiap lafazh yang dihukumi oleh syari’at islam sebagai sebuah kesyirikan, seperti bersumpah dengan selain nama Allah, seperti perkataan sebagian orang, “Tidak ada bagiku kecuali Allah dan engkau”, dan “Aku bertawakal kepadamu”, “Kalau bukan karena Allah dan si fulan maka akan begini dan begitu”, dan lafazh-lafazh lainnya yang mengandung unsur kesyirikan.</p>
<p>Dengan mengetahui beberapa kategori syirik diatas dapat membantu kita untuk menghindarinya agar tidak terjatuh dalam kesyirikan dalam bentuk apapun dan cara bagaimana pun. Semoga kita semua bisa terhindar dari syirik tersebut di manapun dan kapan pun jua. Wallohu a’lam bishowab.</p>
<p>Maraji’:<br />
Penjelasan Al-Qaul Al-Mufid fii Adillati At-Tauhid (terj)</p>
<p>Sumber : http://muslimah.or.id/aqidah/macam-macam-syirik.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2009/02/macam-macam-syirik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Resep Hidup Bahagia</title>
		<link>http://oryza.or.id/2009/02/resep-hidup-bahagia/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2009/02/resep-hidup-bahagia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Feb 2009 05:52:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=190</guid>
		<description><![CDATA[Resep Hidup Bahagia
Oleh : Syaikh &#8216;Abdu-r-Rahman bin Nashir as-Sa&#8217;di
1. Beriman dan beramal shaleh dengan sebenarnya
2. Berperilaku baik melalui ucapan, perbuatan dan segala bentuk al-ma&#8217;ruf
3. Menyibukkan diri dengan melakukan suatu pekerjaan atau mengkaji suatu ilmu yang bermanfaat
4. Konsentrasi untuk mengadapi hari ini
5. Memperbanyak Dzikir kepada Allah
6. Mensyukuri berbagai ni&#8217;mat Allah
7. Pandanglah ke bawah, Anda akan melihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Resep Hidup Bahagia<br />
Oleh : Syaikh &#8216;Abdu-r-Rahman bin Nashir as-Sa&#8217;di</p>
<p>1. Beriman dan beramal shaleh dengan sebenarnya<br />
2. Berperilaku baik melalui ucapan, perbuatan dan segala bentuk al-ma&#8217;ruf<br />
3. Menyibukkan diri dengan melakukan suatu pekerjaan atau mengkaji suatu ilmu yang bermanfaat<br />
4. Konsentrasi untuk mengadapi hari ini<br />
5. Memperbanyak Dzikir kepada Allah<br />
6. Mensyukuri berbagai ni&#8217;mat Allah<br />
7. Pandanglah ke bawah, Anda akan melihat besarnya ni&#8217;mat Allah<br />
8. Melupakan cobaan yang telah lampau<br />
9. Memohon pembenahan llahi dalam segala urusan<br />
10. Memandang ringan segala cobaan<br />
<span id="more-190"></span><br />
11. Jangan mudah terguncangkan oleh bayang-bayang buruk<br />
12. Percaya penuh kepada Allah, tidak takluk kepada bayangan buruk<br />
13. Bersikap adil dan bijaksana dalam bergaul<br />
14. Masa bahagia yang pendek itu, janganlah engkau pendekkan lagi dengan kegundahan dan kelarutan dalam kekeruhan pikiran<br />
15. Yakinilah, bahwa cobaan itu kecil dibanding besarnya karunia<br />
16. Jangan terpancing emosi oleh tutur kata buruk seseorang yang diarahkan kepada Anda<br />
17. Arahkan pikiran ke sesuatu yang bermanfaat di sisi kehidupan religi maupun duniawi<br />
18. Menata hati untuk hanya berharap pahala Ilahi dalam berbuat kebajikan<br />
19. Meraih dan melakukan al-fadha&#8217;il<br />
20. Ciptakan suasana jernih dan manis di balik kekeruhan<br />
21. Jadikanlah ketenangan batin dan pemusatan jiwa sebagai pembantu Anda menangani pekerjaan penting.<br />
22.  Selesaikan tugas tepat waktu<br />
23.  Pandai-pandailah memilih dan memilah pekerjaan</p>
<p>Disalin dari buku Resep Hidup Bahagia, Syaikh &#8216;Abdu-r-Rahman bin Nashir as-Sa&#8217;di, Direktoran Bidang Penerbitan dan Riset Ilmiah Departemen Agama, Wakaf, Dakwah dan Bimbingan Islam, Saudi Arabia</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2009/02/resep-hidup-bahagia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Cari</title>
		<link>http://oryza.or.id/2009/02/tips-cari/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2009/02/tips-cari/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Feb 2009 04:35:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=171</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini kiriman dari babeh, yang mengangkat dirinya sendiri menjadi ketua KGB di sebuah jagad maya. Cukup menarik untuk disimak
======================
Tips Cari
Oleh : AbahCO
Untuk saudari2ku kaum muslimah yang hendak memilih suami, berikut ini adalah tips dari saya agar kalian bisa menilai seberapa kualitasnya calonmu itu, sehingga penilaianmu itu bisa untuk menentukan sikap yang tepat untuk menghindari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini kiriman dari babeh, yang mengangkat dirinya sendiri menjadi ketua KGB di sebuah jagad maya. Cukup menarik untuk disimak</p>
<p>======================</p>
<p style="text-align: center;">Tips Cari</p>
<p style="text-align: center;">Oleh : AbahCO</p>
<p>Untuk saudari2ku kaum muslimah yang hendak memilih suami, berikut ini adalah tips dari saya agar kalian bisa menilai seberapa kualitasnya calonmu itu, sehingga penilaianmu itu bisa untuk menentukan sikap yang tepat untuk menghindari penyesalan baik di dunia maupun di akhirat.</p>
<p>Berapa banyak wanita2 yang sengsara hidupnya gara2 ketipu kaum lelaki, sehingga kesengsaraan itu menjadi beban dirinya, orang tuanya, teman2nya, dan masyarakat.</p>
<p>Adapun  tips itu adalah :<br />
<strong>1. Menikahlah dengan kaum muslimin</strong></p>
<p>Sudah diketahui secara syar&#8217;i bahwasanya tidak boleh bagi seorang muslimah untuk kawin dengan lelaki non-muslim secara mutlak apapun agama dan keyakinannya termasuk ahlul kitab. Kalau hal ini terjadi maka perkawinannya tidak syah atau batil. Dan tidak mengakibatkan satu hukumpun dari hukum-hukum</p>
<p>perkawinan, sehingga tidak ditetapkan nasab anak kepada bapaknya, dan tidak saling mewarisi setelah kematian salah satunya. Hal ini sebagaimana dalam</p>
<p>firman Allah Ta&#8217;ala :</p>
<p>["... <em>Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu'min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu'min lebih baik dari orang-orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya</em>... "] AI-Baqarah : 221 <span id="more-171"></span></p>
<p>Dan yang terpenting dari masalah ini kami ingin mengingatkan kepada kaum muslimin khususnya para wali dan para pemudi untuk betul-betul memperhatikan dalam memilih suami sebab bukan merupakan suatu hal yang penting untuk segera mengawinkan perempuan dengan sembarang orang.</p>
<p>[...<em>Janganlah orang-orang mu'min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min</em>...] Ali Imran : 28</p>
<p>&#8230;<em>Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka</em>.&#8221; (Al-Mumtahanah: 10).</p>
<p><em>Apabila wanita Nasrani masuk Islam (lebih dulu) sebelum suaminya sesaat (saja) maka dia haram atas suaminya</em>. (HR Al-Bukhari, bab Thalaq).</p>
<p><strong>2. Menikahlah dengan orang yang tidak merokok.</strong></p>
<p>Lebih bagus lagi memilih lelaki yang mengajak orang lain untuk tidak merokok.</p>
<p>Mengkonsumsi rokok sangat lazim bagi orang2 yang kurang akalnya. Bahkan orang-orang yang telah ditokohkan oleh masyarakat tidak lepas dari kebiasaan “membakar diri” ini. Tidak mengherankan bila rokok menjadi sesuatu yang gampang dicari, barangnya maupun penggemarnya. Bahkan kegemaran merokok ini pun terbawa saat menunaikan ibadah haji, sehingga menjadi melekat pada jama’ah haji Indonesia. Karena memang, ada saja jama’ah haji Indonesia yang nekad menyulut rokok di dekat pintu keluar Masjidil Haram. Maka pantas saja, dalam salah satu selebaran yang dibagikan cuma-cuma di sana, memuat pelanggaran-pelanggaran yang kerap dilakukan oleh jama’ah haji Indonesia, di antaranya adalah merokok. Sungguh sangat memprihatinkan sekali.<br />
ALLAH MEMERINTAHKAN KITA AGAR MENGKONSUMSI YANG BAIK-BAIK<br />
Demikianlah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ditujukan kepada para rasul-Nya dan kaum mukminin. Satu perintah yang sudah pasti bersumber dari rahmat dan kasih Allah Subhanhu wa Ta’ala kepada para hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.<br />
“<em>Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan</em>” [Al-Mukminun : 51]<br />
Syaikh Abdur-Rahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, salah satu kandungan ayat diatas menyatakan, bahwa para rasul secara keseluruhan sepakat membolehkan makanan-makanan yang baik-baik dan mengharamkan barang-barang yang buruk.</p>
<p><strong>3. Menikahlah dengan lelaki yang hatinya selalu terpaut dengan masjid.</strong></p>
<p>Lelaki yang jarang ketinggalan shalat berjamaah di masjid itu menujukkan rasa tanggung jawabnya kepada Allah. Maksud saya bukan orang yang selalu di dalam masjid siang-malam, tetapi hanya waktu2 tertentu, terutama waktu2 shalat wajib.</p>
<p>Tiga kriteria di atas sangat sederhana tetapi sudah bisa menilai seberapa kualitas iman, pikiran, &amp; mentalnya. Namun belom bisa menentukan seberapa besar masalah2 yang akan terjadi jika menikah dengannya. Adapun hal-hal lain yang perlu diketahui agar ‘jarak pandang’ kita lebih jauh antara lain:<br />
<span style="text-decoration: underline;">1. Seberapa berat tanggungan lelaki itu pada ortu &amp; sodara2nya</span>. Beberapa temen sempet curhat masalah ini yaitu karena kelabihan perhatian suami kepada orang tua &amp; kepada adik2nya.<br />
<span style="text-decoration: underline;">2. Seberapa mampu mencari nafkah.</span> Walaupun orangnya sebaik apapun kalo tidak bisa memberikan nafkah yang layak, maka ini sedikit banyak akan berpotensi membuat masalah.<br />
<span style="text-decoration: underline;">3. Seberapa sehat &amp; ketahanan terhadap alam</span>. Sering sakit &amp; sensitive terhadap keadaan lingkungan juga akan merepotkan.<br />
<span style="text-decoration: underline;">4. Selidiki sejarahnya</span>, jangan2 dia baik hanya saat menjelang akan mendapatkanmu saja.</p>
<p>Demikian tips sederhana untuk mencari suami yang unggul bagi seorang muslimah.</p>
<p>Adapun faktor2 yang <strong>mengganggu ato menghancurkan</strong> tips di atas antara lain:<br />
1. Wanita memiliki perasaan tinggi saking tingginya bisa menutup logika yg benar. Kalo perasaan cintanya tinggi maka rasio udah ga jalan.<br />
2. Sungkan untuk pindah ke lain orang karena ingin menjaga agar calon suami tidak sakit hati.<br />
3. Berpikir pendek, apa yang terjadi nanti dipikirkan nanti saja.<br />
4. Kegelisahan karena tidak ada yang cocok ato tidak ada yang pdkt sehingga buru2 ingin dapet suami.<br />
5. Dan berbagai permasalahan wanita lainnya.</p>
<p>Tulisan ini bermaksud untuk mengurangi angka salah pilih pasangan bagi kaum muslimah baik yang gadis ato telah janda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2009/02/tips-cari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terapi Rasulullah Dalam Penyembuhan Penyakit Al-Isyq (Cinta)</title>
		<link>http://oryza.or.id/2009/02/terapi-rasulullah-dalam-penyembuhan-penyakit-al-isyq-cinta/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2009/02/terapi-rasulullah-dalam-penyembuhan-penyakit-al-isyq-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Feb 2009 02:58:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
Mukaddimah
Virus hati yang bernama cinta ternyata telah banyak memakan korban. Mungkin anda pernah mendengar seorang remaja yang nekat bunuh diri disebabkan putus cinta, atau tertolak cintanya. Atau anda pernah mendengar kisah Qeis yang tergila-gila kepada Laila. Kisah cinta yang bermula sejak mereka bersama mengembala domba ketika kecil hingga dewasa. Akhirnya sungguh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Oleh : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah</p>
<p><strong>Mukaddimah</strong><br />
Virus hati yang bernama cinta ternyata telah banyak memakan korban. Mungkin anda pernah mendengar seorang remaja yang nekat bunuh diri disebabkan putus cinta, atau tertolak cintanya. Atau anda pernah mendengar kisah Qeis yang tergila-gila kepada Laila. Kisah cinta yang bermula sejak mereka bersama mengembala domba ketika kecil hingga dewasa. Akhirnya sungguh tragis, Qeis benar-benar menjadi gila ketika laila dipersunting oleh pria lain. Apakah anda pernah mengalami problema seperti ini atau sedang mengalaminya? mau tau terapinya? Mari sama-sama kita simak terapi mujarab yang disampaikan Ibnu Qoyyim dalam karya besarnya Zadul Ma&#8217;ad.</p>
<p>Beliau berkata : Gejolak cinta adalah jenis penyakit hati yang memerlukan penanganan khusus disebabkan perbedaannya dengan jenis penyakit lain dari segi bentuk, sebab maupun terapinya. Jika telah menggerogoti kesucian hati manusia dan mengakar di dalam hati, sulit bagi para dokter mencarikan obat penawarnya dan penderitanya sulit disembuhkan.</p>
<p>Allah mengkisahkan penyakit ini di dalam Al-Quran tentang dua tipe manusia, pertama wanita dan kedua kaum homoseks yang cinta kepada mardan (anak laki-laki yang rupawan). Allah mengkisahkan bagaimana penyakit ini telah menyerang istri Al-Aziz gubernur Mesir yang mencintai Nabi Yusuf, dan menimpa Kaum Luth. Allah mengkisahkan kedatangan para malaikat ke negeri Luth <span id="more-115"></span></p>
<p>Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata: &#8220;Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku), dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina &#8220;.Mereka berkata: &#8220;Dan bukankah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?&#8221; Luth berkata: &#8220;Inilah puteri-puteri (negeri) ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)&#8221;. (Allah berfirman): &#8220;Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)&#8221;. [Al-Hijr: 68-72]</p>
<p><strong>KEBOHONGAN KISAH CINTA NABI DENGAN ZAINAB BINTI JAHSY</strong><br />
Ada sekelompok orang yang tidak tahu menempatkan kedudukan Rasul sebagaimana layaknya, beranggapan bahwa Rasulullah tak luput dari penyakit ini sebabnya yaitu tatkala beliau melihat Zaenab binti Jahsy sambil berkata kagum: Maha Suci Rabb yang membolak-balik hati, sejak itu Zaenab mendapat tempat khusus di dalam hati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, oleh karena itu Beliau berkata kepada Zaid bin Haritsah: Tahanlah ia di sisimu hingga Allah menurunkan ayat:</p>
<p>“Artinya : Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan ni`mat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi ni`mat kepadanya : &#8220;Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah&#8221;, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu&#8217;min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi” [Al-Ahzab :37] [1]</p>
<p>Sebagain orang beranggapan ayat ini turun berkenaan kisah kasmaran Nabi, bahkan sebagian penulis mengarang buku khusus mengenai kisah kasmaran para Nabi dan meyebutkan kisah Nabi ini di dalamnya. Hal ini terjadi akibat kejahilannya terhadap Al-Quran dan kedudukan para Rasul, hingga ia memaksakan kandungan ayat apa-apa yang tidak layak dikandungnya dan menisbatkan kepada Rasulullah suatu perbuatan yang Allah menjauhkannya dari diri Beliau .</p>
<p>Kisah sebenarnya, bahwa Zainab binti Jahsy adalah istri Zaid ibn Harisah .&#8211;bekas budak Rasulullah&#8211; yang diangkatnya sebagai anak dan dipanggil dengan Zaid ibn Muhammad. Zainab merasa lebih tinggi dibandingkan Zaid. Oleh Sebab itu Zaid ingin menceraikannya. Zaid datang menemui Rasulullah minta saran untuk menceraikannya, maka Rasulullah menasehatinya agar tetap memegang Zainab, sementara Beliau tahu bahwa Zainab akan dinikahinya jika dicerai Zaid. Beliau takut akan cemoohan orang jika mengawini wanita bekas istri anak angkatnya. Inilah yang disembunyikan Nabi dalam dirinya, dan rasa takut inilah yang tejadi dalam dirinya. Oleh karena itu di dalam ayat Allah menyebutkan karunia yang dilimpahkanNya kepada Beliau dan tidak mencelanya karena hal tersebut sambil menasehatinya agar tidak perlu takut kepada manusia dalam hal-hal yang memang Allah halalkan baginya sebab Allah-lah yang seharusnya ditakutinya. Jangan Sampai beliau takut berbuat sesuatu hal yang Allah halalkan karena takut gunjingan manusia, setelah itu Allah memberitahukannya bahwa Allah langsung yang akan menikahkannya setelah Zaid menceraikan istrinya agar Beliau menjadi contoh bagi umatnya mengenai kebolehan menikahi bekas istri anak angkat, adapun menikahi bekas istri anak kandung maka hal ini terlarang.sebagaimana firman Allah:</p>
<p>&#8220;Artinya : Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu&#8221; [Al-Ahzab: 40]</p>
<p>Allah berfirman di pangkal surat ini:</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja&#8221; [Al-Ahzab : 4]</p>
<p>Perhatikanlah bagaiamana pembelaan terhadap Rasulullah ini, dan bantahan terhadap orang-orang yang mencelanya. Wabillahi at-Taufiq.</p>
<p>Tidak dipungkiri bahwa Rasulullah sangat mencintai istri-istrinya. Aisyah adalah istri yang paling dicintainya, namun kecintaannya kepada Aisyah dan kepada lainnya tidak dapat menyamai cintanya tertinggi, yakni cinta kepada Rabbnya. Dalam hadis shahih:</p>
<p>&#8220;Artinya : Andaikata aku dibolehkan mengambil seorang kekasih dari salah seorang penduduk bumi maka aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih&#8221;[2]</p>
<p><strong>KRITERIA MANUSIA YANG BERPOTENSI TERJANGKIT PENYAKIT AL-ISYQ</strong><br />
Penyakit al-isyq akan menimpa orang-orang yang hatinya kosong dari rasa mahbbah (cinta) kepada Allah, selalu berpaling dariNya dan dipenuhi kecintaan kepada selainNya. Hati yang penuh cinta kepada Allah dan rindu bertemu dengaanNya pasti akan kebal terhadap serangan virus ini, sebagaimana yang terjadi dengan Yusuf alaihis salam:</p>
<p>&#8220;Artinya ; Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tiada melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih&#8221; [Yusuf : 24]</p>
<p>Nyatalah bahwa Ikhlas merupakan immunisasi manjur yang dapat menolak virus ini dengan berbagai dampak negatifnya berupa perbuatan jelek dan keji.Artinya memalingkan seseorang dari kemaksiatan harus dengan menjauhkan berbagai sarana yang menjurus ke arah itu .</p>
<p>Berkata ulama Salaf: penyakit cinta adalah getaran hati yang kosong dari segala sesuatu selain apa yang dicinta dan dipujanya. Allah berfirman mengenai Ibu Nabi Musa:</p>
<p>&#8220;Artinya ; Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya&#8221; [Al-Qasas :11]</p>
<p>Yakni kosong dari segala sesuatu kecuali Musa karena sangat cintanya kepada<br />
Musa dan bergantungnya hatinya kepada Musa.</p>
<p><strong>BAGAIMANA VIRUS INI BISA BERJANGKIT ?</strong><br />
Penyakit al-isyq terjadi dengan dua sebab, Pertama : Karena mengganggap indah apa-apa yang dicintainya. Kedua: perasaan ingin memiliki apa yang dicintainya. Jika salah satu dari dua faktor ini tiada niscaya virus tidak akan berjangkit. Walaupun Penyakit kronis ini telah membingungkan banyak orang dan sebagian pakar berupaya memberikan terapinya, namun solusi yang diberikan belum mengena.</p>
<p><strong>MAKHLUK DICIPTAKAN SALING MENCARI YANG SESUAI DENGANNYA</strong><br />
Berkata Ibn al-Qayyim: ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hikmahNya menciptakan makhlukNya dalam kondisi saling mencari yang sesuai dengannya, secara fitrrah saling tertarik dengan jenisnya, sebaliknya akan menjauh dari yang berbeda dengannya.</p>
<p>Rahasia adanya percampuran dan kesesuaian di alam ruh akan mengakibatkan adanya keserasian serta kesamaan, sebagaimana adanya perbedaan di alam ruh akan berakibat tidak adanya keserasian dan kesesuaian. Dengan cara inilah<br />
tegaknya urusan manusia. Allah befirman:</p>
<p>&#8220;Artinya : Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya” [Al-A'raf :189]</p>
<p>Dalam ayat ini Allah menjadikan sebab perasaan tentram dan senang seorang lelaki terhadap pasangannya karena berasal dari jenis dan bentuknya. Jelaslah faktor pendorong cinta tidak bergantung dengan kecantikan rupa, dan tidak pula karena adanya kesamaan dalam tujuan dan keingginan, kesamaan bentuk dan dalam mendapat petunjuk, walaupun tidak dipungkiri bahwa hal-hal ini merupakan salah satu penyebab ketenangan dan timbulnya cinta.</p>
<p>Nabi pernah mengatakan dalam sebuah hadisnya:</p>
<p>&#8220;Artinya : Ruh-ruh itu ibarat tentara yang saling berpasangan, yang saling mengenal sebelumnya akan menyatu dan yang saling mengingkari akan berselisih &#8220;[3]</p>
<p>Dalam Musnad Imam Ahmad diceritakan bahwa asbabul wurud hadis ini yaitu ketika seorang wanita penduduk Makkah yang selalu membuat orang tertawa hijrah ke Madinah ternyata dia tinggal dan bergaul dengan wanita yang sifatnya sama sepertinya yaitu senang membuat orang tertawa. Karena itulah nabi mengucapkan hadis ini.</p>
<p>Karena itulah syariat Allah akan menghukumi sesuatu menurut jenisnya, mustahil syariat menghukumi dua hal yang sama dengan perlakuan perbeda atau mengumpulkan dua hal yang kontradiktif. Barang siapa yang berpendapat lain maka jelaslah karena minimnya ilmu pengetahuannya terhadap syariat ini atau kurang memahami kaedah persamaan dan sebaliknya.</p>
<p>Penerapan kaedah ini tidak saja berlaku di dunia lebih dari itu akan diterapkan pula di akhirat, Allah berfirman:</p>
<p>&#8220;Artinya : (kepada malaikat diperintahkan): Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah&#8221; [As-Shaffat : 23]</p>
<p>Umar ibn Khtaab dan seteelahnya Imam Ahmad pernah berkata mengenai tafsiran wajahum yakni yang sesuai dan mirip dengannya .Allah juga berfirman</p>
<p>&#8220;Artinya : Dan apabila jiwa dipertemukan&#8221; [At-Takwir : 7]</p>
<p>Yakni setiap orang akan digiring dengan orang-orang yang sama prilakunya dengannya, Allah akan menggiring antara orang-orang yang saling mencintai kareNya di dalam surga dan akan menggiring orang orang yang saling bekasih-kasihan diatas jalan syetan di neraka Jahim, tiap oran akan digiring dengan siapa yang dicintainya mau tidak mau. Di dalam mustadrak Al-Hakim disebukan bahwa Nabi bersabda:</p>
<p>&#8220;Artinya : Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum kecuali akan digiring bersama mereka kelak&#8221; [4]</p>
<p>[Diterjemahkan oleh : Ustadz Ahmad Ridwan,Lc (Abu Fairuz Al-Medani), Dari kitab : Zadul Ma'ad Fi Hadyi Khairi Ibad, Juz 4, halaman 265-274, Penulis Ibnu Qayyim Al-Jauziah]<br />
_________<br />
Foote Note<br />
[1]. Ini berita batil yang diriwayatkan oleh Ibn Sa&#8217;ad dalam at-Tabaqat/101-102, dan al-Hakim 3/23 dari jalan Muhammad ibn Umar al Waqidi seorang yang Matruk (ditinggalkan)&#8211; dan sebagian menggapnya sebagai pemalsu hadis, dari Muhakmmad ibn Yahya ibn Hibban&#8211;seorang yang siqah –namun riwayat yang diriwayatkannya dari Nabi sekuruhnya mursal. Kebatilah riwayat ini telah diterangkan oleh para ulama almuhaqqiqin. Mereka berkata: Penukil riwayat ini dan yang menggunakan ayat ini sebagai dalil terhadap prasangka buruk mereka mengenai Rasulullah sebenranya tidak meletetakkan kedudukan kenabian Rasulullah sebagaimana layaknya, dan tidak mengerti makna kemaksuman Beliau. Sesungguhnya yang disembunayikan Nabi di dalam dirinya dan belakangan Allah nampakkan adalah berita yang Allah sampaikan padanya bahwa kelak Zaenab akan menjadi istrinya. Faktor yang membuat nabi menyembunyikan berita ini tidak lain disebabkan perasaan takut beliau terhadap perkataan orang bahwa Beliau tega menikahi istri anak angkatnya . Sebenarnya dengan kisah ini Allah ingin membatakan tadisi jahiliyyah ini dalam hal adopsi , yaitu dengan menikahkan Rasulullah dengan istri anak angkatnya. Peristiwa yang terjadi dengan Rasulullah ini sebagai pemimpin manusia akan lebih diterima dan mengena di hati mereka.. Lihat Ahkam Alquran 3/1530,1532 karya Ibn Arabi dan Fathul Bari 8/303, Ibn Kastir 3/492, dan Ruhul Ma&#8217;ani 22/24-25.<br />
[2]. Hadis diriwayatkan oleh Bukhari 7/15 dalam bab fadhail sahabat Nabi, dari jalan Abdullah ibn Abbas, dan diriwayatkan oleh Imam Muslim (2384) dalam Fadail Sahabat, bab keutamaan Abu Bakar, dari jalan Abdullah ibn Masud, dan keduanya sepakat meriwayatkan dari jalan Abu Sa&#8217;id al-khudri.<br />
[3]. Hadis Riwayt Bukhari 7/267dari hadis Aisyah secara muallaq, dan Muslim (2638) dari jalan Abu Hurairah secara mausul<br />
[4]. Diriwayatkan oleh Ahmad 6/145, 160, dan an-Nasai dari jalan Aisyah Bahwa Rasulullah Saw bersabda: Aku bersumpah terhadap tiga hal, Allah tidak akan menjadikan orang-orang yang memiliki saham dalam Islam sama dengan orang yang tidak memiliki saham, saham itu yakni: Sholat, puasa dan zakat. Tidak lah Allah mengangkat seseorang di dunia, kemudain ada selainNya yang dapat mengankat (derajatnya) di hari kiamat. Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum kecuali kelak Allah akan menggumpulkannya bersama (di akhirat). Kalau boleh aku bersumpat terhadap yang keempat dan kuharap aku tiodak berdosa dalam hal ini yaitu tidaklah seseorang memberi pakaian kepada orang lain (untuk menutupi auratnya) kecuali Allah akn memberikannya pakaian penutup di hari kiamat. Para perawi hadis ini stiqah kecuali Syaibahal-khudri (di dalam Musnad di tulis keliru dengan al-isyq-hadromi). Dia meriwayatkan dari Urwah, dan dia tidak di tsiqahkan kecuali oleh Ibn Hibban, namun ada syahidnya dari hadist Ibn Masud dari jalur Abu Yala, dan Thabrani dari jalur Abu Umamah, dengan kedua jalan ini hadis ini menjadi sahih.</p>
<p>Sumber : Almanhaj.or.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2009/02/terapi-rasulullah-dalam-penyembuhan-penyakit-al-isyq-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terusirnya Ahli Bid&#8217;ah dari Telaga Al Kautsar</title>
		<link>http://oryza.or.id/2009/01/terusirnya-ahli-bidah-dari-telaga-al-kautsar/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2009/01/terusirnya-ahli-bidah-dari-telaga-al-kautsar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jan 2009 05:11:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[Ini tulisan dari seorang kawan lama tentang telaga al kautsar
Terusirnya Ahlul Bid’ah dari Telaga Al Kautsar
Oleh: Abu Hanan Sabil Arrasyad
Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan kejelekan amalan-amalan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak akan ada yang menyesatkannya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini tulisan dari seorang kawan lama tentang telaga al kautsar</p>
<p style="text-align: center;">Terusirnya Ahlul Bid’ah dari Telaga Al Kautsar</p>
<p style="text-align: center;">Oleh: Abu Hanan Sabil Arrasyad</p>
<p>Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan kejelekan amalan-amalan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak akan ada yang menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan oleh Allah, maka tidak akan ada yang memberi petunjuk kepadanya.</p>
<p>Saya bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah kecuali hanya Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah seorang hamba dan utusan-Nya.</p>
<p>Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shalallahu &#8216;alaihi wasallam. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan. Setiap perkara yang diada-adakan adalah bid&#8217;ah. Setiap bid&#8217;ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan ada di neraka.</p>
<p>“Dari Anas bin Malik Radiyallahu anhu “Ketika pada suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berada di tengah-tengah kami, beliau (seperti terserang) kantuk, kemudian beliau mengangkat kepalanya sambil tersenyum, maka kamipun berkata “Apa yang menyebabkan anda tertawa, Ya Rasulullah?“ Kata beliau “Baru saja diturunkan kepadaku satu surat, lalu beliau membaca</p>
<p>“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus“ (Qs Al Kautsar 1-3)</p>
<p>Kemudian beliau berkata “Tahukah kamu apa Al kautsar itu?“ kamipun berkata “Allah dan RasulNya lebih tahu“ Beliau bersabda “Sesungguhnya Al Kautsar adalah sungai yang dijanjikan kepadaku oleh Rabbku Allah Azza wa Jalla, padanya kebaikan yang sangat banyak. Dia adalah telaga yang akan didatangai umatku pada hari kiamat. Gayungnya sebanyak bintang di langit. Disingkirkan daripadanya seseorang dari mereka. Lalu aku berkata“Wahai Rabbku, sesungguhnya dia termasuk umatku!“ Maka Allah berkata “Engkau tidak tahu apa yang terjadi sepeninggalmu“ (Diriwayatkan Imam Muslim dalam Kitab Shalat Bab 14/400). <span id="more-152"></span></p>
<p>Menetapkan dan meyakini adanya telaga Al Haudl Rasululullah shallallahu alaihi wa sallam merupakan aqidah shahihah ahlussunnah wal jamaah yang harus diyakini oleh setiap muslim, lafadz Al Haudl secara bahasa adalah Al Jam’u (kumpulan), dikatakan menghimpun/mengumpulkan air ditempatkan pada suatu tempat apabila telah berkumpul. Dimutlakkan maknanya atas tempat air.</p>
<p>Secara Syar’i maknanya adalah telaga air yang turun dari sungai Surga pada hari kiamat yang diperuntukkan bagi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam hadist “Sesungguhnya aku telah mendahului kalian menuju Al Haudl&#8230;“(Hr Bukhari (no6583) dan Muslim(no2290).)</p>
<p>“Sesungguhnya setiap nabi memiliki Haudl (telaga), mereka membanggakan diri, dari siapa diantara mereka yang paling banyak peminumnya (pengikutnya), dan aku berharap akulah yang paling banyak pengikutnya“(Hr At Tirmidzi(no2443) dalam Silsilah Ash Shahihah (no1589).)</p>
<p>Hadist-hadist yang berbicara tentang telaga Al Haudl sering diselewengkan oleh kaum Syiah Rafidhoh untuk memurtadkan dan mengkafirkan sahabat-sahabat Nabi yang mulia padahal jika dijelaskan dengan hadist-hadist lainnya dan didudukkan secara jelas dengan sebenar-benarnya maka penjelasan dan pengertian telaga Al Haudl dan orang-orang yang terusir darinya tidaklah seperti yang Syiah Rafidhoh jelaskan, bahkan justru orang-orang Syiah Rafidhoh terancam diantara orang-orang yang terusir dari Al Haudl tersebut.Hadist-hadist tentang telaga Al Haudl tersebut banyak diriwayatkan oleh para sahabat Nabi dengan isi yang semakna diantara sahabat yang meriwayatkannya adalah Abdullah bin Mas’ud, Hudzaifah bin al Yaman, Anas bin Malik,Abu Said Al Khudri, Sahl bin Sa’d As Saidi, Abu Hurairah, Abu Darda, Ummul Mukminin Aisyah dan banyak sahabat lainnya Ridwanullahu alaihim jamian.</p>
<p>“Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Abu Kuraib serta Ibnu Numair telah bercerita kepada kami, kata mereka “Abu Muawiyah telah bercerita kepada kami dari Al A’masy dari Syaqiq dari Abdullah katanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda“ Saya mendahului kalian di telaga, Dan sungguh saya berselisih tentang sekelompok orang, Kemudian saya dikalahkan atas mereka, lalu aku berkata “Wahai Rabbku,(mereka) adalah sahabat-sahabatku!“ Lalu dikatakan: Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu“ (Diriwayatkan oleh Imam Muslim Kitab Al Fadlail Bab 9/2297)</p>
<p>Penjelasan:</p>
<p>Dalam Syarh Shahih Muslim, Al Imam An Nawawi menerangkan bahwa kalimat yang menyebutkan “ Engkau tidak tahu apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu“ termasuk masalah yang diperselisihkan oleh para ulama tentang apa maksudnya menjadi beberapa pendapat diantaranya:</p>
<p>1. Yang dimaksud (orang-orang yang terusir) adalah kaum munafikin dan orang-orang murtad.<br />
2. Mereka yang hidup di zaman Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kemudian murtad sepeninggal beliau(seperti pengikut Musailamah Al kadzab nabi palsu yang mengaku nabi setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam wafat).<br />
3. Pelaku maksiat dan dosa besar yang mati di atas tauhid serta ahli bid’ah yang belum sampai keluar dari Islam.</p>
<p>Al Hafidz Ibnu Abdil Barr mengatakan “Semua yang mengada-adakan perkara baru (Bid’ah) dalam Islam termasuk golongan yang diusir dari telaga, misalnya kaum Khowarij, Rafidhoh dan semua pengikut hawa nafsu. Demikian pula orang-orang yang zalim, melakukan kejahatan, merampas hak dan terang-terangan melakukan dosa besar. Mereka ini dikhawatirkan termasuk golongan yang dimaksud dalam berita hadist-hadist ini“</p>
<p>Imam Bukhari rahimahullah mengatakan (Kitab Ar Raqaq bab 53/6212)<br />
“Telah bercerita kepada kami Sa’id bin Abi Maryam katanya “Muhammad bin Mutharrif telah bercerita kepada kami, katanya “Abu Hazim telah bercerita kepadaku dari Sahl bin Sa’d, katanya“Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda“ Sesungguhnya aku mendahului kalian di telaga. Siapa yang mendatangiku dia tentu meminumnya dan siapa yang meminumnya, tidak akan merasa haus selama-lamanya. Sungguh akan datang kepadaku beberapa kaum yang saya mengenal mereka dan merekapun mengenaliku, kemudian dihalangi antara saya dengan mereka“</p>
<p>“Kata Abu Hazim” Nu’man bin Abi Ayyasy mendengar saya, lalu berkata” begitukah kamu dengar dari Sahl?” Maka Saya katakan“Ya“ Lalu diapun berkata“ Saya bersaksi atas Abu Said Al Khudri bahwa saya mendengarnya dan menambahkan bahwa beliau bersabda“Lalu saya katakan sesungguhnya mereka bagian dariku.Lalu dikatakan kepadaku“Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu, maka saya berkata“Jauhlah.Jauhlah orang-orang yang telah merubah-rubah sepeninggalku“ (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Al Fitan bab 1/6643) Imam Muslim dalam Al Fadlail bab 9/2291)</p>
<p>Penjelasan:</p>
<p>Imam Bukhari mengatakan dalam kitab Ar Raqaq, kata Ibnu Abbas, suhqon artinya bu’dan (jauh) dikatakan sahiiq sama dengan ba’iid (jauh). Ashaqahu artinya ab’adahu ( menjauhkan)</p>
<p>Hadist ini dan hadist sebelumnya menerangkan shahihnya penakwilan mereka yang berpendapat bahwa yang terusir adalah orang-orang murtad. Sehingga karena itulah dikatakan “Jauhlah. Jauhlah.“Dan ini tidak dikatakan kepada mereka diberi syafa’at dan diperhatikan. Demikian nukilan Imam An Nawawi dari Qadli Iyadl tentang makna “yang terusir “dalam Syarh Shahih Muslim. Dan dikatakan pula mereka yang durhaka, murtad dari sikap Istiqomah bukan murtad dari agama Islam. Mereka ini dianggap merubah atau menukar amalan saleh dengan kejelekan. Yang kedua ialah mereka yang murtad kembali kepada kekafiran secara hakiki.</p>
<p>Imam Ath Thabrani rahimahullah mengatakan dalam (Al Ausath 5/113 no 4216)</p>
<p>“Telah bercerita kepada kami ’Ali bin Abdillah Al Fargani’, katanya “Telah mengabarkan kepada kami Harun bin Musa Al Farawi katanya“ Telah mengabarkan kepada kami Abu Dlamrah Anas bin ’Iyadl dari Humaid dari Anas Radiyallahu anhu katanya Rasulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda “Dua golongan dari umatku yang tidak akan mendatangi telaga (Haudl) dan tidak akan masuk surga, Al Qodariyah dan Al Murji’ah“ (Derajat hadist ini shahih. Dikuatkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah dan katanya “wajib diletakkan dalam Silsilah Ash Shahihah“ (Ash Shahihah no 2748) ada syahidnya (penguatnya) dari hadist Abu Laila yang diriwayatkan oleh ibnu Abi Ashim rahimahullah dalam As Sunnah 949)<br />
Syeikh Muhammad Al Wushabi Al Abdali (Al Haudl Al Yaumul Ma’aad) mengatakan “Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam “Mereka tidak akan masuk surga“, maksudnya dalah masuk surga lebih dahulu (pertama kali sebelum mereka dimasukkan ke dalam neraka).</p>
<p>Sebagaimana sabda beliau juga tentang hadist Ibnu mas’ud dalam Shahih Muslim (no 91) “Tidak akan masuk surga siapa saja yang di dalam hatinya menyimpan kesombongan meskipun sebesar biji sawi” (Yakni yang dimaksud masuk yang pertama kali)</p>
<p>Begitu juga dalam banyak riwayatnya Imam Al Bukhari menyebutkan lafadz murtad dalam riwayat-riwayatnya diantaranya di dalam Al Anbiya bab 11/3171 disebutkan</p>
<p>“&#8230;Lalu dikatakan kepada saya“ Sesungguhnya mereka terus menerus murtad kembali kebelakang sejak engkau meninggalkan mereka“</p>
<p>begitu pula dalam Ar Raqaq Bab 53/6214 disebutkan “&#8230;Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu berbalik mundur kebelakang“</p>
<p>maka dari semua penjelasan diata tertolaknya syubhat yang biasa dilemparkan oleh Syiah Rafidhoh kepada orang-orang awwam dari kaum muslimin yang mereka membawakan hadist Nabi dengan hawa nafsu mereka untuk mengkafirkan dan mencaci maki para sahabat Nabi Radiyallahu anhum, padahal jelas para sahabat nabi disebutkan oleh Allah di dalam surat Al Qur’an:</p>
<p>“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang –orang yang mengikuti mereka dengan baik,Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung“ (Qs At Taubah : 100)</p>
<p>kemudian di dalam banyak hadist pun dijelaskan tentang keutamaan mereka Radiyallahu anhum bahkan disebutkan pula jaminan Surga dari Nabi kepada sepuluh orang utama diantara mereka. Maka wajar jika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri bersabda ; “Kalian wajib berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin” (Hadist riwayat Imam Abu Daud dan Tirmidzi).</p>
<p>Bahkan ketika terjadi perpecahan diantara ummat beliau menerangkan bahwa keselamatan adalah mengikuti pemahaman Beliau Shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya</p>
<p>“Dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan semua masuk neraka kecuali satu. Beliau ditanya : ‘Siapa mereka wahai Rasulullah ?’ Jawaban beliau : ‘Mereka adalah orang-orang yang berada di atas apa yang aku dan sahabatku berada di atasnya” [Abu Dawud 4586, Tirmidzi 2640, Ibnu Majah 3991 Ahmad 2/332]</p>
<p>Semoga Allah selalu membimbing kita untuk menuntut ilmu syar’i sesuai Al Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman salafusshalih, dan menjauhkan kita dari kebid’ahan dan kemaksiatan agar kita tidak termasuk orang-orang yang terusir dari telaga (Haudl) Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Sebagaimana yang disebutkan tentang sifat-sifat mereka (orang-orang yang terusir dari telaga Nabi)</p>
<p>“Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu, maka saya berkata“Jauhlah.Jauhlah orang-orang yang telah merubah-rubah sepeninggalku“ (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Al Fitan bab 1/6643) Imam Muslim dalam Al Fadlail bab 9/2291)</p>
<p>mereka mempunyai karakter mengubah-ubah ajaran Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam membuat bid’ah-bid’ah dan mengikuti hawa nafsu mereka.</p>
<p>“Barang siapa melakukan suatu amal yang tidak ada contohnya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR Mutafaqun ‘alaih)</p>
<p>Dan telah jelas bahwa dien ini telah sempurna sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan :<br />
&#8220;Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan Aku sempurnakan nikmat-Ku kepadamu dan Aku ridha Islam menjadi agamamu&#8221; (Al Maidah:3).</p>
<p>Maka Al Imam Malik rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ini: &#8220;Tidak akan baik umat yang belakangan ini kecuali dengan sesuatu yang telah membuat baik umat terdahulu (yakni para shahabat radiyallahu’anhum)&#8221;.</p>
<p>Semoga Allah menjadikan kita sebagai pengikut sunnah-sunnah beliau dan pembelanya, yang dipertemukan bersama beliau di telaga Kautsarnya yang gayungnya sebanyak bintang di langit dan dipenuhi dengan kenikmatan. Telaga yang diperuntukkan bagi Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam yang airnya lebih putih daripada susu, lebih manis dari madu, lebih harum dari minyak kesturi, panjang dan lebarnya sejauh perjalanan sebulan,bejana-bejananya seindah dan sebanyak bintang di langit,maka kaum mukminin dari ummat beliau akan meminum dari haudl tersebut, Barangsiapa yang meminum seteguk air dari Haudl ini, maka tidak akan merasa haus lagi sesudah itu.<br />
(lihat bab Itsbat Haudhi Nabiyyina shallallahu alaihi wa sallam wa shifaatihi dalam Kitab Al Fadhaail oleh Imam Muslim lihat juga kitabus sunnah lil ibni abi Ashim bab Dzikri haudhin Nabi shallalallahu alaihi wa sallam)</p>
<p>“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus“ (Qs Al Kautsar 1-3)</p>
<p>Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya radiyallahu anhum ajmain dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga akhir zaman.</p>
<p>Ya Allah, tunjukkanlah kebenaran itu sebagai kebenaran dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya, serta tunjukkanlah kebatilan itu sebagai sebuah kebatilan, dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya.</p>
<p>Maha Suci Engkau Ya Allah, dan dengan memuji-Mu, saya bersaksi bahwa tiada<br />
Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau, saya memohon ampun dan<br />
bertaubat kepada-Mu.</p>
<p>Wallahu A’lam</p>
<p>Sumber : http://abu-hanan.blogspot.com/2007/03/terusirnya-ahlul-bidah-dari-telaga-al.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2009/01/terusirnya-ahli-bidah-dari-telaga-al-kautsar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jilbab Wanita Muslimah</title>
		<link>http://oryza.or.id/2009/01/jilbab-wanita-muslimah/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2009/01/jilbab-wanita-muslimah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jan 2009 07:11:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[Jilbab Wanita Muslimah
Oleh: Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany
Penelitian kami terhadap ayat-ayat Al-Quran, As-Sunnah dan atsar-atsar Salaf dalam masalah yang penting ini, memberikan jawaban kepada kami bahwa jika seorang wanita keluar dari rumahnya, maka ia wajib menutup seluruh anggota badannya dan tidak menampakkan sedikitpun perhiasannya, kecuali wajah dan dua telapak tangannya, maka ia harus menggunakan pakaian (jilbab) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Jilbab Wanita Muslimah</p>
<p style="text-align: center;">Oleh: Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany</p>
<p>Penelitian kami terhadap ayat-ayat Al-Quran, As-Sunnah dan atsar-atsar Salaf dalam masalah yang penting ini, memberikan jawaban kepada kami bahwa jika seorang wanita keluar dari rumahnya, maka ia wajib menutup seluruh anggota badannya dan tidak menampakkan sedikitpun perhiasannya, kecuali wajah dan dua telapak tangannya, maka ia harus menggunakan pakaian (jilbab) yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :</p>
<p>1. MELIPUTI SELURUH BADAN SELAIN YANG DIKECUALIKAN<br />
Syarat ini terdapat dalam firman Allah dalam surat An-Nuur : 31 berbunyi : &#8220;Katakanlah kepada wanita yang beriman : &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka (mertua) atau putra-putra mereka atau putra-putra suami mereka atau saudara-saudar mereka (kakak dan adiknya) atau putra-putra saudara laki-laki mereka atau putra-putra saudara perempuan mereka (=keponakan) atau wanita-wanita Islam atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.&#8221;</p>
<p>Juga firman Allah dalam surat Al-Ahzab : 59 berbunyi : &#8220;Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mumin : &#8220;Hendaklah mereka mengulurkann jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.&#8221;</p>
<p>Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&#8221;</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam Tafsirnya : &#8220;Janganlah kaum wanita menampakkan sedikitpun dari perhiasan mereka kepada pria-pria ajnabi, kecuali yang tidak mungkin disembunyikan.&#8221; Ibnu Masud berkata : Misalnya selendang dan kain lainnya. &#8220;Maksudnya adalah kain kudung yang biasa dikenakan oleh wanita Arab di atas pakaiannya serat bagian bawah pakiannya yang tampak, maka itu bukan<br />
dosa baginya, karena tidak mungkin disembunyikan.&#8221; <span id="more-151"></span></p>
<p>Al-Qurthubi berkata : Pengecualian itu adalah pada wajah dan telapak tangan. Yang menunjukkan hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah bahwa Asma binti Abu Bakr menemui Rasulullah sedangkan ia memakai pakaian tipis. Maka Rasulullah berpaling darinya dan berkata kepadanya : &#8220;Wahai Asma ! Sesungguhnya jika seorang wanita itu telah mencapai masa haid, tidak baik jika ada bagian tubuhnya yang terlihat, kecuali ini.&#8221; Kemudian beliau menunjuk wajah dan telapak tangannya. Allah Pemberi Taufik dan tidak ada Rabb selain-Nya.&#8221;</p>
<p>2. BUKAN BERFUNGSI SEBAGAI PERHIASAN<br />
Ini berdasarkan firman Allah dalam surat An-Nuur ayat 31 berbunyi : &#8220;Dan janganlah kaum wanita itu menampakkan perhiasan mereka.&#8221; Secara umum kandungan ayat ini juga mencakup pakaian biasa jika dihiasi dengan sesuatu, yang menyebabkan kaum laki-laki melirikkan pandangan kepadanya. Hal ini dikuatkan oleh firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 33 : &#8220;Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti oang-orang jahiliyah.&#8221;</p>
<p>Juga berdasarkan sabda Nabi : &#8220;Ada tida golongan yang tidak akan ditanya yaitu, seorang laki-laki yang meninggalkan jamaah dan mendurhakai imamnya serta meninggal dalam keadaan durhaka, seorang budak wanita atau laki-laki yang melarikan diri (dari tuannya) lalu ia mati, serta seorang wanita yang ditinggal oleh suaminya, padahal suaminya telah mencukupi keperluan duniawinya, namun<br />
setelah itu ia bertabarruj. Ketiganya itu tidak akan ditanya.&#8221; (Dikeluarkan Al-Hakim 1/119 dan disepakati Adz-Dzahabi; Ahmad VI/19; Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad; At-Thabrani dalam Al-Kabir; Al-Baihaqi dalam As-Syuaib).</p>
<p>Tabarruj adalah perilaku wanita yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya serta segala sesuatu yang wajib ditutup karena dapat membangkitkan syahwat laki-laki. (Fathul Bayan VII/19).</p>
<p>3. KAINNYA HARUS TEBAL (TIDAK TIPIS)<br />
Sebab yang namanya menutup itu tidak akan terwujud kecuali harus tebal. Jika tipis, maka hanya akan semakin memancing fitnah (godaan) dan berarti menampakkan perhiasan. Dalam hal ini Rasulullah telah bersabda : &#8220;Pada akhir umatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakain namun (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala mereka seperti terdapat bongkol (punuk) unta. Kutuklah mereka karena<br />
sebenarnya mereka adalah kaum wanita yang terkutuk.&#8221; Di dalam hadits lain terdapat tambahan : &#8220;Mereka tidak akan masuk surga dan juga tidak akan mencium baunya, padahal baunya surga itu dapat dicium dari perjalanan sekian dan sekian.&#8221; (At-Thabrani dalam Al-Mujam As-Shaghir hal. 232; Hadits lain tersebut dikeluarkan oleh Muslim dari riwayat Abu Hurairah. Lihat Al-HAdits As-Shahihah<br />
no. 1326).</p>
<p>Ibnu Abdil Barr berkata : Yang dimaksud oleh Nabi adalah kaum wanita yang mengenakan pakaian yang tipis, yang dapat mensifati (menggambarkan) bentuk tubuhnya dan tidak dapat menutup atau menyembunyikannya. Mereka itu tetap berpakaian namanya, akan tetapi hakekatnya telanjang. (dikutip oleh As-Suyuthi dalam Tanwirul Hawalik III/103).</p>
<p>Dari Abdullah bin Abu Salamah, bahawsannya Umar bin Al-Khattab pernah memakai baju Qubthiyah (jenis pakaian dari Mesir yang tipis dan berwarna putih) kemudian Umar berkata : Jangan kamu pakaikan baju ini untuk istri-istrimu !. Seseorang kemudian bertanya : Wahai Amirul Muminin, Telah saya pakaikan itu kepada istriku dan telah aku lihat di rumah dari arah depan maupun belakang, namun aku tidk melihatnya sebagai pakaian yang tipis ! Maka Umar menjawab : Sekalipun tidak tipis, namun ia mensifati (menggambarkan lekuk tubuh). (Riwayat Al-Baihaqi II/234-235; Muslim binAl-Bitthin dari Ani Shalih dari Umar).</p>
<p>Atsar di atas menunjukkan bahwa pakaian yang tipis atau yang mensifati dan menggambarkan lekuk-lekuk tubuh adalah dilarang. Yang tipis (transparan) itu lebih parah daripada yang menggambarkan lekuk tubuh (tapi tebal). Oleh karena itu Aisyah pernah berkata : &#8220;Yang namanya khimar adalah yang dapat menyembunyikan kulit dan rambut.&#8221;</p>
<p>4. HARUS LONGGAR (TIDAK KETAT) SEHINGGA TIDAK DAPAT MENGGAMBARKAN SESUATU DARI TUBUHNYA</p>
<p>Usamah bin Zaid pernah berkata : Rasulullah pernah memberiku baju Quthbiyah yang tebal yang merupakan baju yang dihadiahkan oleh Dihyah Al-Kalbi kepada beliau. Baju itu pun aku pakaikan pada istriku. Nabi bertanya kepadaku : &#8220;Mengapa kamu tidak mengenakan baju Quthbiyah ?&#8221; Aku menjawab : Aku pakaiakan baju itu pada istriku. Nabi lalu bersabda : &#8220;Perintahkan ia agar mengenakan baju dalam di<br />
balik Quthbiyah itu, karena saya khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk tulangnya.&#8221; (Ad-Dhiya Al-Maqdisi dalam Al-Hadits Al-Mukhtarah I/441; Ahmad dan Al-Baihaqi dengan sanad Hasan). Aisyah pernah berkata : Seorang wanita dalam shalat harus mengenakan tiga pakaian : Baju, jilbab dan khimar. Adalah Aisyah pernah mengulurkan izar-nya (pakaian sejenis jubah) dan berjilbab<br />
dengannya. (Ibnu Sad VIII/71).</p>
<p>Pendapat yang senada juga dikatakan oleh Ibnu Umar : Jika seorang wanita menunaikan shalat, maka ia harus mengenakan seluruh pakainnya : Baju, khimar dan milhafah (mantel). (Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf II:26/1).</p>
<p>Ini semua juga menguatkan pendapat yang kami pegangi mengenai wajibnya menyatukan antara khimar dan jilbab bagi kaum wanita jika keluar rumah.</p>
<p>5. TIDAK DIBERI WEWANGIAN ATAU PARFUM<br />
Dari Abu Musa Al-Asyari bahwasannya ia berkata : Rasulullah bersabda : &#8220;Siapapun wanita yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum laki-laki agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina.&#8221; (An-Nasai II/283; Abu Daud II/192; At-Tirmidzi IV/17; Ahmad IV/100, Ibnu Khuzaimah III/91; Ibnu Hibban 1474; Al-Hakim II/396 dan disepakati oleh Adz-Dzahabi).</p>
<p>Dari Zainab Ats-Tsaqafiyah bahwasannya Nabi bersabda : &#8220;Jika salah seorang diantara kalian (kaum wanita) keluar menuju masjid, maka jangan sekali-kali mendekatinya dengan (memakai) wewangian.&#8221; (Muslim dan Abu Awanah dalam kedua kitab Shahih-nya; Ash-Shabus Sunan dn lainnya).</p>
<p>Dari Abu Hurairah bahwa ia berkata : Rasulullah bersabda : &#8220;Siapapun wanita yang memakai bakhur (wewangian yang berasal dari pengasapan), maka janganlah ia menyertai kami dalam menunaikan shalat Isya yang akhir.&#8221; (ibid)</p>
<p>Dari Musa bin Yasar dari Abu Hurairah : Bahwa seorang wanita berpapasan dengannya dan bau wewangian menerpanya. Maka Abu Hurairah berkata : Wahai hamba Allah ! Apakah kamu hendak ke masjid ? Ia menjawab : Ya. Abu Hurairah kemudian berkata : Pulanglah saja, lalu mandilah ! karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah bersabda : &#8220;Jika seorang wanita keluar menuju masjid sedangkan bau wewangian menghembus maka Allah tidak menerima shalatnya, sehingga ia pulang lagi menuju rumahnya lalu mandi.&#8221; (Al-Baihaqi III/133; Al-Mundziri III/94).</p>
<p>Alasan pelarangannya sudah jelas, yaitu bahwa hal itu akan membangkitkan nafsu birahi. Ibnu Daqiq Al-Id berkata : Hadits tersebut menunjukkan haramnya memakai wewangian bagi wanita yang hendak keluar menuju masjid, karena hal itu akan dapat membangkitkan nafsu birahi kaum laki-laki (Al-Munawi dalam Fidhul Qadhir dalam mensyarahkan hadits dari Abu Hurairah).</p>
<p>Saya (Al-Albany) katakan : Jika hal itu saja diharamkan bagi wanita yang hendak keluar menuju masjid, lalu apa hukumnya bagi yang hendak menuju pasar, atau tempat keramaian lainnya ? Tidak diragukan lagi bahwa hal itu jauh lebih haram dan lebih besar dosanya. Al-Haitsami dalam kitab AZ-Zawajir II/37 menyebutkan bahwa keluarnya seorang wanita dari rumahnya dengan memakai wewangian dn berhias adalah termasuk perbuatan kabair (dosa besar) meskipun suaminya mengizinkan.</p>
<p>6. TIDAK MENYERUPAI PAKAIAN LAKI-LAKI<br />
Karena ada beberapa hadits shahih yang melaknat wanita yang menyrupakan diri dengan kaum pria, baik dalam hal pakaian maupun lainnya.</p>
<p>Dari Abu Hurairah berkata : Rasulullah melaknat pria yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian pria (Abu Daud II/182; Ibnu Majah I/588; Ahmad II/325; Al-Hakim IV/19 disepakati oleh Adz-Dzahabi).</p>
<p>Dari Abdullah bin Amru yang berkata : Saya mendengar Rasulullah bersabda : &#8220;Tidak termasuk golongan kami para wanita yang menyerupakan diri dengan kaum pria dan kaum pria yang menyerupakan diri dengan kaum wanita.&#8221; (Ahmad II/199-200; Abu Nuaim dalam Al-Hilyah III/321)</p>
<p>Dari Ibnu Abbas yang berkata : Nabi melaknat kaum pria yang bertingkah kewanita-wanitaan dan kaum wanita yang bertingkah kelaki-lakian. Beliau bersabda : &#8220;Keluarkan mereka dari rumah kalian. Nabi pun mengeluarkan si fulan dan Umar juga mengeluarkan si fulan.&#8221; Dalam lafadz lain : &#8220;Rasulullah melaknat kaum pria yang menyerupakan diri dengan kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupakan diri<br />
dengan kaum pria.&#8221; (Al-Bukhari X/273-274; Abu Daud II/182,305; Ad-Darimy II/280-281; Ahmad no. 1982,2066,2123,2263,3391,3060,3151 dan 4358; At-Tirmidzi<br />
IV/16-17; Ibnu Majah V/189; At-Thayalisi no. 2679).</p>
<p>Dari Abdullah bin Umar yang berkata : Rasulullah bersabda : &#8220;Tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan memandang mereka pada hari kiamat; Orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang bertingkah kelaki-lakian dan menyerupakan diri dengan laki-laki dan dayyuts<br />
(orang yang tidak memiliki rasa cemburu).&#8221; (An-Nasai !/357; Al-Hakim I/72 dan IV/146-147 disepakati Adz-Dzahabi; Al-Baihaqi X/226 dan Ahmad II/182).</p>
<p>Dalam haits-hadits ini terkandung petunjuk yang jelas mengenai diharamkannya tindakan wanita menyerupai kaum pria, begitu pula sebaiknya.</p>
<p>Ini bersifat umum, meliputi masalah pakaian dan lainnya, kecuali hadits yang pertama yang hanya menyebutkan hukum dalam masalah pakaian saja.</p>
<p>7. TIDAK MENYERUPAI PAKAIAN WANITA-WANITA KAFIR<br />
Syariat Islam telah menetapkan bahwa kaum muslimin (laki-laki maupun perempuan) tidak boleh bertasyabuh (menyerupai) kepada orang-orang kafir, baik dalam ibadah, ikut merayakan hari raya, dan berpakain khas mereka. Dalilnya : Firman Allah surat Al-Hadid : 16, berbunyi : &#8220;Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang yang<br />
sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.&#8221; Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam Al-Iqtidha hal. 43 : Firman Allah &#8220;Janganlah mereka seperti&#8230;&#8221; merupakan larangan mutlak dari tindakan menyerupai mereka, di samping merupakan larangan<br />
khusus dari tindakan menyerupai mereka dalam hal membatunya hati akibat kemaksiatan. Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini (IV/310) berkata : Karena itu Allah melarang orang-orang beriman menyerupai mereka dalam perkara-perkara pokok maupun cabang.</p>
<p>Allah berfirman : &#8220;Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad) : &#8220;Raaina&#8221; tetapi katakanlah &#8220;Unzhurna&#8221; dan dengarlah. Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih.&#8221; Ibnu Katsir I/148 berkata : Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mnyerupai ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan orang-orang kafir. Sebab, orang-orang Yahudi suka menggunakan plesetan kata dengan tujuan mengejek. Jika mereka ingin mengatakan &#8220;Denagrlah<br />
kami&#8221; mereka mengatakan &#8220;Raaina&#8221; sebagai plesetan kata &#8220;ruunah&#8221; (artinya ketotolan) sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 46.</p>
<p>Allah telah memberi tahukan (dalm surat Al-Mujadalah : 22) bahwa tidak ada seorang mumin yang mencintai orang-orang kafir. Barangsiapa yang mencintai orang-orang kafir, maka ia bukan orang mumin, sedangkan tindakan menyerupakan diri secara lahiriah merupakan hal yang dicurigai sebagai wujud kecintaan, oleh karena itu diharamkan</p>
<p>8. BUKAN PAKAIAN UNTUK MENCARI POPULARITAS (PAKAIAN KEBESARAN)<br />
Berdasarkan hadits Ibnu Umar yang berkata : Rasulullah bersabda : &#8220;Barangsiapa mengenakan pakaian (libas) syuhrah di dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan kepadanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka.&#8221; (Abu Daud II/172; Ibnu Majah II/278-279).</p>
<p>Libas Syuhrah adalah setiap pakaian yang dipakai dengan tujuan untuk meraih popularitas di tengah-tengah orang banyak, baik pakain tersebut mahal, yang dipakai oleh seseorang untuk berbangga dengan dunia dan perhiasannya, maupun pakaian yang bernilai rendah, yang dipakai oleh seseorang untuk menampakkan kezuhudannya dan dengan tujuan riya (Asy-Syaukani dalam Nailul Authar II/94). Ibnul Atsir berkata : &#8220;Syuhrah artinya terlihatnya sesuatu. Maksud dari Libas Syuhrah adalah pakaiannya terkenal di kalangan orang-orang yang mengangkat pandangannya mereka kepadanya. Ia berbangga terhadap orang lain dengan sikap angkuh dan sombong.&#8221;</p>
<p>Kesimpulannya adalah :<br />
Hendaklah menutup seluruh badannya, kecuali wajah dan dua telapak dengan perincian sebagaimana yang telah dikemukakan, jilbab bukan merupakan perhiasan, tidak tipis, tidak ketat sehingga menampakkan bentuk tubuh, tidak disemprot parfum, tidak menyerupai pakaian kaum pria atau pakaian wanita-wanita kafir dan bukan merupakan pakaian untuk mencari popularitas.</p>
<p>Dikutip dari Kitab Jilbab Al-Marah Al-Muslimah fil Kitabi was Sunnah (Syaikh Al-Albany)</p>
<p>Sumber : milis assunnah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2009/01/jilbab-wanita-muslimah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
