<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Raudhah Al Ilmi &#187; Kisah Hikmah</title>
	<atom:link href="http://oryza.or.id/category/kisah-hikmah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://oryza.or.id</link>
	<description>Berilmu untuk Meraih Jannah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Oct 2009 13:37:14 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pelajaran Berharga dari Gadis Kecil</title>
		<link>http://oryza.or.id/2009/09/pelajaran-berharga-dari-gadis-kecil/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2009/09/pelajaran-berharga-dari-gadis-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 05:22:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Shalihah]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=394</guid>
		<description><![CDATA[Seorang gadis kecil pulang dari sekolah. Setibanya di rumah, ibunya melihat anak putrinya dirundung kesedihan. Maka ia pun bertanya kepada putrinya itu tentang sebab kesedihannya.
Anak: &#8220;Aduhai ibuku, sesungguhnya ibu guru telah mengancam akan mengusirku dari sekolah karena pakaian panjang yang kupakai.&#8221;
Ibu: &#8220;Tetapi itu adalah pakaian yang dikehendaki oleh Allah, wahai putriku.&#8221;
Anak: &#8220;Benar, wahai ibu, akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang gadis kecil pulang dari sekolah. Setibanya di rumah, ibunya melihat anak putrinya dirundung kesedihan. Maka ia pun bertanya kepada putrinya itu tentang sebab kesedihannya.</p>
<p>Anak: &#8220;Aduhai ibuku, sesungguhnya ibu guru telah mengancam akan mengusirku dari sekolah karena pakaian panjang yang kupakai.&#8221;</p>
<p>Ibu: &#8220;Tetapi itu adalah pakaian yang dikehendaki oleh Allah, wahai putriku.&#8221;</p>
<p>Anak: &#8220;Benar, wahai ibu, akan tetapi ibu guru tidak menghendakinya.&#8221;</p>
<p>Ibu: &#8220;Baiklah, wahai putriku, guru itu tidak menghendaki, tetapi Allah meng­hendakinya. Lalu siapakah yang akan kamu taati? Apakah kamu akan mentaati Allah yang telah menciptakanmu dan membentukmu, serta yang telah mengaruniakan kenikmatan kepadamu? Ataukah kamu akan mentaati seorang makhluk yang tidak mampu memberikan manfaat dan madharat kepada dirinya?&#8221;</p>
<p>Anak: &#8220;Sesungguhnya saya akan taat kepada Allah.&#8221;</p>
<p>Ibu: &#8220;Bagus, wahai putriku, kamu tepat sekali.&#8221; <span id="more-394"></span></p>
<p>Pada hari berikutnya, gadis kecil itu pergi dengan mengenakan baju yang panjang. Tatkala ibu guru melihatnya, ia langsung mencela dan memarahinya dengan keras. Gadis kecil itu tidak mampu memikul amarah tersebut, ditambah lagi oleh pandangan teman-teman perempuannya yang mengarah kepadanya.</p>
<p>Tidak ada yang ia lakukan selain berteriak menangis. Kemudian, gadis kecil itu mengeluarkan kata-kata yang besar maknanya meski sedikit jumlahnya, &#8220;Demi Allah, saya tidak tahu siapa yang akan saya taati, anda ataukah Dia?&#8221;</p>
<p>Ibu guru itu pun bertanya, &#8220;Siapakah Dia itu?&#8221;</p>
<p>Anak itu menjawab, &#8220;Allah. Apakah saya harus taat kepada anda, sehingga saya mesti memakai pakaian seperti yang engkau kehendaki, tetapi saya berbuat maksiat kepada-Nya. Ataukah saya mentaati-Nya dan tidak mentaati engkau? Ah, biarlah saya akan mentaati-Nya saja, dan apa yang terjadi terjadilah.&#8221;</p>
<p>Aduhai, betapa agungnya kalimat yang keluar dari mulut si kecil itu. Sebuah kalimat yang menampakkan wald (ketaatan) yang mutlak kepada Allah M. Gadis kecil itu bertekad untuk berpegang kuat dan taat ke­pada perintah Dzat Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa</p>
<p>Akan tetapi&#8230;.apakah bu guru itu hanya berdiam saja darinya?</p>
<p>Ibu guru itu meminta dipanggilkan ibu si anak kecil tersebut. Apa yang ia inginkan darinya?</p>
<p>Maka datanglah si ibu itu&#8230;</p>
<p>Ibu guru berkata kepada ibu anak kecil itu, &#8220;Sesungguhnya putri anda telah menasihatiku dengan nasihat paling besar yang pernah aku dengar di sepanjang hidupku.&#8221;</p>
<p>Benar, ibu guru telah mengambil pelajaran dan nasihat dari murid kecilnya. Ibu guru yang mengajarkan pendidikan dan telah mengambil bagian yang besar dari ilmu.</p>
<p>Seorang guru yang ilmunya tidak dapat menghalanginya untuk mengambil nasihat dari seorang gadis kecil yang mungkin seusia dengan putrinya.</p>
<p>Salam penghormatan, semoga terlimpahkan kepada guru ini. Salam peng­hormatan juga untuk gadis kecil yang telah memberikan pendidikan Islamiyah dan telah berpegang kepadanya.</p>
<p>Salam penghormatan untuk sang ibu yang telah menanamkan dalam diri putrinya rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Seorang ibu yang yang telah mengajarkan kepada putrinya rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p>Wahai ibu-ibu muslimah, di depan anda lah anak-anak anda. Mereka seperti adonan tepung. Anda bisa membentuknya sebagai-mana yang anda kehendaki, maka bersegera-lah untuk membentuk mereka dengan bentuk yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p>Ajarkanlah shalat kepada mereka<br />
Ajari mereka ketaatan kepada Allah<br />
Ajari mereka untuk bisa tetap tegar dan kokoh di atas kebenaran<br />
Ajarkanlah semua itu kepada mereka, sebelum mereka menginjak usia baligh.</p>
<p>Karena jika pada saat mereka masih kecil tidak mendapatkan pendidikan yang baik, maka sesungguhnya anda sekalian akan menyesal dengan penyesalan yang besar, karena mereka akan menjadi anak-anak yang menyimpang pada saat mereka telah dewasa.</p>
<p>Gadis kecil ini tidak hidup pada zaman Sahabat dan juga Tabi&#8217;in. Sesungguhnya ia hidup pada zaman modern sekarang ini.</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa, kita bisa menciptakan generasi-generasi semisal gadis kecil tersebut dengan izin Allah. Seorang gadis kecil yang bertakwa lagi berani untuk menampakkan kebenaran serta tidak takut akan cemoohan dan ejekan orang-orang, demi membela agama Allah.</p>
<p>Wahai saudariku yang beriman, inilah putrimu. Ia berada di hadapanmu. Berilah ia minum dengan air takwa dan keshalihan.</p>
<p>Perbaikilah lingkungannya dengan cara menjauhkannya dari air yang kotor serta bakteri yang membahayakan.</p>
<p>Hari-hari telah berada di hadapan anda— Perhatikanlah apa yang akan anda perbuat terhadap amanah yang telah dititipkan kepada anda oleh Allah Tuhan Pemilik langit dan bumi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2009/09/pelajaran-berharga-dari-gadis-kecil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syafa&#8217;at Kubra</title>
		<link>http://oryza.or.id/2009/09/syafaat-kubra/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2009/09/syafaat-kubra/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 08:37:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[syafaat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=426</guid>
		<description><![CDATA[Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata, &#8220;Suatu hari Rasulullah dibawakan daging. Lalu diberikan kepada beliau daging lengannya yang sangat beliau senangi. Beliau menggigitnya dengan sekali gigitan, kemudian bersabda, &#8216;Saya adalah penghulu manusia pada hari Kiamat. Apakah kalian tahu dalam hal apa itu?&#8217;
Pada hari Kiamat Allah mengumpulkan orang-orang yang pertama hingga terakhir di satu lembah. Mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata, &#8220;Suatu hari Rasulullah dibawakan daging. Lalu diberikan kepada beliau daging lengannya yang sangat beliau senangi. Beliau menggigitnya dengan sekali gigitan, kemudian bersabda, &#8216;Saya adalah penghulu manusia pada hari Kiamat. Apakah kalian tahu dalam hal apa itu?&#8217;</p>
<p>Pada hari Kiamat Allah mengumpulkan orang-orang yang pertama hingga terakhir di satu lembah. Mereka diperdengarkan panggilan. Mereka ditembus pandangan, dan matahari mendekat. Orang-orang sangat sedih dan menderita hingga tidak mampu memikulnya. Sebagian orang berkata kepada sebagian yang lain.&#8217; Tidakkah kalian melihat apa yang sedang terjadi pada kalian?&#8217; Tidakkah anda melihat penderitaan kita yang sudah sampai begini? Tidakkah kalian memandang ada orang yang bisa memintakan syafaat kepada Allah ?&#8217;</p>
<p>Sebagian berkata kepada yang lainnya, &#8216;Datanglah kepada Adam!&#8217; Maka mereka mendatangi Adam dan berkata, &#8216;Wahai Adam! Anda adalah bapaknya manusia. Allah menciptakanmu dengan Tangan-Nya dan meniupkan padamu ruh-Nya, lalu menyuruh malaikat untuk sujud kepadamu. Mintalah syafaat un­tuk kami kepada Tuhanmu! Tidakkah anda melihat apa yang sedang terjadi pada kami semuanya? Tidakkah anda melihat (penderitaan kami) yang sudah sampai begini?<span id="more-426"></span></p>
<p>Adam berkata, &#8216;Sesungguhnya Tuhanku hari ini murka dengan kemurkaan yang tidak pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan murka seperti itu sesudahnya. Dia melarangku dari pohon, tetapi aku melanggarnya. Diriku, diriku (jangan dimintai syafaat). Pergilah kepada selainku! Pergilah kepada Nuh.</p>
<p>Mereka mendatangi Nuh dan berkata, &#8216;Wahai Nuh! Anda adalah Rasul yang pertama di bumi. Allah menyebutmu hamba yang bersyukur. Mohonlah untuk kami syafaat kepada Tuhanmu! Tidakkah anda melihat apa yang sedang terjadi pada kami? Tidakkah anda melihat (penderitaan kami) yang sudah sampai begini?</p>
<p>Nuh berkata kepada mereka, &#8216;Sesungguhnya Tuhanku hari ini murka dengan kemurkaan yang tidak pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan murka seperti itu sesudahnya. Dulu, saya berdoa untuk kebinasaan kaumku. Diriku, diriku (jangan dimintai syafaat). Pergilah kepada Ibrahim.</p>
<p>Mereka mendatangi Ibrahim dan berkata, Wahai Ibrahim! Anda adalah nabiyullah dan khalil-Nya (kekasih-Nya) dari penduduk bumi. Mintalah syafaat bagi kami dari Tuhanmu. Tidakkah anda melihat apa yang sedang terjadi pada kami semuanya? Tidakkah anda melihat (penderitaan kami) yang sudah sampai begini?</p>
<p>Ibrahim berkata kepada mereka, &#8216;Sesungguhnya Tuhanku hari ini murka dengan kemurkaan yang tidak pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan murka seperti itu sesudahnya. Beliau menyebutkan beberapa kebohongannya. Diriku, diriku (jangan dimintai syafaat). Pergilah kepada Musa! Maka mereka pergi kepada Musa.</p>
<p>Mereka mendatangi Musa dan berkata, Wahai Musa! Anda adalah Rasulullah, Allah telah melebihkan anda dengan risalah-Nya dan dengan Kalam-Nya atas manusia. Mintalah syafaat bagi kami dari Tuhanmu. Tidakkah anda melihat apa yang sedang terjadi pada kami semuanya? Tidakkah anda melihat (penderitaan kami) yang sudah sampai begini?</p>
<p>Musa berkata kepada mereka, &#8216;Sesungguhnya Tuhanku hari ini murka dengan kemurkaan yang tidak pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan murka seperti itu sesudahnya. Saya telah membunuh seseorang yang saya tidak pernah diperintahkan untuk membunuhnya. Diriku, diriku, (jangan dimintai syafaat). Pergilah ke Isa! Maka mereka pergi ke Isa.</p>
<p>Mereka mendatangi Isa dan berkata, Wahai Isa! Anda adalah Rasulullah, anda bisa berbicara dengan orang-orang sejak masih dalam buaian, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam dan Ruh dari-Nya. Mintalah syafaat bagi kami dari Tuhanmu. Tidakkah anda melihat apa yang sedang terjadi pada kami semuanya? Tidakkah anda melihat (penderitaan kami) yang sudah sampai begini?</p>
<p>Isa berkata kepada mereka, &#8216;Sesungguhnya Tuhanku hari ini murka dengan kemurkaan yang tidak pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan murka seperti itu sesudahnya. Beliau tidak menyebutkan kesalahannya. Diriku, diriku, (jangan dimintai syafaat). Pergilah kepada selainku! Pergilah ke Muhammad!&#8217;</p>
<p>Mereka mendatangiku, Muhammad dan berkata, Wahai Muhammad! Anda adalah Rasulullah, penutup para Nabi, Allah telah memaafkan kesalahanmu yang sudah lewat atau yang akan da tang. Mintalah syafaat bagi kami dari Tuhanmu. Tidakkah anda melihat apa yang sedang kami rasakan sekarang? Tidakkah anda melihat (penderitaan kami) yang sudah sampai begini?</p>
<p>Saya pergi ke bawah Arsy dan bersujud kepada Tuhanku. Kemudian Allah membukakan hijab bagiku dan mengilhamiku dengan kalimat pujian-Nya dan sanjungan yang baik kepada-Nya, yang tidak pernah dibukakan untuk seorangpun sebelumnya.</p>
<p>Allah berfirman,,Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu! Mintalah, kamu akan diberi. Mintalah syafaat akan diberikan.&#8217; Saya mengangkat kepalaku, kemudian saya berkata, Ya Allah, umatku, umatku!</p>
<p>Allah berfirman, Wahai Muhammad, masukkan ke Surga dari umatmu yang tidak dihisab lewat pintu sebelah kanan dari pintu-pintu Surga, dan yang lainnya secara bersama-sama dari pintu-pintu yang lain.&#8217;</p>
<p>Demi jiwa Muhammad yang berada di Tangan-Nya, sesungguhnya antara dua pintu Surga seperti antara Makkah dan Madinah, atau seperti antara Makkah dan Bashrah.&#8221; (HR.Bukhari no. 3342 dan Muslim no. 194).</p>
<p>Disalin dari : 60 Kisah Shahih, Penerbit Elba</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2009/09/syafaat-kubra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dia Mati di Lantai Dansa</title>
		<link>http://oryza.or.id/2009/07/dia-mati-di-lantai-dansa/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2009/07/dia-mati-di-lantai-dansa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Jul 2009 02:39:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Su'ul Khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=386</guid>
		<description><![CDATA[Ada seorang biduanita jatuh mati di lantai dansa. Laa haula wa laa quwwata illaa billah (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).
Saya akan bercerita kepada anda tentang sebuah kisah nyata yang terjadi beberapa minggu lalu&#8230;..
Suatu malam, telah berlangsung sebuah pesta pernikahan di salah satu gedung hiburan kira-kira 6 atau 7 minggu yang lalu.
Di sanalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada seorang biduanita jatuh mati di lantai dansa. Laa haula wa laa quwwata illaa billah (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).</p>
<p>Saya akan bercerita kepada anda tentang sebuah kisah nyata yang terjadi beberapa minggu lalu&#8230;..</p>
<p>Suatu malam, telah berlangsung sebuah pesta pernikahan di salah satu gedung hiburan kira-kira 6 atau 7 minggu yang lalu.</p>
<p>Di sanalah wanita tersebut diundang. Ia mulai berdansa dan menari mengikuti irama lagu hingga selama beberapa jam. Dia memakai gaun hanya beberapa potong kain saja yang menutupi beberapa bagian tubuhnya&#8230;</p>
<p>Dia berbusana namun telanjang. Kita berlindung kepada Allah dari keadaan yang demikian itu&#8230;.. <span id="more-386"></span></p>
<p>Wanita itu terus berdansa dan menari hingga akhirnya dia jatuh pingsan di atas panggung sebelum kedua mempelai itu datang.</p>
<p>Para undangan wanita berusaha keras untuk menyadarkannya, akan tetapi tidak ada faedahnya. Lalu salah seorang teman perempuan pedansa yang diundang itu maju ke panggung dan berkata, &#8220;Aku tahu bagaimana menyadarkannya. Tambahkanlah musik dan gendang di sekitar kedua telinganya, maka ia akan bangkit dan sadar&#8230;&#8221;</p>
<p>Maka mereka pun menambah suara musik di sekitarnya selama beberapa menit, akan tetapi tetap saja tidak berguna&#8230;</p>
<p>Lalu sebagian undangan wanita memeriksanya, dan mereka mendapatinya telah mati!!!</p>
<p>Mereka pun segera menutupinya. Namun terjadi sesuatu yang mengejutkan yang belum pernah dibayangkan oleh seorang pun&#8230;</p>
<p>Aduhai, betapa dahsyatnya&#8230;.</p>
<p>Mayat itu tersingkap!!</p>
<p>Kain penutup yang digunakan untuk menutupinya tidak dapat menyelimuti tubuhnya. Kain penutup itu terbang setiap kali mereka berusaha untuk menutupi jasadnya, kain itu tersingkap naik ke atas dari salah satu sisinya. Sesekali kain penutup itu tersingkap dari arah dada, dan sesekali dari arah kedua paha, dan sesekali pula dari arah kepala dan kaki. Demikianlah seterusnya&#8230;..</p>
<p>Di tengah-tengah kejadian itu sebagian undangan wanita mengutus seseorang untuk memanggil suami wanita tersebut&#8230;</p>
<p>Mereka berusaha untuk menutupinya dengan kain penutup, akan tetapi tidak ada manfaatnya. Setiap kali mereka menutupinya, maka terbanglah kain penutup itu dari atasnya. Keadaan seperti itu terus berlangsung di tengah-tengah ketakutan para pengunjung wanita.</p>
<p>Beberapa saat kemudian, suaminya pun hadir dan dengan segera berusaha menutupi tubuh istrinya dengan kain mantelnya. Dia memegang satu ujung kain penutup itu, tetapi terangkatlah ujung yang lainnya. Ia memegang ujung yang lain, lalu ujung yang keempatnya terangkat. Keadaan seperti itu terus berlangsung sampai mereka meng-angkat wanita tersebut untuk dimandikan dan dikubur.</p>
<p>Kejadian yang mengejutkan kedua terjadi ketika mayat wanita itu dimandikan.</p>
<p>Demikianlah, hal itu terjadi pula pada kain kafan. Tatkala mereka meletakkan kain kafan di atasnya, maka terangkatlah ia dan menyingkap. Mereka berusaha berulang kali, namun tanpa faedah&#8230;..</p>
<p>Kerabat-kerabatnya yang hadir pada saat itu bertanya kepada salah seorang undangan tentang masalah ini dan dijawab,</p>
<p>&#8220;Dia dikubur sebagaimana adanya&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>Itulah bagiannya, dan itulah dunia yang ia usahakan. Kita berlindung kepada Allah dari hal itu. Maka ia pun dikubur sebagaimana halnya&#8230;&#8230;. dengan telanjang.</p>
<p>Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji&#8217;uun (Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya lah kita akan kembali).</p>
<p>DiSalin dari : Saudariku, Kapan Kembali ke Jalan Tuhanmu?, Ummu Abdillah, Pustaka elba 2008</p>
<p>Ilustrasi Gambar : flickr.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2009/07/dia-mati-di-lantai-dansa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di atas Kursi Pesawat</title>
		<link>http://oryza.or.id/2009/07/di-atas-kursi-pesawat/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2009/07/di-atas-kursi-pesawat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 02:09:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Jilbab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=383</guid>
		<description><![CDATA[
Wanita itu berkata, &#8220;Di kala itu aku adalah seorang gadis remaja. Aku menyukai kehidupan dan tidak suka mengingat mati!!
Aku segera meninggalkan majelis teman-teman wanitaku ketika salah seorang di antara mereka berbicara tentang kejadian yang menyedihkan atau kematian yang tiba-tiba, atau penyakit yang kronis!!
Aku selalu mengikuti perkembangan mode dengan kecintaan yang meluap-luap dan penuh kerinduan. Aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-401" title="pesawat" src="http://oryza.or.id/wp-content/uploads/2009/07/pesawat.jpg" alt="pesawat" width="240" height="154" /></p>
<p>Wanita itu berkata, &#8220;Di kala itu aku adalah seorang gadis remaja. Aku menyukai kehidupan dan tidak suka mengingat mati!!</p>
<p>Aku segera meninggalkan majelis teman-teman wanitaku ketika salah seorang di antara mereka berbicara tentang kejadian yang menyedihkan atau kematian yang tiba-tiba, atau penyakit yang kronis!!</p>
<p>Aku selalu mengikuti perkembangan mode dengan kecintaan yang meluap-luap dan penuh kerinduan. Aku bersemangat supaya aku dapat mengejarnya dan tidak ketinggalan beritanya sehingga jubahku yang hitam tidak ketinggalan tren mode pada saat itu.</p>
<p>Aku telah terperdaya oleh kecintaan terhadap sesuatu yang baru. Aku mengikuti berbagai gaya dan cara berpakaian. Maka kadang-kadang aku meletakkan kerudung di atas pundakku agar aku dapat menampakkan perhiasanku dan sedikit leherku&#8230;. <span id="more-383"></span></p>
<p>Cadarku, bahkan katakanlah cadar fitnah. Sesungguhnya aku mulai mengenakannya seiring dengan perkembangan mode dengan alasan aku tidak bisa melihat dari balik cadar. Maka kedua mataku aku perlihatkan bercelak dari sela-sela lubang cadarku, dan aku berjalan seraya mengikuti pandangan mata orang-orang yang ada di sekitarku.</p>
<p>Kelalaianku menjadikanku menyanyi senang ketika aku melihat mata wanita yang lewat dan orang-orang yang lemah memandang sekilas kepadaku dengan kagum dan menganggap asing!</p>
<p>Pada suatu hari aku pergi ke sebuah negara Barat. Aku tidak hanya memperindah jilbabku saja, akan tetapi aku mencampakkannya di atas kursi pesawat yang membawaku terbang berkelana!</p>
<p>Di negeri itu mataku terbelalak melihat seorang wanita berjilbab yang tidak tampak darinya sedikit pun. Baju luarnya panjang dan tebal. Kerudungnya panjang sekali. Aku mendekatinya, aku mendengar ia berbicara dengan logat bahasa asing!!</p>
<p>Aku kagum dan bertanya-tanya. Apakah dia seorang wanita Arab yang tinggal lama di Barat yang biasa bercakap-cakap dengan bahasa asing, sehingga memiliki kemampuan berbicara dengan bahasa asing secara mengagumkan ?!</p>
<p>Rasa ingin tahuku mendorongku untuk bertanya kepadanya, &#8220;Orang Arabkah anda?&#8221; &#8220;Bukan, aku adalah orang Kanada yang muslimah. Aku masuk Islam satu setengah tahun yang lalu, dan sejak itu aku adalah sebagaimana apa yang anda lihat. Aku mengenakan jilbabku. Aku berjalan, sementara kemulian dan kebanggaanku terhadap agamaku yang baru, keduanya berjalan mengiringiku&#8230;.&#8221;, jawabnya.</p>
<p>Aku meletakkan tanganku di atas kepalaku. Aku mencari jilbabku! Aku tidak menemukannya! Aku teringat bahwa aku telah membuangnya di atas kursi pesawat!</p>
<p>Aku mengulang-ulang kalimat-kalimat yang panas antara aku dan diriku, &#8220;Ya Allah &#8230;.wahai Tuhanku&#8230;. apakah wanita yang bukan keturunan Arab, yang belum pernah mengenal dan belum pernah beriman kepada-Mu kecuali sejak satu setengah tahun yang lalu, sedangkan aku&#8230;</p>
<p>Kakekku seorang muslim, ayahku seorang muslim. Ibuku, saudaraku, bahkan kaumku semuanya adalah muslim!! Aku tumbuh dan dibesarkan di atas ketaatan kepada-Mu. Aku terdidik di dalam lingkungan yang penduduknya beriman kepada-Mu, lalu bagaimana aku bisa lepas dari jilbabku dengan semudah ini, sedangkan dia berpegang teguh kepadanya?!!&#8221;</p>
<p>Seindah-indah kalung yang pertama kali dan yang paling murni adalah kalung ibadah. Maka jilbab itu termasuk salah satu ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebuah ayat yang merasuk ke dalam hati. Pembicaraan itu ditujukan kepada para istri Rasul dan putri-putrinya, serta kepada anda,</p>
<p>&#8220;Hai Nabi, katakanhh kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, Hendaklah mereka mengu-lurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka&#8221; (QS.Al-Ahzab:59)</p>
<p>Ibnu Abbas berkata, &#8220;Allah memerintahkan kepada wanita-wanita mukminah jika mereka keluar rumah untuk suatu keperluan, agar mereka menutupi wajah mereka dari atas kepala mereka dengan jilbab.&#8221;</p>
<p>Maka taatkala anda menjadikan jilbab secara syar&#8217;i itu di atas kepala anda dan anda mengulurkan kain penutup itu pada wajah anda sehingga tidak tampak dari diri anda sedikit pun, ketahuilah bahwa anda sedang berada di dalam ketaatan dan ibadah!</p>
<p>Hal itu akan semakin bertambah tatkala anda lebih banyak berpegang kepadanya, tetapi itu akan berkurang tatkala anda berlaku teledor dan lalai.</p>
<p>Disalin dengan sedikit perubahan dari : Saudariku, Kapan Kembali ke Jalan Tuhanmu?, Ummu Abdillah, Pustaka elba 2008</p>
<p>Ilustrasi gambar : flickr.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2009/07/di-atas-kursi-pesawat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wanita Penggenggam Bara Api 2</title>
		<link>http://oryza.or.id/2008/12/wanita-penggenggam-bara-api-2/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2008/12/wanita-penggenggam-bara-api-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Dec 2008 06:42:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah sebuah tulisan kepada wanita-wanita penggenggam bara api dimana Nabi pernah bersabda tentang mereka,”Akan datang suatu zaman kepada manusia di mana orang yang memegang agamanya ibarat orang yang menggenggam bara api.”(HR Tirmidzi 2140)
Tulisan bagi wanita shalihah lagi bertaqwa yang mengutamakan cinta dan perintah Allah Ta’ala dibanding mengekor Fulanah dan Fulanah, sehingga ia pun terasing [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah sebuah tulisan kepada wanita-wanita penggenggam bara api dimana Nabi pernah bersabda tentang mereka,”Akan datang suatu zaman kepada manusia di mana orang yang memegang agamanya ibarat orang yang menggenggam bara api.”(HR Tirmidzi 2140)</p>
<p>Tulisan bagi wanita shalihah lagi bertaqwa yang mengutamakan cinta dan perintah Allah Ta’ala dibanding mengekor Fulanah dan Fulanah, sehingga ia pun terasing di antara wanita lainnya.</p>
<p>Rasulullah bersabda,” Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing sebagaimana ia datang. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” Sahabat bertanya,” Siapakah orang-orang asing itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,” Yaitu orang-orang yang tetap shalih ketika manusia telah rusak.”(Silsilah ash Shahihah 1273).</p>
<p>Wanita-wanita yang meninggalkan kelezatan hidupnya dan mengemban cita agama, sehingga Allah melipatgandakan kebaikan mereka, menghapus keburukan mereka, mengangkat derajat mereka.</p>
<p>Dialah ratu yang duduk di singgasananya,diatas dipan-dipan yang terbujur dan permadani-permadani, Hidup di antara keluarga yang mencintai dan menghormati, dengan pelayan-pelayan yang siap mengabdi.</p>
<p>Akan tetapi ia adalah wanita mukminah yang menyembunyikan imannya. Dialah Asiyah, permaisuri Fir’aun. Ia hidup dalam kenikmatan yang tak terhingga. Seorang permaisuri yang berada di antara semerbak parfum dan wewangian , cantik, ceria dan bahagia. Dengan gaun-gaun panjang dan dikelilingi para dayang. <span id="more-126"></span></p>
<p>Saat malam menjulurkan tirainya, dia berdiri lama sambil bermunajad kepada Rabbnya. Ia perdengarkan bisikannya kepada langit sambil airmata terus mengalir. Ia terus berdoa hingga para malaikat berkerumun, sedang gelap malam melambai khusyu’. Saat dimana para wanita lainnya terlelap tidur, ia justru menjauhi pembaringan tersungkur sujud dengan hati yang tulus, ikhlas.</p>
<p>Saat Firaun mengetahui keimanannya, ia pun murka dan bersumpah serapah, akan menyiksa hingga mati atau kembali menyembah Fir’aun.</p>
<p>Fir’aun menyuruh para tentaranya untuk membawa sang permaisuri. Di hadapan Fir’aun  kedua kaki dan tangannya diikatkan pada pasak besi. Para tentaranya disuruh untuk mencambukinya hingga darah mengalir dari tubuhnya, daging terkoyak dari tulangnya.</p>
<p>Ketika siksa dirasa kian memuncak dan maut membayanginya, ia angkat pandangannya ke langit sambil berdoa,”Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di surga dan selamatkan aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” (QS At Tahrim :11)</p>
<p>Doanya terangkat ke langit …!</p>
<p>Ibnu Katsir berkata,” Dan Allah pun tunjukan rumahnya disurga kepadanya. Ia pun tersenyum…. lalu meninggal dunia…</p>
<p>Ia lebih memilih mati….</p>
<p>(Disadur dari tulisan Syaikh Dr Al ‘Uraifi “Al qabodhaatu ‘alal jamri”   media tarbiyah)</p>
<p>Sumber : http://ummuhanan08.wordpress.com/2008/11/11/wanita-penggenggam-bara-api/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2008/12/wanita-penggenggam-bara-api-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wanita Penggenggam Bara Api</title>
		<link>http://oryza.or.id/2008/12/wanita-penggenggam-bara-api/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2008/12/wanita-penggenggam-bara-api/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Dec 2008 06:40:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[Dialah wanita shalihah itu, yang hidup bersama sang suami dalam naungan kerajaan Fir’aun. Suaminya adalah orang dekat Fir’aun, sedangkan ia sendiri adalah pembantu dan pengasuh puteri &#8211; puteri Fir’aun.
Allah Ta’ala mengaruniakan keimanan kepada keduanya. Sang suami tidak sabar memberitahukan kepada Fir’aun, sehingga Fir’aun pun membunuhnya.
Sang isteri tetap bekerja di rumah Fir’aun sebagai penyisir rambut puteri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dialah wanita shalihah itu, yang hidup bersama sang suami dalam naungan kerajaan Fir’aun. Suaminya adalah orang dekat Fir’aun, sedangkan ia sendiri adalah pembantu dan pengasuh puteri &#8211; puteri Fir’aun.<br />
Allah Ta’ala mengaruniakan keimanan kepada keduanya. Sang suami tidak sabar memberitahukan kepada Fir’aun, sehingga Fir’aun pun membunuhnya.</p>
<p>Sang isteri tetap bekerja di rumah Fir’aun sebagai penyisir rambut puteri &#8211; puteri Fir’aun. Ia menafkahi anak &#8211; anaknya dan memberi mereka makan sebagaimana kasih sayang seorang induk burung yang memberi makan anak &#8211; anaknya.</p>
<p>Suatu hari…, ketika ia menyisir rambut seorang puteri Fir’aun, terjatuhlah sisir dari genggamannya.<br />
“Bismillah.” ucapnya.<br />
“Allah,,,??? Kenapa bukan ayahku?” sergah sang puteri Fir’aun.<br />
“Tidak, tetapi Allah!” Rabb-ku, Rabb-mu dan Rabb ayahmu.” jawab sang penyisir kepada puteri Fir’aun.</p>
<p>Namun sang puteri tidak rela apabila ada yang disembah selain ayahnya. Dan segera ia kabarkan hal itu kepada ayahnya. Fir’aun merasa heran ada orang di dalam istananya yang menyembah selainnya. Fir’aun pun memanggil sang penyisir rambut.<br />
“Siapa rabb-mu?” tanyanya.<br />
“Rabb-ku dan Rabb-mu adalah Allah.” jawabnya.<br />
Dia pun menyuruhnya untuk segera murtad dari agamanya. Fir’aun kemudian mengurung dan memukuli sang penyisir, namun usaha Fir’aun tersebut tak juga membuat sang penyisir murtad. Fir’aun minta disediakan tungku/panci dari tembaga yang dipenuhi minyak lalu dibakar hingga mendidih. <span id="more-125"></span></p>
<p>Wanita tersebut diberdirikan di hadapan tungku tadi. Melihat siksaan itu, ia malah yakin bahwa dirinya hanyalah sebuah jiwa yang ketika keluar, ia pun akan segera menjumpai Allah Ta’ala. Fir’aun tahu, insan terkasih wanita itu adalah kelima buah hatinya , anak &#8211; anak yatim yang ia perjuangkan dan ia nafkahi. Dia hendak menambah siksaannya dengan menghadirkan kelima anaknya yang masih belia.</p>
<p>Mata mereka tampak kebingungan, mereka anak &#8211; anak manis itu tidak tahu hendak digiring ke mana…Ketika melihat sang ibu, mereka langsung mendekap erat sambil menangis. Sang ibu lantas tundukkan badan, memeluk, mencium dan mengecup mereka sambil menangis tersedu. Ia dekap yang terkecil di antara mereka. Ia dekap ke dadanya dan ia peluk…</p>
<p>Melihat pemandangan ini, Fir’aun memerintahkan tentaranya untuk mengambil anak sulungnya. Para tentara itu segera menyeret untuk menceburkannya ke dalam minyak yang tengah mendidih. Sang anak memanggil &#8211; manggil ibunya. Ia meminta tolong sambil memelas di hadapan para tentara dan mengiba kepada Fir’aun. Ia terus meronta, berusaha melepaskan dan melarikan diri.</p>
<p>Ia memanggil &#8211; manggil adik &#8211; adiknya, ia pukuli para tentara dengan kedua tangan mungilnya. Para tentara pun menampar dan mendorongnya. Sang ibu hanya bisa memandang dan melepaskan kepergiannya.<br />
Tak lama berselang anak kecil itu pun dilempar ke dalam minyak. Sang ibu hanya bisa menangis sambil memandanginya, sedangkan saudara &#8211; saudaranya menutup mata mereka dengan tangan &#8211; tangan mungil mereka. Hingga tatkala daging tubuh bagian atasnya yang ringkih meleleh dan tulang belulangnya yang putih mengambang di atas minyak. Fir’aun lantas memalingkan pandangannya kepada sang ibu dan menyuruhnya untuk kufur kepada Allah. Namun sang ibu menolak.</p>
<p>Fir’aun pun murka, ia menyuruh untuk mengambil anak keduanya. Ia ditarik paksa dari sisi sang Ibu. Ia meraung &#8211; raung minta tolong. Hanya beberapa saat berselang, iapun dilemparkan ke dalam minyak. Lagi &#8211; lagi sang ibu, hanya bisa tertegun memandangnya. Hingga tulang &#8211; belulangnya yang putih mengapung dan bercampur dengan tulang saudaranya. Sang ibu tetap tegar dalam agamanya. Ia yakin akan perjumpaan dengan Rabb-nya.</p>
<p>Fir’aun kembali menyuruh para tentara untuk mengambil anak ketiga. Ia langsung diseret dan didekatkan ke tungku yang tengah mendidih itu. Ia segera diangkat dan diceburkan ke dalam minyak tadi. Ia pun mengalami nasib serupa dengan kedua kakaknya.<br />
Tetapi sang ibu tetap kokoh dalam agamanya…</p>
<p>Fir’aun kemudian menyuruh untuk melempar anak keempat ke dalam minyak. Para tentara segera mendatanginya. Ia masih kecil. Ia masih bergelayut di baju Ibunya. Ketika para tentara menariknya, ia menjerit sambil memegangi kedua kaki sang ibu, sedangkan sang ibu berusaha menggendongnya bersama adiknya.</p>
<p>Ia berusaha melepas kepergiannya, mencium dan mengecupnya sebelum berpisah. Para tentara itu pun memisahkan keduanya. Mereka raih kedua tangan mungil lalu menyeretnya, sementara ia terus dan terus menangis minta tolong. Ia merajut dengan kata &#8211; kata yang belum dapat dimengerti. Akan tetapi mereka tidak juga mengasihaninya…</p>
<p>Beberapa saat kemudian ia pun ditenggelamkan ke dalam minyak yang mendidih. Jasadnya lenyap dan suaranya hilang, disusul sang ibu mencium aroma daging. Tulang belulangnya yang kecil nan putih naik ke permukaan minyak yang menyemburkannya. Sang ibu memandangi tulang belulang itu. Sang anak telah meniggalkannya ke negeri lain. Ibu hanya bias menangis, tercacah oleh perpisahan dengan buah hati…<br />
Teringatlah dalam benak sang ibu, betapa dahulu ia mendekapnya ke dada dan menyusukannya. Seringkali ia terjaga ketika si buah hati bangun dari tidurnya dan menangis karena tangisannya. Entah berapa malam ia telah habiskan di pangkuan sang ibu sambil memain &#8211; mainkan rambutnya. Entah berapa kali sang ibu harus ambilkan mainan &#8211; mainannya dan ia kenakan pakaian kepadanya…<br />
Namun tetap ia paksakan dirinya untuk tetap tegar dan terus bertahan.<br />
Para tentara itu memandangi dan segera mendatanginya. Mereka renggut anak kelima yang masih menyusu itu dari kedua tangan ibundanya, padahal ia sedang mengulum puting ibunya…<br />
Terlepas dari ibunya, se kecilpun menjerit dan menangislah wanita malang itu. Tatkala Allah ta’ala melihat penghinaan besar terhadap sang ibu, juga kehilangan dan kesedihannya akan kepergian sang anak, Dia buat si kecil yang masih dalam buaian itu berbicara…!<br />
“Wahai Ibu,” sapanya<br />
“Bersabarlah, kerena sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.”<br />
Suara itu tak terdengar lagi olehnya. Si bungsu segera dibenamkan ke dalam tungku bersama saudara &#8211; saudaranya yang lain. Sang bayi ditenggelamkan ke dalam minyak ketika mulutnya masih menyisahkan susu dan di tangannya tersangkut sehelai rambut sang ibu dan di bajunya tersisa air mata sang ibunda…<br />
Kelima anaknya-pun pergilah sudah…Di sana, tulang &#8211; belulang mereka berkilapan dari dalam tungku. Gumpalan &#8211; gumpalan daging mereka tersembur bersama minyak. Wanita malang itu hanya mampu melihat…pada tulang belulang kecil itu…<br />
Tulang belulang siapa? Mereka tak lain adalah putra &#8211; putranya yang telah memenuhi rumahnya dengan tawa dan bahagia…mereka adalah permata hatinya…belahan jiwanya…yang ketika berpisah dengan mereka seakan hatinya tercabut dari rongga dadanya.<br />
Sering mereka berlarian dan berhamburan ke hadapannya…lalu sang ibu mendekap erat mereka di dadanya. Lalu ia kenakan baju mereka dengan tangannya. Ia usap linangan air mata mereka dengan jemarinya…Tetapi sekarang…inilah mereka, yang dirampas dari hadapannya, mereka dibunuh di depan kedua matanya. Mereka tinggalkan ia sendiri…mereka pergi darinya…dan sebentar lagi ia akan bersama mereka.<br />
Bisa saja ia menyelamatkan mereka dari siksa ini dengan kalimat kufur yang ia perdengarkan kepada Fir’aun. Namun ia sadar, apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan kekal.<br />
Kemudian tatkala tak ada lagi yang tersisa kecuali dirinya, para tentara pun segera mendatanginya bagai anjing &#8211; anjing buas. Mereka mendorongnya ke depan tungku. Ketika mereka mengangkat tubuhnya dan hendak melemparkan ke dalam minyak, ia pandangi tulang &#8211; belulang anaknya. Terbayang olehnya kebersamaan mereka dalam kehidupan ini. Lalu ia palingkan pandangannya kepada Fir’aun.<br />
“Aku minta kau kabulkan permintaanku…!” ucapnya.<br />
“Apa permintaanmu…???” teriak Fir’aun.<br />
“Kumpulkanlah tulang &#8211; tulangku dengan tulang anak anakku dan kuburkan dalam satu kuburan,” pintanya.<br />
Ia pejamkan matanya, lalu ia pun dilemparkan ke dalam tungku. Jasadnya pun mengambang dan tubuhnya pun terpanggang.<br />
Subhanallah…<br />
Agung nian ketabahan wanita penyisir rambut ini…Betapa banyak pahalanya.<br />
Pada malam isra’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat sebagian besar kenikmatan yang diraihnya. Maka, beliau ceritakan hal itu kepada para sahabat. Dalam riwayat al Baihaqi, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menuturkan…<br />
“Ketika aku di isra’kan, terhembuslah kepadaku aroma yang harum semerbak. Akupun bertanya, “aroma apa ini?” Maka dikatakan kepadaku,” Ini adalah wanita penyisir rambut puteri Fir’aun dan anak &#8211; anaknya.”<br />
Allahu Akbar…<br />
Wanita itu berlelah sebentar, namun kemudian banyak bersenang &#8211; senang…<br />
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup[1] disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka[2], bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.” (QS. Ali ‘Imran : 169-172)<br />
Wanita mukminah ini telah pergi menemui Penciptanya dan kini ia telah berada di sisi Rabb-nya.<br />
Saat ini diharapkan ia tengah berada di kebun &#8211; kebun dan dungai di tempat yang ia senangi, di sisi Raja yang berkuasa. Saat ini juga keadaannya lebih baik disbanding ketika di dunia, lebih berlipat nikmat dan kecantikannya…<br />
Nabi yang mulia bersabda…<br />
“Seandainya seorang wanita penduduk surga muncul ke hadapan penduduk bumi, niscaya teranglah antara keduanya dan ia pun akan memenuhinya dengan aroma wangi. Sungguh, kerudung yang ada di kepalanya lebih baik daripada dunia dan isinya…!” (HR. Al Bukhari no.2796 dari Ans ibn Malik)<br />
Kemudian beliau menuturkan lagi…<br />
“Barangsiapa yang masuk surga, maka ia akan mendapatkan kenikmatan dan tidak akan pernah sengsara, pakaiannya tidak pernah usang, dan masa mudanya tidak akan sirna. Di dalam Surga, ia memiliki apa yang tidak terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga manusia dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia. Barangsiapa masuk surge, maka dia akan terlupa akan kesengsaraan di dunia.” (HR. Muslim, dlm buku Silsilah ash Shahihah no. 1086)<br />
Maka, dari benak hati kita yang mana… kita tidak mau menyusul ibunda sang penyisir rambut ini…???<br />
Wahai akhwat, renungkanlah…<br />
Wahai ikhwan, perhatikanlah…<br />
Wahai diri kami yang hina ini, bersegeralah menuju kebaikan…<br />
(dikutip dari risalah Kemuliaan Muslimah Penggenggam Bara Api,Dr. Muhammad ibn ‘Abdirrahman al ‘Uraifi, Media Tarbiyah I/10-18)</p>
<p>Sumber : http://blog.padangsidimpuan.net/?p=33</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2008/12/wanita-penggenggam-bara-api/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perjalanan</title>
		<link>http://oryza.or.id/2008/12/perjalanan/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2008/12/perjalanan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 03:45:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[Saudariku tampak pucat dan kurus. Namun sebagaimana kebiasaannya, ia tetap membaca Al-Qur&#8217; an&#8230;
Jika Engkau mencarinya, pasti akan mendapatinya di tempat shalatnya, sedang rukuk, sujud dan mengangkat kedua tangannya ke atas langit&#8230; Demikianlah setiap pagi dan petang, juga di tengah malam buta, tak pernah berhenti dan tak pernah merasa bosan.
Sementara aku amat gemar membaca majalah-majalah seni [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saudariku tampak pucat dan kurus. Namun sebagaimana kebiasaannya, ia tetap membaca Al-Qur&#8217; an&#8230;</p>
<p>Jika Engkau mencarinya, pasti akan mendapatinya di tempat shalatnya, sedang rukuk, sujud dan mengangkat kedua tangannya ke atas langit&#8230; Demikianlah setiap pagi dan petang, juga di tengah malam buta, tak pernah berhenti dan tak pernah merasa bosan.</p>
<p>Sementara aku amat gemar membaca majalah-majalah seni dan buku-buku yang berisi cerita-cerita. Saya juga biasa menonton video, sampai aku dikenal sebagai orang yang keranjingan nonton.</p>
<p>Orang yang banyak melakukan satu hal, pasti akan ditandai dengan perbuatan itu. Aku tidak menjalankan kewajibanku dengan sempurna. Aku juga bukan orang yang melakukan shalat dengan rutin.</p>
<p>Setelah aku mematikan Video Player, setelah selama tiga jam aku menonton berbagai macam film berturut-turut, terdengarlah adzan dari masjid sebelah.</p>
<p>Akupun kembali ke pembaringanku. Wanita itu memanggilku dari arah mushallanya. &#8220;Apa yang engkau inginkan wahai Nurah?&#8221; Tanyaku. Dengan suara tajam saudariku itu berkata kepadaku: &#8220;Janganlah engkau tidur sebelum engkau menunaikan shalat Shubuh!&#8221; &#8220;Ah, masih tersisa satu jam lagi, yang engkau dengar tadi itu baru adzan pertama &#8230; &#8221; <span id="more-123"></span></p>
<p>Dengan suaranya yang penuh kasih -demikianlah sikapnya selalu sebelum terserang penyakit parah dan jatuh terbaring di atas kasurnya- saudariku itu kembali memanggil: &#8220;Mari sini Hanna, duduklah di sisiku.&#8221; Sungguh aku sama sekali tidak dapat menolak permintaannya, yang menunjukkan karakter asli dan kejujurannya &#8230; Tidak diragukan lagi, dengan pasrah, kupenuhi panggilannya.</p>
<p>&#8220;Apa yang engkau inginkan?&#8221; Tanyaku. &#8220;Duduklah.&#8221; Ujarnya, Akupun duduk. &#8220;Apa gerangan yang akan engkau utarakan?&#8221; Dengan suara renyah dan merdu, ia berkata:<br />
&#8220;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surah: Ali Imran ayat 85, (yang artinya):<br />
&#8220;Masing-masing jiwa akan mati. Sesungguhnya kalian hanya akan dipenuhi ganjaran kalian di hari Kiamat nanti &#8230; &#8221;</p>
<p>Dia diam sesaat. Kemudian ia bertanya kepadaku: &#8220;Apakah engkau percaya pada kematian?&#8221; &#8220;Tentu saja aku percaya.&#8221; Jawabku. &#8220;Apakah engkau percaya bahwa engkau akan dihisab terhadap perbuatan dosa besar maupun kecil&#8230;?&#8221; &#8220;Benar. Tetapi Allah itu Maha Pengampun, dan umur itu juga panjang..&#8221; Jawabku.<br />
&#8220;Hai saudariku! Tidakkah engkau takut akan mati mendadak? Lihatlah si Hindun yang lebih kecil darimu. la tewas dalam kecelakaan mobil. Juga si Fulanah dan si Fulanah.&#8221; Ujarnya. &#8220;Kematian tidak mengenal umur, dan tidak dapat diukur dengan umur..&#8221; Ujarnya lagi.</p>
<p>Dengan suara ngeri aku menjawab ucapannya di tengah ruang mushallanya yang gelap: &#8220;Sesungguhnya aku takut dengan kegelapan, sekarang engkau malah menakut-nakutiku dengan kematian, bagaimana sekarang aku bisa tidur? Aku kira sebelumnya, engkau bersedia untuk bepergian bersamaku dalam liburan ini.&#8221;<br />
Tiba-tiba suaranya terisak dan hatikupun terenyuh: &#8220;Kemungkinan, pada tahun ini aku akan bepergian jauh, ke negeri lain&#8230; Kemungkinan wahai Hanna&#8230; Umur itu di tangan Allah&#8230; Dan meledaklah tangisnya.</p>
<p>Aku merenung ketika ia terserang penyakit ganas. Para dokter secara berbisik memberitahukan kepada ayahku bahwa penyakitnya itu tidak akan membuatnya bertahan hidup lama. Tetapi siapa gerangan yang memberitahukan hal itu kepadanya? Atau ia memang sudah menanti-nantikan kejadian ini?<br />
&#8220;Apa yang sedang engkau fikirkan?&#8221; Terdengar suaranya, kali ini begitu keras. &#8220;Apakah engkau meyakini bahwa aku menyatakan hal itu karena aku sedang sakit? Tidak sama sekali. Bahkan mungkin umurku bisa lebih panjang dari orang-orang yang sehat. Dan engkau sampai kapan masih bisa hidup? Mungkin dua puluh tahun lagi. Mungkin juga empat puluh tahun lagi. Kemudian apa yang terjadi?&#8221; Tangannya tampak bersinar di tengah kegelapan, dan dihentakkan dengan keras.</p>
<p>Tak ada perbedaan antara kita semua. Masing-masing kita pasti akan pergi meninggalkan dunia ini; menuju Surga atau Neraka&#8230; Tidakkah engkau menyimak firman Allah dalam Al-Qur’an Surah: Ali Imran ayat: 185, yang artinya:<br />
&#8220;Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga maka sungguh ia lelah beruntung?&#8221;<br />
Semoga Pagi ini engkau baik-baik saja &#8230;</p>
<p>Dengan bergegas aku berjalan meninggalkannya, sementara suaranya mengetuk telingaku: &#8220;Semoga Allah memberi petunjuk kepadamu. Jangan lupa shalat.&#8221;<br />
Jam delapan pagi, aku mendengar ketukan pintu. Ini bukan waktu kebiasaanku untuk bangun. Terdengar suara tangis dan hiruk pikuk&#8230; Apa yang terjadi?<br />
Kondisi Nurah semakin parah. Ayahku segera membawanya ke rumah sakit. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi raaji&#8217;un.<br />
Tidak ada tamasya pada tahun ini. Sudah ditakdirkan aku untuk tinggal di rumah saja tahun ini. Pada jam satu waktu Zhuhur, ayahku menelepon dari rumah sakit: &#8220;Kalian bisa menjenguknya sekarang, ayo lekas!&#8221;<br />
Ibuku memberitahukan, bahwa ucapan ayahku terdengar gelisah dan suaranya juga terdengar berubah &#8230; Jubah panjangku kini sudah berada di tanganku ..</p>
<p>Mana sopirnya? Kamipun naik mobil dengan tergesa-gesa. Mana jalan yang biasa kulalui bersama sopirku untuk bertamasya yang biasanya terasa pendek? Kenapa sekarang terasa jauh sekali&#8230; , jauuuh sekali?! Mana lagi keramaian yang menyenangkan diriku agar aku bisa menengok ke kiri dan ke kanan? Kenapa sekarang terasa menyebalkan dan menyusahkan?</p>
<p>Ibuku berada di sampingku sedang mendoakan saudariku tersebut. Ia adalah wanita yang shalihah dan taat. Aku tidak pernah melihatnya menyia-nyiakan waktu sedikitpun&#8230;</p>
<p>Kami masuk melewati pintu luar rumah sakit&#8230; Terdengar suara orang sakit mengaduh. Ada lagi orang yang tertimpa musibah kecelakaan mobil. Ada pula orang yang kedua matanya bolong&#8230; Tak diketahui lagi, apakah ia masih penjuduk dunia, atau penduduk akhirat? Sungguh pemandangan yang mengherankan yang belum pernah kusaksikan sebelumnya&#8230;</p>
<p>Kami menaiki tangga dengan cepat&#8230; Ternyata dia berada di dalam kamar gawat darurat. Saya akan mengantar kalian kepadanya&#8230; Perawat meneruskan perkataannya bahwa ia seorang putri yang baik sekali, dan dia menenangkan Ibuku: &#8220;Sesungguhnya dia dalam keadaan baik setelah tadi mengalami pingsan&#8230; &#8220;.</p>
<p>&#8220;Dilarang masuk lebih dari satu orang&#8221;, demikian tertulis. &#8220;Ini kamar gawat darurat.&#8221;<br />
Melalui sela-sela beberapa orang dokter dan melalui celah•celah jendela kecil yang terdapat di kamar tersebut, aku melihat dengan kedua mata kepalaku sendiri saudariku Nurah sedang memandang ke arahku, sementara ibu berdiri di sampingnya&#8230; Setelah dua menit kemudian, ibuku keluar tanpa bisa menahan air matanya..</p>
<p>Mereka mengizinkanku masuk dan memberi salam kepadanya, dengan syarat, tidak boleh banyak berbicara kepadanya. &#8220;Dua menit, sudah cukup untuk saudari.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagaimana kabarmu wahai Nurah?&#8221; tanyaku. Kemarin sore engkau baik-baik saja, apa yang terjadi pada dirimu?! Dia menjawabku setelah terlebih dahulu menekan tanganku. &#8220;Alhamdulilllah, aku sekarang baik-baik saja&#8230; &#8221; Ujarnya lagi. &#8220;Alhamdulillah&#8230; tetapi tanganmu dingin?&#8221; Tanyaku..</p>
<p>Aku duduk di sisi pembaringannya sambil mengelus-elus betisnya. Namun ia menyingkirkan betisnya dariku&#8230; &#8220;Maaf, kalau aku mengganggumu&#8230; Oh tidak, aku hanya sedang memikirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an, surah: Al-Qiyaamah: 29-30, yang artinya:<br />
&#8220;Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau..&#8221;</p>
<p>Hendaknya engkau mendoakanku wahai saudariku Hanna, bisa jadi sebentar lagi aku akan menghadapi permulaan alam Akhirat&#8230; Perjalananku akan panjang, sementara bekalku amat sedikit&#8230;</p>
<p>Air mataku kontan berderai dari kedua belah mataku begitu aku mendengar ucapannya. Aku menangis, tidak lagi sadar di mana aku berada. Kedua mataku terus mengalirkan air mata karena tangisan, sehingga ayahku justru lebih mengkhawatirkan kondisiku daripada Nurah sendiri. Mereka sama sekali tidak terbiasa mendengar tangisan ini dan mengurung diri di kamarku..</p>
<p>Seiring tenggelamnya matahari, di hari yang penuh kedukaan&#8230; Muncullah keheningan panjang di rumah kami&#8230; Tiba-tiba masuklah saudari sepupu dari pihak ibuku dan saudari sepupu dari pihak ayahku.</p>
<p>Kejadian-kejadian yang sangat cepat&#8230; Orang-orang banyak berdatangan. Suara-suara ributpun terdengar bersahutan. Hanya satu yang aku ketahui: Nurah telah meninggal dunia.<br />
Aku tidak dapat lagi membedakan siapa yang datang. Aku juga tidak mengetahui lagi apa yang mereka ucapkan&#8230;.</p>
<p>Ya Allah. Di mana aku, dan apa yang sedang terjadi? Menangis pun, aku sudah tidak sanggup lagi.<br />
Setelah itu mereka memberitahuku bahwa ayahku menarik tanganku untuk mengucapkan selamat tinggal kepada saudariku, untuk terakhir kalinya. Aku juga sempat menciumnya. Aku hanya ingat satu hal: ketika aku melihatnya ditutupkan, di atas pembaringan maut. Aku ingat akan kata-katanya (yang artinya): &#8220;Ketika betis-betis bertautan,&#8221; akupun mengerti, bahwa: &#8220;semuanya tergiring menuju Rabbmu..&#8221;</p>
<p>Aku tidak ingat lagi bahwa aku pernah mengunjungi mushallanya, kecuali pada malam itu saja&#8230; Yakni ketika aku teringat, siapa yang menjadi pasanganku di rahim ibuku. Karena kami adalah dua anak kembar. Aku ingat, siapa yang selalu menemaniku dalam kedukaan. Aku ingat, siapa yang selalu menghilangkan kegundahanku. Siapa pula yang mendoakan diriku untuk mendapatkan petunjuk? Siapa pula yang berlinang air matanya sepanjang malam, ketika ia mengajakku berbicara tentang kematian, dan tentang hari hisab. Allah-lah yang menjadi tempat memohon pertolongan.</p>
<p>Inilah hari pertamanya di alam kubur. Ya Allah, berikanlah rahmat kepadanya di dalam kuburnya. Ya Allah berilah dia cahaya di dalam kuburnya.</p>
<p>Ini dia mushaf Al-Qur&#8217;annya, dan ini sajadahnya. Ini, ini dan ini lagi. Bahkan ini, ini adalah rok merahnya yang pernah dia nyatakan: akan kusimpan, untuk hari pernikahanku nanti!!<br />
Aku juga ingat, dan akupun menangisi hari-hari yang telah berlalu itu. Aku terus saja menangis dan menangis berkepanjangan. Aku berdoa kepada Allah, agar memberi rahmatNya kepadaku, memberi taubat dan mengampuni diriku. Aku juga berdoa semoga saudariku itu mendapatkan keteguhan dalam kuburnya, sebagaimana juga yang sering menjadi doanya.</p>
<p>Secara tiba-tiba, aku bertanya kepada diriku sendiri: Bagaimana bila yang meninggal dunia adalah diriku? Kemana kira-kira tempat kembaliku? Aku tidak mampu mencari jawaban karena besarnya rasa takut yang mencekam diriku. Meledaklah tangisku dengan keras&#8230;</p>
<p>Allahu Akbar, Allahu Akbar. Adzan Shubuh pun berkumandang. Namun betapa merdunya terdengar kali ini.<br />
Aku merasakan ketenangan dan ketentraman. Akupun mengulangi apa yang diucapkan oleh sang muadzin. Aku melipat selimutku dan berdiri tegak untuk melaksanakan shalat Shubuh. Aku shalat, bagaikan orang yang melakukannya untuk terakhir kali, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh saudariku dahulu. Dan ternyata, itu memang shalatnya yang terakhir.</p>
<p>Bila datang waktu sore, aku tidak lagi menunggu waktu pagi. Dan bila datang waktu pagi, aku tidak lagi menunggu waktu sore&#8230;</p>
<p> </p>
<p>Sumber : http://kisahislam.com/kisah-nyata/25-perjalanan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2008/12/perjalanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
