<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Raudhah Al Ilmi &#187; Birul walidain</title>
	<atom:link href="http://oryza.or.id/tag/birul-walidain/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://oryza.or.id</link>
	<description>Berilmu untuk Meraih Jannah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Oct 2009 13:37:14 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Haramnya Durhaka Kepada Kedua Orang Tua</title>
		<link>http://oryza.or.id/2008/08/haramnya-durhaka-kepada-kedua-orang-tua/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2008/08/haramnya-durhaka-kepada-kedua-orang-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Aug 2008 06:35:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kitab Birrul Walidain]]></category>
		<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Shalih]]></category>
		<category><![CDATA[Bina Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Birul walidain]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Shalihah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=449</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari meriwayatkan dalam Kitabul Adab dari jalan Abi Bakrah Radhiyallahu &#8216;anhu, telah bersabda Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.
&#8220;Artinya : Sukakah saya beritahukan kepadamu sebesar-besar dosa yang paling besar, tiga kali (beliau ulangi). Sahabat berkata, &#8216;Baiklah, ya Rasulullah&#8217;, bersabda Nabi. &#8220;Menyekutukan Allah, dan durhaka kepada kedua orang tua, serta camkanlah, dan saksi palsu dan perkataan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Imam Bukhari meriwayatkan dalam Kitabul Adab dari jalan Abi Bakrah Radhiyallahu &#8216;anhu, telah bersabda Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>&#8220;Artinya : Sukakah saya beritahukan kepadamu sebesar-besar dosa yang paling besar, tiga kali (beliau ulangi). Sahabat berkata, &#8216;Baiklah, ya Rasulullah&#8217;, bersabda Nabi. &#8220;Menyekutukan Allah, dan durhaka kepada kedua orang tua, serta camkanlah, dan saksi palsu dan perkataan bohong&#8221;. Maka Nabi selalu megulangi, &#8220;Dan persaksian palsu&#8221;, sehingga kami berkata, &#8220;semoga Nabi diam&#8221; [Hadits Riwayat Bukhari 3/151-152 -Fathul Baari 5/261 No. 2654, dan Muslim 87]</p>
<p>Dari hadits di atas dapat diketahui bahwa dosa besar yang paling besar setelah syirik adalah uququl walidain (durhaka kepda kedua orang tua). Dalam riwayat lain Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda bahwa diantara dosa-dosa besar yaitu menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh diri, dan sumpah palsu [Riwayat Bukhari dalam Fathul Baari 11/555]. Kemudian diantara dosa-dosa besar yang paling besar adalah seorang melaknat kedua orang tuanya [Hadits Riwayat Imam Bukhari]<span id="more-449"></span></p>
<p>Dari Mughirah bin Syu&#8217;bah Radhiyallahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya : Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan minta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan)&#8221; [Hadits Riwayat Bukhari (Fathul Baari 10/405 No. 5975) Muslim No. 1715 912)]</p>
<p>Hadits ini adalah salah satu hadits yang melarang seorang anak berbuat durhaka kepada kedua orang tuanya. Seorang anak yang berbuat durhaka berarti dia tidak masuk surga dengan sebab durhaka kepada kedua orang tuanya, sebagaimana Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya : Dari Abu Darda bahwasanya Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Tidak masuk surga anak yang durhaka, pe,imu, khamr (minuman keras) dan orang yang mendustakan qadar&#8221; [Hadits Riwayat Ahmad 6/441 dan di Hasankan oleh Al-Albani dalam Silsilah Hadits Shahihnya 675]</p>
<p>Diantara bentuk durhaka (uquq) adalah :</p>
<p>[1] Menimbulkan gangguan terhadap orang tua baik berupa perkataan (ucapan) ataupun perbuatan yang membuat orang tua sedih dan sakit hati.</p>
<p>[2] Berkata &#8216;ah&#8217; dan tidak memenuhi panggilan orang tua.</p>
<p>[3] Membentak atau menghardik orang tua.</p>
<p>[4] Bakhil, tidak mengurusi orang tuanya bahkan lebih mementingkan yang lain dari pada mengurusi orang tuanya padahal orang tuanya sangat membutuhkan. Seandainya memberi nafkah pun, dilakukan dengan penuh perhitungan.</p>
<p>[5] Bermuka masam dan cemberut dihadapan orang tua, merendahkan orang tua, mengatakan bodoh, &#8216;kolot&#8217; dan lain-lain.</p>
<p>[6] Menyuruh orang tua, misalnya menyapu, mencuci atau menyiapkan makanan. Pekerjaan tersebut sangat tidak pantas bagi orang tua, terutama jika mereka sudah tua atau lemah. Tetapi jika &#8216;Si Ibu&#8221; melakukan pekerjaan tersebut dengan kemauannya sendiri maka tidak mengapa dan karena itu anak harus berterima kasih.</p>
<p>[7] Menyebut kejelekan orang tua di hadapan orang banyak atau mencemarkan nama baik orang tua.</p>
<p>[8] Memasukkan kemungkaran kedalam rumah misalnya alat musik, mengisap rokok, dll.</p>
<p>[9] Mendahulukan taat kepada istri dari pada orang tua. Bahkan ada sebagian orang dengan teganya mengusir ibunya demi menuruti kemauan istrinya. Na&#8217;udzubillah.</p>
<p>[10] Malu mengakui orang tuanya. Sebagian orang merasa malu dengan keberadaan orang tua dan tempat tinggalnya ketika status sosialnya meningkat. Tidak diragukan lagi, sikap semacam ini adalah sikap yang amat tercela, bahkan termasuk kedurhakaan yang keji dan nista.</p>
<p>Semuanya itu termasuk bentuk-bentuk kedurhakaan kepada kedua orang tua. Oleh karena itu kita harus berhati-hati dan membedakan dalam berkata dan berbuat kepada kedua orang tua dengan kepada orang lain.</p>
<p>Akibat dari durhaka kepada kedua orang tua akan dirasakan di dunia. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Abu Daud dan Tirmidzi dari sahabat Abi Bakrah dikatakan.</p>
<p>&#8220;Artinya : Dari Abi Bakrah Radhiyallahu &#8216;anhu mengatakan bahwa Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berkata, &#8220;Tidak ada dosa yang Allah cepatkan adzabnya kepada pelakunya di dunia ini dan Allah juga akan mengadzabnya di akhirat yang pertama adalah berlaku zhalim, kedua memutuskan silaturahmi&#8221; [Hadits Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad (Shahih Adabul Mufrad No. 23), Abu Dawud (4902), Tirmidzi (2511), Ibnu Majah (4211). Ahmad 5/36 &amp; 38, Hakim 2/356 &amp; 4/162-163, Tirmidzi berkata, "Hadits Hasan Shahih", kata Al-Hakim, 'Shahih Sanadnya", Imam Dzahabi menyetujuinya]</p>
<p>Dalam hadits lain dikatakan.</p>
<p>&#8220;Artinya : Dua perbuatan dosa yang Allah cepatkan adzabnya (siksanya) di dunia yaitu berbuat zhalim dan al&#8217;uquq (durhaka kepdada orang tua)&#8221; [Hadits Riwayat Hakim 4/177 dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu] [1]</p>
<p>Keridlaan orang tua harus kita dahulukan dari pada keridlaan istri dan anak. Karena Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengatakan anak yang durhaka akan diadzab di dunia dan di akhirat serta tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.</p>
<p>Sedangkan dalam lafadz yang lain diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, Hakim, Ahmad dan juga yang lainnya, dikatakan :</p>
<p>&#8220;Artinya : Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu &#8216;anhu berkata, &#8216;Telah berkata Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, &#8216;Ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat yakni anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki dan kepala rumah tangga yang membiarkan adanya kejelekan (zina) dalam rumah tangganya&#8221; [Hadits Riwayat Hakim, Baihaqi, Ahmad 2/134]</p>
<p>Jadi, salah satu yang menyebabkan seseorang tidak masuk surga adalah durhaka kepada kedua orang tuanya.</p>
<p>Dapat kita lihat bahwa orang yang durhaka kepada orang tuanya hidupnya tidak berkah dan selalu mengalami berbagai macam kesulitan. Kalaupun orang tersebut kaya maka kekayaannya tidak akan menjadikannya bahagia.</p>
<p>Seandainya ada seorang anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya kemudian kedua orang tuanya tersebut mendo&#8217;akan kejelekan, maka do&#8217;a kedua orang tua tersebut bisa dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Sebab dalam hadits yang shahih Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;anhu, &#8216;Telah berkata Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, &#8216;Ada tiga do&#8217;a yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala -yang tidak diragukan tentang do&#8217;a ini-, yang pertama yaitu do&#8217;a kedua orang tua terhadap anaknya yang kedua do&#8217;a orang yang musafir -yang sedang dalam perjalanan-, yang ketiga do&#8217;a orang yang dizhalimi&#8221; [Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabaul Mufrad, Abu Dawud, dan Tirmidzi] [2]</p>
<p>Banyak sekali riwayat yang shahih yang menjelaskan tentang akibat buruk dari durhaka kepada orang tua di dunia maupun di akhirat. Ada juga kisah-kisah nyata tentang adzab (siksa) dari anak yang durhaka, dari kisah tersebut ada yang shahih ada juga yang dla&#8217;if (lemah). Diantara kisah yang dla&#8217;if yang sering dibawakan oleh para khatib (penceramah) yaitu kisah Al-Qamah yang durhaka kepada ibunya sampai mau dibakar oleh Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam hingga ibunya mema&#8217;afkannya. Akan tetapi kisah ini dla&#8217;if dilemahkan oleh para ulama ahli hadits [3].</p>
<p>[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, terbitan Darul Qolam - Jakarta]<br />
_________<br />
Foote Note.<br />
[1] Hadits Riwayat Bukhari dalam tarikh dan Thabrani dalam Mu&#8217;jam Kabir dari Abu Bakrah. Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Kitabnya Al-Mustadrak dari sahabat Anas. Lihat Silsilah Shahihah No. 1120 dan Shahih Jami&#8217;us Shagir No. 137 dan 2810.<br />
[2] Hadits Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad (Shahih Adabul Mufrad No. 24, 372), Abu Dawud 1536, Tirmidzi 1905, 3448, Ibnu Majah 3826, Ibnu Hibban 2406, At-Thayalishi 2517 dan Ahmad 2/258, 348, 478, 517, 523. Lihat Silsilah Hadits As-Shahihah No. 596<br />
[3] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Thabrani dan Ahmad dengan ringkas dalam sanadnya ada Fayid Abul Warqa&#8217; dia matruk (Majmuz Zawaaid 8/148), kata Ibnul Jauzi, &#8220;Hadits ini tidak shah dari Rasulullah karena dalam sanadnya ada Fayid Abu Warqa&#8221; Imam Ahmad berkata, &#8220;Ia matrukul hadits&#8221;, Ibnu Hibban berkata, &#8220;Tidak boleh berhujjah dengannya&#8221;. Kata Imam Abu Hatim, &#8220;Ia sering dusta&#8221; [Lihat Al-Maudluu'at, Ibnul Jauzi juz 3 hal 87]</p>
<p>Sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/544/slash/0</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2008/08/haramnya-durhaka-kepada-kedua-orang-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hak Ibu Lebih Besar Dari Pada Hak Ayah</title>
		<link>http://oryza.or.id/2008/07/hak-ibu-lebih-besar-dari-pada-hak-ayah/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2008/07/hak-ibu-lebih-besar-dari-pada-hak-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jul 2008 06:08:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kitab Birrul Walidain]]></category>
		<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Shalih]]></category>
		<category><![CDATA[Birul walidain]]></category>
		<category><![CDATA[Shalihah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=439</guid>
		<description><![CDATA[Di dalam surat Al-Ahqaf ayat 15 Allah Subhanahu wa Ta&#8217;alaa berfirman :
&#8220;Artinya : Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo&#8217;a, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di dalam surat Al-Ahqaf ayat 15 Allah Subhanahu wa Ta&#8217;alaa berfirman :</p>
<p>&#8220;Artinya : Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo&#8217;a, &#8220;Ya Rabb-ku, tunjukkilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridlai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri&#8221;. <span id="more-439"></span></p>
<p>Ukuran terendah mengandung sampai melahirkan adalah 6 bulan (pada umumnya adalah 9 bulan 10 hari) di tambah 2 tahun menyusui anak jadi 30 bulan, sehingga tidak bertentangan dengan surat Lukman ayat 14. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir]</p>
<p>Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar dari pada kepada bapak.</p>
<p>Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.</p>
<p>&#8220;Artinya : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;anhu ia berkata, &#8220;Datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan berkata, &#8216;Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali ?&#8217; Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjawab, &#8216;Ibumu!&#8217; Orang tersebut kembali bertanya, &#8216;Kemudian siapa lagi ?&#8217; Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjawab, &#8216;Ibumu!&#8217; Ia bertanya lagi, &#8216;Kemudian siapa lagi?&#8217; Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjawab, &#8216;Ibumu!&#8217;, Orang tersebut bertanya kembali, &#8216;Kemudian siapa lagi, &#8216;Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjawab, &#8216;Bapakmu&#8217; &#8220;[Hadits Riwayat Bukhari (Al-Fath 10/401) No. 5971, Muslim 2548]</p>
<p>Imam Adz-Dzhabai dalam kitabnya Al-Kabair berkata:<br />
&#8220;Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan seolah-olah sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dan dia telah menyusuimu dari teteknya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Dan dia cuci kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikannmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras.</p>
<p>Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik. Dia selalu mendo&#8217;akanmu dengan taufiq, baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat di sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga disisimu. Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar. Engkau puas dalam keadaan dia haus. Dan engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu. Dan engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia buat. Dan rasanya berat atasmu memeliharanya padahal adalah urusan yang mudah. Dan engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek. Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.</p>
<p>Padahal Allah telah melarangmu berkata &#8216;ah&#8217; dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut. Dan engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu. Dan Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul &#8216;Aalamin. Dan Allah berfirman di dalam surat Al-Hajj ayat 10 :</p>
<p>&#8220;Artinya : (Akan dikatakan kepadanya), &#8216;Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tanganmu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali tidak pernah berbuat zhalim kepada hamba-hambaNya&#8221;.</p>
<p>Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi tentang besarnya jasa seorang ibu terhadap anak dan menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak tidak bisa dihitung. Ketika Ibnu Umar menemui seseorang yang menggendong ibunya beliau mengatakan, &#8220;Itu belum bisa membalas&#8221;. Kemudian juga beberapa riwayat[1] disebutkan bahwa seandainya kita ingin membalas jasa orang tua kita dengan harta atau dengan yang lain, masih juga belum bisa membalas. Bahkan dikatakan oleh Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>&#8220;Artinya : Kamu dan hartamu milik bapakmu&#8221; [Hadits Riwayat Ibnu Majah dari Jabir, Thabrani dari Samurah dan Ibnu Mas'ud, Lihat Irwa'ul Ghalil 838]</p>
<p>[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, terbitan Darul Qolam - Jakarta]<br />
_________<br />
Foote Note.<br />
[1] Shahih Ibnu Majah No. 1855</p>
<p>Sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/457/slash/0</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2008/07/hak-ibu-lebih-besar-dari-pada-hak-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wasiat Berbuat Baik Kepada Orang Tua Tatkala Keduanya Berusia Lanjut</title>
		<link>http://oryza.or.id/2008/07/wasiat-berbuat-baik-kepada-orang-tua-tatkala-keduanya-berusia-lanjut/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2008/07/wasiat-berbuat-baik-kepada-orang-tua-tatkala-keduanya-berusia-lanjut/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jul 2008 05:54:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kitab Birrul Walidain]]></category>
		<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Shalih]]></category>
		<category><![CDATA[Birul walidain]]></category>
		<category><![CDATA[Shalihah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=436</guid>
		<description><![CDATA[Berbuat baik kepada kedua orang tua hukumnya wajib, baik waktu kita masih kecil, remaja atau sudah menikah dan sudah mempunyai anak bahkan saat kita sudah mempunyai cucu. Ketika kedua orang tua kita masih muda atau sudah lanjut usianya bahkan pikun kita tetap wajib berbakti kepada keduanya. Bahkan lebih ditekankan lagi apabila kedua orang tua sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berbuat baik kepada kedua orang tua hukumnya wajib, baik waktu kita masih kecil, remaja atau sudah menikah dan sudah mempunyai anak bahkan saat kita sudah mempunyai cucu. Ketika kedua orang tua kita masih muda atau sudah lanjut usianya bahkan pikun kita tetap wajib berbakti kepada keduanya. Bahkan lebih ditekankan lagi apabila kedua orang tua sudah tua dan lemah. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dalam surat Al-Isra&#8217; ayat 23 dan 24 dalam pembahasan sebelumnya.</p>
<p>Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman bahwa Rabb (Allah) telah memerintahkan kepada manusia agar tidak beribadah melainkan hanya kepada Allah saja. Kemudian hendaklah manusia berbuat sebaik-baiknya kepada kedua orang tuanya. Jika salah seorang atau kedua-duanya ada di sisinya dalam usia lanjut maka jangan katakan kepada keduanya perkataan &#8216;uh&#8217; serta tidak boleh membentak keduanya, memukulkan tangan, menghentakkan kaki karena hal itu termasuk durhaka kepada kedua orang tua. Dan katakanlah kepada keduanya dengan perkataan yang mulia.<span id="more-436"></span></p>
<p>Pada ayat ini Allah mengatakan &#8216;kibara&#8217;, kibar atau kibarussin artinya berusia lanjut, sedangkan &#8216;indaka&#8217; berarti pemeliharaan yaitu suatu kalimat yang menggambarkan makna tempat berlindung dan berteduh pada saat masa tua, lemah dan tidak berdaya. Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan tentang lebih ditekankannya berbuat baik pada kedua orang tua pada usia lanjut karena :</p>
<p>Pertama<br />
Keadaaan usia lanjut adalah keadaan dimana keduanya membutuhkan perlakuan yang lebih baik karena keadaannya pada saat itu sangat lemah.</p>
<p>Kedua<br />
Semakin tua usia orang tua berarti semakin lama orang tua bersama anak. Hal ini dapat menyebabkan &#8216;Si Anak&#8217; merasa berat sehingga dikhawatirkan akan berkurang berbuat baiknya, karena segala sesuatunya diurusi oleh anak dan keluarlah perkataan &#8216;ah&#8217; atau membentak atau dengan ucapan, &#8220;Orang tua ini menyusahkan&#8221;, atau yang lain. Apalagi apabila orang tuanya sudah pikun, akan membuat anak mudah marah atau benci kepadanya. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berwasiat agar manusia selalu ingat untuk berbakti kepada kedua orang tua.</p>
<p>Banyak sekali hadits-hadits yang menyebutkan tentang ruginya seseorang yang tidak berbakti kepada kedua orang tua pada waktu orang tua masih berada di sisi kita. Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh beberapa sahabat yaitu :</p>
<p>&#8220;Artinya : Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam beliau bersabda, &#8220;Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga&#8221; [Hadits Riwayat Muslim 2551, Ahmad 2:254, 346]</p>
<p>Kemudian hadits berikut ini :</p>
<p>&#8220;Artinya : Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam naik ke atas mimbar kemudian berkata, &#8220;Amin, amin, amin&#8221;. Para sahabat bertanya. &#8220;Kenapa engkau berkata &#8216;Amin, amin, amin, Ya Rasulullah?&#8221; Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Telah datang malaikat Jibril dan ia berkata : &#8216;Hai Muhammad celaka seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat kepadamu dan katakanlah amin!&#8217; maka kukatakan, &#8216;Amin&#8217;, kemudian Jibril berkata lagi, &#8216;Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!&#8217;, maka aku berkata : &#8216;Amin&#8217;. Kemudian Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berkata lagi. &#8216;Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya masih hidup tetapi justru tidak memasukkan dia ke surga dan katakanlah amin!&#8217; maka kukatakan, &#8216;Amin&#8221;. [Hadits Riwayat Bazzar dalama Majma'uz Zawaid 10/1675-166, Hakim 4/153 dishahihkannya dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi dari Ka'ab bin Ujrah, diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 644 [Shahih Al-Adabul Mufrad No. 500 dari Jabir bin Abdillah]</p>
<p>Pada umumnya seorang anak merasa berat dan malas memberi nafkah dan mengurusi kedua orang tuanya yang masih berusia lanjut. Namun Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjelaskan bahwa keberadaan kedua orang tua yang berusia lanjut itu adalah kesempatan paling baik untuk mendapatkan pahala dari Allah, dimudahkan rizki dan jembatan emas menuju surga. Karena itu sungguh rugi jika seorang anak menyia-nyiakan kesempatan yang paling berharga ini dengan mengabaikan hak-hak orang tuanya dan dengan sebab itu dia tidak masuk surga.</p>
<p>Jika kita mencoba membandingkan antara berbakti kepada kedua orang tua dengan jalan mengurusi kedua orang tua yang sudah lanjut usia atau bahkan sudah pikun yang berada di sisi kita dengan ketika kedua orang tua kita mengurusi dan mebesarkan serta mendidik kita sewaktu masih kecil, maka berbakti kepada keduanya masih terbilang labih ringan. Mungkin kita mengurusnya hanya beberapa tahun saja. Sedangkan mereka mengurus kita membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun. Dari mulai hamil, hingga dilahirkan kemudian disekolahkan. Kedua orang tua kita memberikan segala yang kita minta mungkin lebih dari 10 tahun bahkan sampai 25 tahun.</p>
<p>Ketika orang tua mengurusi kita, dia mendo&#8217;akan agar si anak hidup dengan baik dan menjadi anak yang shalih, tetapi ketika orang tua ada di sisi kita, di do&#8217;akan supaya cepat meninggal. Bahkan ada di antara mereka yang menyerahkan keduanya ke panti jompo. Ini adalah perbuatan dari anak-anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya.</p>
<p>Bagaimanapun keadaannya, kedudukan mereka tetaplah sebagai orang tua kita, walaupun mereka bodoh, kasar atau bahkan jahat kepada kita. Dialah yang melahirkan dan mengurusi kita, bukan orang lain. Maka kita wajib berbakti kepada keduanya bagaimanapun keadaannya. Seandainya dia berbuat syirik atau bid&#8217;ah, kita wajib mendakwahkan kepadanya dengan baik supaya dia kembali, kita do&#8217;akan supaya mendapatkan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, bukan diperlakukan dengan tidak baik, berbuat kasar atau pun yang lainnya.</p>
<p>[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, terbitan Darul Qolam - Jakarta]</p>
<p>Sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/417/slash/0</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2008/07/wasiat-berbuat-baik-kepada-orang-tua-tatkala-keduanya-berusia-lanjut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
