<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Raudhah Al Ilmi &#187; Shalihah</title>
	<atom:link href="http://oryza.or.id/tag/shalihah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://oryza.or.id</link>
	<description>Berilmu untuk Meraih Jannah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Oct 2009 13:37:14 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pelajaran Berharga dari Gadis Kecil</title>
		<link>http://oryza.or.id/2009/09/pelajaran-berharga-dari-gadis-kecil/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2009/09/pelajaran-berharga-dari-gadis-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 05:22:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Shalihah]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=394</guid>
		<description><![CDATA[Seorang gadis kecil pulang dari sekolah. Setibanya di rumah, ibunya melihat anak putrinya dirundung kesedihan. Maka ia pun bertanya kepada putrinya itu tentang sebab kesedihannya.
Anak: &#8220;Aduhai ibuku, sesungguhnya ibu guru telah mengancam akan mengusirku dari sekolah karena pakaian panjang yang kupakai.&#8221;
Ibu: &#8220;Tetapi itu adalah pakaian yang dikehendaki oleh Allah, wahai putriku.&#8221;
Anak: &#8220;Benar, wahai ibu, akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang gadis kecil pulang dari sekolah. Setibanya di rumah, ibunya melihat anak putrinya dirundung kesedihan. Maka ia pun bertanya kepada putrinya itu tentang sebab kesedihannya.</p>
<p>Anak: &#8220;Aduhai ibuku, sesungguhnya ibu guru telah mengancam akan mengusirku dari sekolah karena pakaian panjang yang kupakai.&#8221;</p>
<p>Ibu: &#8220;Tetapi itu adalah pakaian yang dikehendaki oleh Allah, wahai putriku.&#8221;</p>
<p>Anak: &#8220;Benar, wahai ibu, akan tetapi ibu guru tidak menghendakinya.&#8221;</p>
<p>Ibu: &#8220;Baiklah, wahai putriku, guru itu tidak menghendaki, tetapi Allah meng­hendakinya. Lalu siapakah yang akan kamu taati? Apakah kamu akan mentaati Allah yang telah menciptakanmu dan membentukmu, serta yang telah mengaruniakan kenikmatan kepadamu? Ataukah kamu akan mentaati seorang makhluk yang tidak mampu memberikan manfaat dan madharat kepada dirinya?&#8221;</p>
<p>Anak: &#8220;Sesungguhnya saya akan taat kepada Allah.&#8221;</p>
<p>Ibu: &#8220;Bagus, wahai putriku, kamu tepat sekali.&#8221; <span id="more-394"></span></p>
<p>Pada hari berikutnya, gadis kecil itu pergi dengan mengenakan baju yang panjang. Tatkala ibu guru melihatnya, ia langsung mencela dan memarahinya dengan keras. Gadis kecil itu tidak mampu memikul amarah tersebut, ditambah lagi oleh pandangan teman-teman perempuannya yang mengarah kepadanya.</p>
<p>Tidak ada yang ia lakukan selain berteriak menangis. Kemudian, gadis kecil itu mengeluarkan kata-kata yang besar maknanya meski sedikit jumlahnya, &#8220;Demi Allah, saya tidak tahu siapa yang akan saya taati, anda ataukah Dia?&#8221;</p>
<p>Ibu guru itu pun bertanya, &#8220;Siapakah Dia itu?&#8221;</p>
<p>Anak itu menjawab, &#8220;Allah. Apakah saya harus taat kepada anda, sehingga saya mesti memakai pakaian seperti yang engkau kehendaki, tetapi saya berbuat maksiat kepada-Nya. Ataukah saya mentaati-Nya dan tidak mentaati engkau? Ah, biarlah saya akan mentaati-Nya saja, dan apa yang terjadi terjadilah.&#8221;</p>
<p>Aduhai, betapa agungnya kalimat yang keluar dari mulut si kecil itu. Sebuah kalimat yang menampakkan wald (ketaatan) yang mutlak kepada Allah M. Gadis kecil itu bertekad untuk berpegang kuat dan taat ke­pada perintah Dzat Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa</p>
<p>Akan tetapi&#8230;.apakah bu guru itu hanya berdiam saja darinya?</p>
<p>Ibu guru itu meminta dipanggilkan ibu si anak kecil tersebut. Apa yang ia inginkan darinya?</p>
<p>Maka datanglah si ibu itu&#8230;</p>
<p>Ibu guru berkata kepada ibu anak kecil itu, &#8220;Sesungguhnya putri anda telah menasihatiku dengan nasihat paling besar yang pernah aku dengar di sepanjang hidupku.&#8221;</p>
<p>Benar, ibu guru telah mengambil pelajaran dan nasihat dari murid kecilnya. Ibu guru yang mengajarkan pendidikan dan telah mengambil bagian yang besar dari ilmu.</p>
<p>Seorang guru yang ilmunya tidak dapat menghalanginya untuk mengambil nasihat dari seorang gadis kecil yang mungkin seusia dengan putrinya.</p>
<p>Salam penghormatan, semoga terlimpahkan kepada guru ini. Salam peng­hormatan juga untuk gadis kecil yang telah memberikan pendidikan Islamiyah dan telah berpegang kepadanya.</p>
<p>Salam penghormatan untuk sang ibu yang telah menanamkan dalam diri putrinya rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Seorang ibu yang yang telah mengajarkan kepada putrinya rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p>Wahai ibu-ibu muslimah, di depan anda lah anak-anak anda. Mereka seperti adonan tepung. Anda bisa membentuknya sebagai-mana yang anda kehendaki, maka bersegera-lah untuk membentuk mereka dengan bentuk yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p>Ajarkanlah shalat kepada mereka<br />
Ajari mereka ketaatan kepada Allah<br />
Ajari mereka untuk bisa tetap tegar dan kokoh di atas kebenaran<br />
Ajarkanlah semua itu kepada mereka, sebelum mereka menginjak usia baligh.</p>
<p>Karena jika pada saat mereka masih kecil tidak mendapatkan pendidikan yang baik, maka sesungguhnya anda sekalian akan menyesal dengan penyesalan yang besar, karena mereka akan menjadi anak-anak yang menyimpang pada saat mereka telah dewasa.</p>
<p>Gadis kecil ini tidak hidup pada zaman Sahabat dan juga Tabi&#8217;in. Sesungguhnya ia hidup pada zaman modern sekarang ini.</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa, kita bisa menciptakan generasi-generasi semisal gadis kecil tersebut dengan izin Allah. Seorang gadis kecil yang bertakwa lagi berani untuk menampakkan kebenaran serta tidak takut akan cemoohan dan ejekan orang-orang, demi membela agama Allah.</p>
<p>Wahai saudariku yang beriman, inilah putrimu. Ia berada di hadapanmu. Berilah ia minum dengan air takwa dan keshalihan.</p>
<p>Perbaikilah lingkungannya dengan cara menjauhkannya dari air yang kotor serta bakteri yang membahayakan.</p>
<p>Hari-hari telah berada di hadapan anda— Perhatikanlah apa yang akan anda perbuat terhadap amanah yang telah dititipkan kepada anda oleh Allah Tuhan Pemilik langit dan bumi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2009/09/pelajaran-berharga-dari-gadis-kecil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Haramnya Durhaka Kepada Kedua Orang Tua</title>
		<link>http://oryza.or.id/2008/08/haramnya-durhaka-kepada-kedua-orang-tua/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2008/08/haramnya-durhaka-kepada-kedua-orang-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Aug 2008 06:35:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kitab Birrul Walidain]]></category>
		<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Shalih]]></category>
		<category><![CDATA[Bina Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Birul walidain]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Shalihah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=449</guid>
		<description><![CDATA[Imam Bukhari meriwayatkan dalam Kitabul Adab dari jalan Abi Bakrah Radhiyallahu &#8216;anhu, telah bersabda Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.
&#8220;Artinya : Sukakah saya beritahukan kepadamu sebesar-besar dosa yang paling besar, tiga kali (beliau ulangi). Sahabat berkata, &#8216;Baiklah, ya Rasulullah&#8217;, bersabda Nabi. &#8220;Menyekutukan Allah, dan durhaka kepada kedua orang tua, serta camkanlah, dan saksi palsu dan perkataan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Imam Bukhari meriwayatkan dalam Kitabul Adab dari jalan Abi Bakrah Radhiyallahu &#8216;anhu, telah bersabda Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>&#8220;Artinya : Sukakah saya beritahukan kepadamu sebesar-besar dosa yang paling besar, tiga kali (beliau ulangi). Sahabat berkata, &#8216;Baiklah, ya Rasulullah&#8217;, bersabda Nabi. &#8220;Menyekutukan Allah, dan durhaka kepada kedua orang tua, serta camkanlah, dan saksi palsu dan perkataan bohong&#8221;. Maka Nabi selalu megulangi, &#8220;Dan persaksian palsu&#8221;, sehingga kami berkata, &#8220;semoga Nabi diam&#8221; [Hadits Riwayat Bukhari 3/151-152 -Fathul Baari 5/261 No. 2654, dan Muslim 87]</p>
<p>Dari hadits di atas dapat diketahui bahwa dosa besar yang paling besar setelah syirik adalah uququl walidain (durhaka kepda kedua orang tua). Dalam riwayat lain Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda bahwa diantara dosa-dosa besar yaitu menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh diri, dan sumpah palsu [Riwayat Bukhari dalam Fathul Baari 11/555]. Kemudian diantara dosa-dosa besar yang paling besar adalah seorang melaknat kedua orang tuanya [Hadits Riwayat Imam Bukhari]<span id="more-449"></span></p>
<p>Dari Mughirah bin Syu&#8217;bah Radhiyallahu &#8216;anhu bahwa Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya : Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan minta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan)&#8221; [Hadits Riwayat Bukhari (Fathul Baari 10/405 No. 5975) Muslim No. 1715 912)]</p>
<p>Hadits ini adalah salah satu hadits yang melarang seorang anak berbuat durhaka kepada kedua orang tuanya. Seorang anak yang berbuat durhaka berarti dia tidak masuk surga dengan sebab durhaka kepada kedua orang tuanya, sebagaimana Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya : Dari Abu Darda bahwasanya Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Tidak masuk surga anak yang durhaka, pe,imu, khamr (minuman keras) dan orang yang mendustakan qadar&#8221; [Hadits Riwayat Ahmad 6/441 dan di Hasankan oleh Al-Albani dalam Silsilah Hadits Shahihnya 675]</p>
<p>Diantara bentuk durhaka (uquq) adalah :</p>
<p>[1] Menimbulkan gangguan terhadap orang tua baik berupa perkataan (ucapan) ataupun perbuatan yang membuat orang tua sedih dan sakit hati.</p>
<p>[2] Berkata &#8216;ah&#8217; dan tidak memenuhi panggilan orang tua.</p>
<p>[3] Membentak atau menghardik orang tua.</p>
<p>[4] Bakhil, tidak mengurusi orang tuanya bahkan lebih mementingkan yang lain dari pada mengurusi orang tuanya padahal orang tuanya sangat membutuhkan. Seandainya memberi nafkah pun, dilakukan dengan penuh perhitungan.</p>
<p>[5] Bermuka masam dan cemberut dihadapan orang tua, merendahkan orang tua, mengatakan bodoh, &#8216;kolot&#8217; dan lain-lain.</p>
<p>[6] Menyuruh orang tua, misalnya menyapu, mencuci atau menyiapkan makanan. Pekerjaan tersebut sangat tidak pantas bagi orang tua, terutama jika mereka sudah tua atau lemah. Tetapi jika &#8216;Si Ibu&#8221; melakukan pekerjaan tersebut dengan kemauannya sendiri maka tidak mengapa dan karena itu anak harus berterima kasih.</p>
<p>[7] Menyebut kejelekan orang tua di hadapan orang banyak atau mencemarkan nama baik orang tua.</p>
<p>[8] Memasukkan kemungkaran kedalam rumah misalnya alat musik, mengisap rokok, dll.</p>
<p>[9] Mendahulukan taat kepada istri dari pada orang tua. Bahkan ada sebagian orang dengan teganya mengusir ibunya demi menuruti kemauan istrinya. Na&#8217;udzubillah.</p>
<p>[10] Malu mengakui orang tuanya. Sebagian orang merasa malu dengan keberadaan orang tua dan tempat tinggalnya ketika status sosialnya meningkat. Tidak diragukan lagi, sikap semacam ini adalah sikap yang amat tercela, bahkan termasuk kedurhakaan yang keji dan nista.</p>
<p>Semuanya itu termasuk bentuk-bentuk kedurhakaan kepada kedua orang tua. Oleh karena itu kita harus berhati-hati dan membedakan dalam berkata dan berbuat kepada kedua orang tua dengan kepada orang lain.</p>
<p>Akibat dari durhaka kepada kedua orang tua akan dirasakan di dunia. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Abu Daud dan Tirmidzi dari sahabat Abi Bakrah dikatakan.</p>
<p>&#8220;Artinya : Dari Abi Bakrah Radhiyallahu &#8216;anhu mengatakan bahwa Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berkata, &#8220;Tidak ada dosa yang Allah cepatkan adzabnya kepada pelakunya di dunia ini dan Allah juga akan mengadzabnya di akhirat yang pertama adalah berlaku zhalim, kedua memutuskan silaturahmi&#8221; [Hadits Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad (Shahih Adabul Mufrad No. 23), Abu Dawud (4902), Tirmidzi (2511), Ibnu Majah (4211). Ahmad 5/36 &amp; 38, Hakim 2/356 &amp; 4/162-163, Tirmidzi berkata, "Hadits Hasan Shahih", kata Al-Hakim, 'Shahih Sanadnya", Imam Dzahabi menyetujuinya]</p>
<p>Dalam hadits lain dikatakan.</p>
<p>&#8220;Artinya : Dua perbuatan dosa yang Allah cepatkan adzabnya (siksanya) di dunia yaitu berbuat zhalim dan al&#8217;uquq (durhaka kepdada orang tua)&#8221; [Hadits Riwayat Hakim 4/177 dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu] [1]</p>
<p>Keridlaan orang tua harus kita dahulukan dari pada keridlaan istri dan anak. Karena Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengatakan anak yang durhaka akan diadzab di dunia dan di akhirat serta tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.</p>
<p>Sedangkan dalam lafadz yang lain diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, Hakim, Ahmad dan juga yang lainnya, dikatakan :</p>
<p>&#8220;Artinya : Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu &#8216;anhu berkata, &#8216;Telah berkata Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, &#8216;Ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat yakni anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki dan kepala rumah tangga yang membiarkan adanya kejelekan (zina) dalam rumah tangganya&#8221; [Hadits Riwayat Hakim, Baihaqi, Ahmad 2/134]</p>
<p>Jadi, salah satu yang menyebabkan seseorang tidak masuk surga adalah durhaka kepada kedua orang tuanya.</p>
<p>Dapat kita lihat bahwa orang yang durhaka kepada orang tuanya hidupnya tidak berkah dan selalu mengalami berbagai macam kesulitan. Kalaupun orang tersebut kaya maka kekayaannya tidak akan menjadikannya bahagia.</p>
<p>Seandainya ada seorang anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya kemudian kedua orang tuanya tersebut mendo&#8217;akan kejelekan, maka do&#8217;a kedua orang tua tersebut bisa dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Sebab dalam hadits yang shahih Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>&#8220;Artinya : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;anhu, &#8216;Telah berkata Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, &#8216;Ada tiga do&#8217;a yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala -yang tidak diragukan tentang do&#8217;a ini-, yang pertama yaitu do&#8217;a kedua orang tua terhadap anaknya yang kedua do&#8217;a orang yang musafir -yang sedang dalam perjalanan-, yang ketiga do&#8217;a orang yang dizhalimi&#8221; [Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabaul Mufrad, Abu Dawud, dan Tirmidzi] [2]</p>
<p>Banyak sekali riwayat yang shahih yang menjelaskan tentang akibat buruk dari durhaka kepada orang tua di dunia maupun di akhirat. Ada juga kisah-kisah nyata tentang adzab (siksa) dari anak yang durhaka, dari kisah tersebut ada yang shahih ada juga yang dla&#8217;if (lemah). Diantara kisah yang dla&#8217;if yang sering dibawakan oleh para khatib (penceramah) yaitu kisah Al-Qamah yang durhaka kepada ibunya sampai mau dibakar oleh Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam hingga ibunya mema&#8217;afkannya. Akan tetapi kisah ini dla&#8217;if dilemahkan oleh para ulama ahli hadits [3].</p>
<p>[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, terbitan Darul Qolam - Jakarta]<br />
_________<br />
Foote Note.<br />
[1] Hadits Riwayat Bukhari dalam tarikh dan Thabrani dalam Mu&#8217;jam Kabir dari Abu Bakrah. Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Kitabnya Al-Mustadrak dari sahabat Anas. Lihat Silsilah Shahihah No. 1120 dan Shahih Jami&#8217;us Shagir No. 137 dan 2810.<br />
[2] Hadits Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad (Shahih Adabul Mufrad No. 24, 372), Abu Dawud 1536, Tirmidzi 1905, 3448, Ibnu Majah 3826, Ibnu Hibban 2406, At-Thayalishi 2517 dan Ahmad 2/258, 348, 478, 517, 523. Lihat Silsilah Hadits As-Shahihah No. 596<br />
[3] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Thabrani dan Ahmad dengan ringkas dalam sanadnya ada Fayid Abul Warqa&#8217; dia matruk (Majmuz Zawaaid 8/148), kata Ibnul Jauzi, &#8220;Hadits ini tidak shah dari Rasulullah karena dalam sanadnya ada Fayid Abu Warqa&#8221; Imam Ahmad berkata, &#8220;Ia matrukul hadits&#8221;, Ibnu Hibban berkata, &#8220;Tidak boleh berhujjah dengannya&#8221;. Kata Imam Abu Hatim, &#8220;Ia sering dusta&#8221; [Lihat Al-Maudluu'at, Ibnul Jauzi juz 3 hal 87]</p>
<p>Sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/544/slash/0</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2008/08/haramnya-durhaka-kepada-kedua-orang-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hak Ibu Lebih Besar Dari Pada Hak Ayah</title>
		<link>http://oryza.or.id/2008/07/hak-ibu-lebih-besar-dari-pada-hak-ayah/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2008/07/hak-ibu-lebih-besar-dari-pada-hak-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jul 2008 06:08:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kitab Birrul Walidain]]></category>
		<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Shalih]]></category>
		<category><![CDATA[Birul walidain]]></category>
		<category><![CDATA[Shalihah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=439</guid>
		<description><![CDATA[Di dalam surat Al-Ahqaf ayat 15 Allah Subhanahu wa Ta&#8217;alaa berfirman :
&#8220;Artinya : Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo&#8217;a, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di dalam surat Al-Ahqaf ayat 15 Allah Subhanahu wa Ta&#8217;alaa berfirman :</p>
<p>&#8220;Artinya : Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo&#8217;a, &#8220;Ya Rabb-ku, tunjukkilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridlai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri&#8221;. <span id="more-439"></span></p>
<p>Ukuran terendah mengandung sampai melahirkan adalah 6 bulan (pada umumnya adalah 9 bulan 10 hari) di tambah 2 tahun menyusui anak jadi 30 bulan, sehingga tidak bertentangan dengan surat Lukman ayat 14. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir]</p>
<p>Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar dari pada kepada bapak.</p>
<p>Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.</p>
<p>&#8220;Artinya : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;anhu ia berkata, &#8220;Datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan berkata, &#8216;Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali ?&#8217; Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjawab, &#8216;Ibumu!&#8217; Orang tersebut kembali bertanya, &#8216;Kemudian siapa lagi ?&#8217; Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjawab, &#8216;Ibumu!&#8217; Ia bertanya lagi, &#8216;Kemudian siapa lagi?&#8217; Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjawab, &#8216;Ibumu!&#8217;, Orang tersebut bertanya kembali, &#8216;Kemudian siapa lagi, &#8216;Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjawab, &#8216;Bapakmu&#8217; &#8220;[Hadits Riwayat Bukhari (Al-Fath 10/401) No. 5971, Muslim 2548]</p>
<p>Imam Adz-Dzhabai dalam kitabnya Al-Kabair berkata:<br />
&#8220;Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan seolah-olah sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dan dia telah menyusuimu dari teteknya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Dan dia cuci kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikannmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras.</p>
<p>Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik. Dia selalu mendo&#8217;akanmu dengan taufiq, baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat di sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga disisimu. Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar. Engkau puas dalam keadaan dia haus. Dan engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu. Dan engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia buat. Dan rasanya berat atasmu memeliharanya padahal adalah urusan yang mudah. Dan engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek. Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.</p>
<p>Padahal Allah telah melarangmu berkata &#8216;ah&#8217; dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut. Dan engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu. Dan Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul &#8216;Aalamin. Dan Allah berfirman di dalam surat Al-Hajj ayat 10 :</p>
<p>&#8220;Artinya : (Akan dikatakan kepadanya), &#8216;Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tanganmu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali tidak pernah berbuat zhalim kepada hamba-hambaNya&#8221;.</p>
<p>Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi tentang besarnya jasa seorang ibu terhadap anak dan menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak tidak bisa dihitung. Ketika Ibnu Umar menemui seseorang yang menggendong ibunya beliau mengatakan, &#8220;Itu belum bisa membalas&#8221;. Kemudian juga beberapa riwayat[1] disebutkan bahwa seandainya kita ingin membalas jasa orang tua kita dengan harta atau dengan yang lain, masih juga belum bisa membalas. Bahkan dikatakan oleh Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>&#8220;Artinya : Kamu dan hartamu milik bapakmu&#8221; [Hadits Riwayat Ibnu Majah dari Jabir, Thabrani dari Samurah dan Ibnu Mas'ud, Lihat Irwa'ul Ghalil 838]</p>
<p>[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, terbitan Darul Qolam - Jakarta]<br />
_________<br />
Foote Note.<br />
[1] Shahih Ibnu Majah No. 1855</p>
<p>Sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/457/slash/0</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2008/07/hak-ibu-lebih-besar-dari-pada-hak-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wasiat Berbuat Baik Kepada Orang Tua Tatkala Keduanya Berusia Lanjut</title>
		<link>http://oryza.or.id/2008/07/wasiat-berbuat-baik-kepada-orang-tua-tatkala-keduanya-berusia-lanjut/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2008/07/wasiat-berbuat-baik-kepada-orang-tua-tatkala-keduanya-berusia-lanjut/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jul 2008 05:54:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kitab Birrul Walidain]]></category>
		<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Shalih]]></category>
		<category><![CDATA[Birul walidain]]></category>
		<category><![CDATA[Shalihah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=436</guid>
		<description><![CDATA[Berbuat baik kepada kedua orang tua hukumnya wajib, baik waktu kita masih kecil, remaja atau sudah menikah dan sudah mempunyai anak bahkan saat kita sudah mempunyai cucu. Ketika kedua orang tua kita masih muda atau sudah lanjut usianya bahkan pikun kita tetap wajib berbakti kepada keduanya. Bahkan lebih ditekankan lagi apabila kedua orang tua sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berbuat baik kepada kedua orang tua hukumnya wajib, baik waktu kita masih kecil, remaja atau sudah menikah dan sudah mempunyai anak bahkan saat kita sudah mempunyai cucu. Ketika kedua orang tua kita masih muda atau sudah lanjut usianya bahkan pikun kita tetap wajib berbakti kepada keduanya. Bahkan lebih ditekankan lagi apabila kedua orang tua sudah tua dan lemah. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dalam surat Al-Isra&#8217; ayat 23 dan 24 dalam pembahasan sebelumnya.</p>
<p>Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman bahwa Rabb (Allah) telah memerintahkan kepada manusia agar tidak beribadah melainkan hanya kepada Allah saja. Kemudian hendaklah manusia berbuat sebaik-baiknya kepada kedua orang tuanya. Jika salah seorang atau kedua-duanya ada di sisinya dalam usia lanjut maka jangan katakan kepada keduanya perkataan &#8216;uh&#8217; serta tidak boleh membentak keduanya, memukulkan tangan, menghentakkan kaki karena hal itu termasuk durhaka kepada kedua orang tua. Dan katakanlah kepada keduanya dengan perkataan yang mulia.<span id="more-436"></span></p>
<p>Pada ayat ini Allah mengatakan &#8216;kibara&#8217;, kibar atau kibarussin artinya berusia lanjut, sedangkan &#8216;indaka&#8217; berarti pemeliharaan yaitu suatu kalimat yang menggambarkan makna tempat berlindung dan berteduh pada saat masa tua, lemah dan tidak berdaya. Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan tentang lebih ditekankannya berbuat baik pada kedua orang tua pada usia lanjut karena :</p>
<p>Pertama<br />
Keadaaan usia lanjut adalah keadaan dimana keduanya membutuhkan perlakuan yang lebih baik karena keadaannya pada saat itu sangat lemah.</p>
<p>Kedua<br />
Semakin tua usia orang tua berarti semakin lama orang tua bersama anak. Hal ini dapat menyebabkan &#8216;Si Anak&#8217; merasa berat sehingga dikhawatirkan akan berkurang berbuat baiknya, karena segala sesuatunya diurusi oleh anak dan keluarlah perkataan &#8216;ah&#8217; atau membentak atau dengan ucapan, &#8220;Orang tua ini menyusahkan&#8221;, atau yang lain. Apalagi apabila orang tuanya sudah pikun, akan membuat anak mudah marah atau benci kepadanya. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berwasiat agar manusia selalu ingat untuk berbakti kepada kedua orang tua.</p>
<p>Banyak sekali hadits-hadits yang menyebutkan tentang ruginya seseorang yang tidak berbakti kepada kedua orang tua pada waktu orang tua masih berada di sisi kita. Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh beberapa sahabat yaitu :</p>
<p>&#8220;Artinya : Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam beliau bersabda, &#8220;Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga&#8221; [Hadits Riwayat Muslim 2551, Ahmad 2:254, 346]</p>
<p>Kemudian hadits berikut ini :</p>
<p>&#8220;Artinya : Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam naik ke atas mimbar kemudian berkata, &#8220;Amin, amin, amin&#8221;. Para sahabat bertanya. &#8220;Kenapa engkau berkata &#8216;Amin, amin, amin, Ya Rasulullah?&#8221; Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Telah datang malaikat Jibril dan ia berkata : &#8216;Hai Muhammad celaka seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat kepadamu dan katakanlah amin!&#8217; maka kukatakan, &#8216;Amin&#8217;, kemudian Jibril berkata lagi, &#8216;Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!&#8217;, maka aku berkata : &#8216;Amin&#8217;. Kemudian Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berkata lagi. &#8216;Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya masih hidup tetapi justru tidak memasukkan dia ke surga dan katakanlah amin!&#8217; maka kukatakan, &#8216;Amin&#8221;. [Hadits Riwayat Bazzar dalama Majma'uz Zawaid 10/1675-166, Hakim 4/153 dishahihkannya dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi dari Ka'ab bin Ujrah, diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 644 [Shahih Al-Adabul Mufrad No. 500 dari Jabir bin Abdillah]</p>
<p>Pada umumnya seorang anak merasa berat dan malas memberi nafkah dan mengurusi kedua orang tuanya yang masih berusia lanjut. Namun Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjelaskan bahwa keberadaan kedua orang tua yang berusia lanjut itu adalah kesempatan paling baik untuk mendapatkan pahala dari Allah, dimudahkan rizki dan jembatan emas menuju surga. Karena itu sungguh rugi jika seorang anak menyia-nyiakan kesempatan yang paling berharga ini dengan mengabaikan hak-hak orang tuanya dan dengan sebab itu dia tidak masuk surga.</p>
<p>Jika kita mencoba membandingkan antara berbakti kepada kedua orang tua dengan jalan mengurusi kedua orang tua yang sudah lanjut usia atau bahkan sudah pikun yang berada di sisi kita dengan ketika kedua orang tua kita mengurusi dan mebesarkan serta mendidik kita sewaktu masih kecil, maka berbakti kepada keduanya masih terbilang labih ringan. Mungkin kita mengurusnya hanya beberapa tahun saja. Sedangkan mereka mengurus kita membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun. Dari mulai hamil, hingga dilahirkan kemudian disekolahkan. Kedua orang tua kita memberikan segala yang kita minta mungkin lebih dari 10 tahun bahkan sampai 25 tahun.</p>
<p>Ketika orang tua mengurusi kita, dia mendo&#8217;akan agar si anak hidup dengan baik dan menjadi anak yang shalih, tetapi ketika orang tua ada di sisi kita, di do&#8217;akan supaya cepat meninggal. Bahkan ada di antara mereka yang menyerahkan keduanya ke panti jompo. Ini adalah perbuatan dari anak-anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya.</p>
<p>Bagaimanapun keadaannya, kedudukan mereka tetaplah sebagai orang tua kita, walaupun mereka bodoh, kasar atau bahkan jahat kepada kita. Dialah yang melahirkan dan mengurusi kita, bukan orang lain. Maka kita wajib berbakti kepada keduanya bagaimanapun keadaannya. Seandainya dia berbuat syirik atau bid&#8217;ah, kita wajib mendakwahkan kepadanya dengan baik supaya dia kembali, kita do&#8217;akan supaya mendapatkan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, bukan diperlakukan dengan tidak baik, berbuat kasar atau pun yang lainnya.</p>
<p>[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, terbitan Darul Qolam - Jakarta]</p>
<p>Sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/417/slash/0</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2008/07/wasiat-berbuat-baik-kepada-orang-tua-tatkala-keduanya-berusia-lanjut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemungkaran-kemungkaran Wanita</title>
		<link>http://oryza.or.id/2008/07/kemungkaran-kemungkaran-wanita/</link>
		<comments>http://oryza.or.id/2008/07/kemungkaran-kemungkaran-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jul 2008 05:09:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Shalihah]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://oryza.or.id/?p=370</guid>
		<description><![CDATA[(Tulisan ini diterjemahkan secara ringkas, bebas Oleh Abu Ubaidah Al Atsari dan Ibnu Yusuf As-Salafi dari risalah &#8220;Mukhalafatan taqa&#8217;lu Fiiha Nisa&#8221; koreksi Syeikh Abdullah Ibnu Abdirrahman Al jibrin, Dar Wathan Cetakan 1 th 1420 H)
Allah Subhanahu wa Taala telah menggariskan undang-undang dan syaria-Nya demi kebahagiaan hamba didunia dan akhirat. Apabila mereka menjalankan syari&#8217;at Allah itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(Tulisan ini diterjemahkan secara ringkas, bebas Oleh Abu Ubaidah Al Atsari dan Ibnu Yusuf As-Salafi dari risalah &#8220;Mukhalafatan taqa&#8217;lu Fiiha Nisa&#8221; koreksi Syeikh Abdullah Ibnu Abdirrahman Al jibrin, Dar Wathan Cetakan 1 th 1420 H)</p>
<p>Allah Subhanahu wa Taala telah menggariskan undang-undang dan syaria-Nya demi kebahagiaan hamba didunia dan akhirat. Apabila mereka menjalankan syari&#8217;at Allah itu niscaya mereka akan memperoleh ketentraman dan kesucian dari segala dosa dan kekejian. Allah Subhanahu wa Taala berfirman : &#8220;Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya (Al-Ahzab :33)</p>
<p>Tulisan ini berisi kemungkaran-kemungkaran yang sering dilakukan oleh kaum wanita, sebagai nasehat dan peringatan terhadap mereka agar waspada dan menjauhinya. Juga agar mereka segera bertaubat jika memang telah melakukannya. Kemudian medakwahkannya kepada saudari-saudari mereka yang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Taala memperbaiki niat dan amal kita. <span id="more-370"></span></p>
<p><strong>Kemungkaran Aqidah</strong><br />
1. Mendatangi para peramal, dukun atau orang (yang dianggap) pintar, baik karena sakit, pelet atau untuk melepaskan sihir. Padahal Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam telah memperingatkan hal ini dalam sabdanya : &#8220;Barang siapa yang mendatangi tukang dukun lalu membenarkan apa yang ia katakan maka dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad Shalallahu Alayhi Wasallam  ( HR Muslim).</p>
<p>2. Sering ziarah kubur dan bepergian ke kuburan, khususnya kuburan Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam, padahal nabi Shalallahu Alayhi Wasallam  bersabda : &#8220;Allah melaknat para wanita yang sering ziara kubur (HR Ahmad )</p>
<p>3. Memberikan Ucapan selamat kepada wanita kafir seperti disaat ulang tahun, tahun baru dan sejenisnya, padahal ini semua hukumnya haram sebab termasuk kedalam loyal kepada mereka. Al-Hafizh Ibnu Qoyyim berkada dalam Ahkam Ali Dhimmah 1/105 : &#8220;Mengucapkan selamat kepada orang kafir adalah haram dengan kesepakatan pada ulama&#8217; seperti mengatakan &#8220;Selamat Hari Raya&#8221; dan lainnya, kalaulah bukan kufur minimal adalah haram. Karena hal ini seperti memberi ucapan selamat kepada mereka atas sujud mereka terhadap salib&#8221;.</p>
<p>4. Bodoh dengan hukum-hukum agama islam khususnya tentang hukum kewanitaan, padahal Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda: &#8220;Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim ( HR Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Albani). Adapun yang masyhur pada zaman ini dengan tambahan &#8220;Muslimatun&#8221; maka tambahan itu tidak ada asalnya, sebagaimana yang ditegaskan Al-afizh As-Syakhawi dalam &#8220;Al-Maqhshidul Hasanah hal 277 walaupun maknanya benar. Lihat pula &#8220;Takhrijul Muskilatil Faqr &#8221; hal 62 oleh Al-Albani.</p>
<p>5. Meratapi mayat dengan memukul wajah dan merobek pakaian, padahal Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda: &#8220;Tidaklah termasuk golongan kami orang yang menampar pipi dan merobek pakaian serta menyeruh dengan seruan jahiliyah ( Muttafaqun &#8216;Alaihi).<br />
&#8221; Perempuan yang meratapi apabila belum bertaubat sebelum wafatnya, akan dibangkitkan dihari kiamat sedang pada dirinya pakaian dari tembaga dan baju besi yang berkarat (HR Muslim).</p>
<p>6. Bepergian ke negeri kafir tanpa keperluan secara syar&#8217;i baik dengan alasan belajar, rekreasi atau berbulan madu, padahal para ulama&#8217; telah menjelaskan bahwa tidak boleh bepergian kenegeri kafir melainka dengan alasan yang syar&#8217;i, sedangkan rekreasi bukanlah alasan yang syar&#8217;i (lihat : fatwa Lajnah Daimah 2/68&#8243; dan Syarah Tsalatsatul Ushul hal 131-138 oleh Ibnu Utsaimin. Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda: &#8220;Aku berlepas diri dari setiap muslim yang tinggal di tengah lingkungan yang kafir ( HR Abu Daud, Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani).</p>
<p>7. Menuntut kepada suami untuk dicarikan pembantu atau guru pribadi yang non muslim, padahal ini sangat berbahaya sekali bagi aqidah dan akhlaq anak-anak.</p>
<p>8. Mencela kaum muslimin dan kaum muslimat khususnya wanita-wanita muslim yang konsekwen terhadap agama, mereka lupa perbuatan mereka ini merupakan salah satu pembatal keislaman mereka . Allah Subhanahu wa Taala berfirman : &#8220;katakanlah apakah dengan Allah, ayat-ayat serta rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah minta maaf, kamu sudah kafir sebelum kamu beriman ( At-Taubah 65-66).</p>
<p>9. Putus harapan ketika tertimpa musibah atau berdoa untuk mati, padahal Nabi bersabda : &#8220;Janganlah seorang diantara kalian mengharap mati karena musibah yang menimpa, apabila ia memang harus mengharap mati,hendaklah ia mengatakan &#8220;Ya Allah hidupkanlah hamba jika hidup itu lebih baik bagiku, wafatkanlah hamba jika wafat itu lebih baik bagiku (Muttfaqun &#8216;alaih).</p>
<p><strong>KEMUNGKARAN DALAM RUKUN ISLAM</strong><br />
1. Mengundur-ungur waktu sholat, baik disebabkan ngerumpi atau begadang sampai larut malam sehingga menyebabkan terlambat tidur atau ketiduran sampai pagi.</p>
<p>2. Tidak mengeluarkan zakat mal atau perhiasan yang dimiliki wanita padahal sudah sampai haul dan nishabnya. Allah Subhanahu wa Taala berfirman : &#8220;Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, makaberitahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih (9:34).</p>
<p>3. Tidak menasehati suami atau anak-anak yang melalaikan sholat</p>
<p>4. Kurangnya perhatian seorang ibu terhadap putri-putrinya, sehingga ia tidak tahu apakah putrinya sudah baligh atau belum?</p>
<p>5. Mengkhususkan warna tertentu ketika ihram dalam haji, seperti warna hijau atau sebeliknya, demikian juga memakai cadar dan kaos tangan ketika ihrom, padahal nabi Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda : &#8221; Jangalah seorang wanita yang tengah berihram memakai cadar dan kaos tangan (HR Muslim ).</p>
<p><strong>KEMUNGKARAN RUMAH TANGGA</strong><br />
1. Menggunakan bejana emas dan perak untuk makan dan minum, padahal telah di larang oleh Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam dengan sabda beliau : &#8220;Janganlah kalian minum dibejana emas dan perak dan jangan pula makan dari piring emas dan perak karena sesungguhnya diperuntukkan untuk orang-orang kafir di dunia, sedangkan untuk kalian ( orang mukmin) diakhirat kelak ( Muttafaqun alaih).</p>
<p>2. Memasang gambar-gambar bernyawa didinding-dinding padahal hukumnya haram.</p>
<p>3. Berpaling dan memerangi poligami, seperti ada yang mengatakan :&#8221;Wanita mana yang mau dimadu? Padahal Allah Subhanahu wa Taala berfirman : &#8220;Dan tidaklah patut bagi laki laki mu;min dan tidak (pula) bagi perempuan mu;min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata ( Luqman :36).</p>
<p>Sungguh benar, apa yang dikatakan Al-Allamah As-Sanqhithi &#8221; Tidak ragu lagi bahwa petunjuk Islam yang memperbolehkan poligami merupakan syari&#8217;at yang paling adil karena beberapa sebab yang telah diketahui oleh orang-orang yang berakal :</p>
<p>a. Seorang wanita terkadang mempunyai halangan seperti haid, nifas, dan lainnya padahal sang suami ingin menunaikan syahwatnya (dari sinilah sering timbul perselingkuhan .pent).</p>
<p>b. Jumlah wanita lebih banyak ketimbang laki-laki, seandainya dicukupkan hanya satu, entah berapa wanita yang tidak dapat menikah sehingga dari sinilah mereka menjadi koran para hidung belang.</p>
<p>c. Adapun persangkaan musuh-musuh islam bahwa poligami membuat pertikaian rumah tangga, ini merupakan perkataan yang bathil. Ditambah lagi bahwa manfaat poligami kembali kepada sang suami dan sang istri juga bagi umat islam sehingga jumlah mereka menjadi banyak yang dapat mengalahkan musuh-musuh mereka, inilah sebenarnya yang dikhawatirkan musuh-musuh kita &#8221; ( lihat Adwa&#8217;ul Bayan, Surat An-Nisaa ayat 9).</p>
<p>Seorang kafir pernah membuat kesaksiannya :&#8221;Seandainya kita mau menimbang dengan adil antara poligami Islam dengan kebebasan barat yang menjadikan wanita sebagai alat pemuas nafsu lelaki, kapan saja ia diinginkan ia lakukan walaupun di jalan, sungguh islam jauh lebih baik (liat : Majmu&#8217;ah Taujihat Islamiah 3/240)</p>
<p>4. Tidak mentaati suami bahkan membantahnya, membentaknnya, mengingkari kebaikannya dan sering mengeluh, baik karena ada sebab atau tidak ada sebab. Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda : &#8220;Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, sungguh akan aku perintahkan kepada istri unjuk sujud kepada suaminya (HR Tirmidzi dan Ahmad).</p>
<p>5. Membatasi keturunan tanpa ada kepentingan yang mendesak, sehingga dapat memperkecil bilangan umat islam. Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda : &#8220;Nikahilah wanita yang penuh kasih dan banyak anak, sesungguhnya aku berlomba-lomba untuk memperbanyak umat ( HR Abu Daud, dan Nasa&#8217;i).</p>
<p>6. Persangkaan kaum wanita bahwa mereka tidak dimintai pertanggung jawaban disisi Allah Subhanahu wa Taala tentang apa yang menjadi tanggung jawabnya dalam rumah tangga. Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda : &#8220;Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinan dan seorang istri bertanggung jawab dirumah suaminya dan dia akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya (Muttafaqun &#8216;alaih).</p>
<p>7. Kurang perhatian terhadap pendidikan anak dengan pendidikan yang islami, seperti mendidik anak dengan hari ulang tahun, memberikan pakaian yang bergambar ( gambar yang bernyawa ), gambar salib, mengajari anak bernyanyi, tidak menganjurkan anak-anak untuk sholat di masjid, tidak menganjurkan menghafal al-Qur;an serta tidak menanamkan pada jiwa mereka cinta Islam.</p>
<p>8. Sebagian wanita meremehkan kewajiban rumah tangga, seperti menyapu, mencuci, memasak dan hak-hak suami lainnya seperti berhias dan berdandan untuk suami.</p>
<p>9. Menuntut cerai kepada suami tanpa sebab yang syar&#8217;i. Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda : &#8220;Wanita manapun yang menuntut cerai kepada suaminya tanpa ada seabb yang syar&#8217;I maka haram baginya bau syuga ( HR Abu Daud dan Ibnu Majah ).</p>
<p>10. Menuntut suami untuk membelikan kebutuhan-kebutuhan sekunder yang diluar kemampuannya seperti pakaian yang mahal, hadiah dan<br />
lain-lain.</p>
<p>11. Menyebarkan kejadian-kejadian yang terjadi antara suami istri, seperti omongan-omongan perselisihan dan rahasia rumah tangga, khususnya yang berkatitan dengan hubungan suami istri.</p>
<p>12. Berpuasa sunnah tanpa izin suami. Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda: &#8220;Tidak halal bagi seorang wanita untuk berpuasa sunnah sedangkan suaminya berada dirumah kecuali seizinnya ( HR Bukhari).</p>
<p><strong>KEMUNGKARAN DALAM PERKAWINAN</strong><br />
1. Membujang atau menunda nikah dengan alasan belajar atau yang lainnya, sehingga teman-temannya sudah menikah sedang dirinya belum, ketika itulah tidak ada lagi yang ingin menikahinya karena usianya sudah tua.</p>
<p>2. Tidak memilih suami yang baik agamanya, tetapi hanya melihat kedudukan dan martabatnya dalam masyarakat, pekerjaannya, ijazah dan hartanya sehingga dia mendapatkan seoarang suami yang fasik, ahli maksiat dan meninggalkan sholat. Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda: &#8220;Apabila datang kepada kalian orang yang kalian ridhai akhlaq dan agamanya maka nikahkanlah dengannya, karena jika tidak maka akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di bumi (HR Tirmidzi).</p>
<p>3. Menuntut mahar yang sangat tinggi, padahal pernikahan yang barokah adalah yang paling ringan biayanya, dalam disebutkan : &#8220;Sebaik-baik mahar ialah yang paling ringan (HR Hakim dalam Al-Mustadrok no 2796 dan tercantum dalam Shohih jami&#8217; Shoghir wa Ziyadatuhu 2/322.</p>
<p>Adapun kisah yang masyur tentang seoarang wanita yang menegur Umar bin Khattab ketika melarang memahalkan mahar lalu beliau menerima nasehat wanita tersebut dan kembali dari pendapatnya, kisah ini lemah &#8220;Lihat Irwa&#8217;ul Ghalil 6/349).</p>
<p>4. Tukar Cincin. Hal ini sering dilakukan oleh calon suami terhadap calon istrinya saat bertunangan padahal ini tasyabbuh dengan kuffar (menyerupai orang-orang kafir).</p>
<p>5. Menjadikan acara pernikahan di istana atau di hotel (masjid yang megah) padahal ini termasuk pemborosan yang dilarang . Allah Subhanahu wa Taala berfirman : &#8220;makan dan minumlah dan janganlah berlebihan! Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan ( Al-A&#8217;raf 31).</p>
<p>6. Memakai gaun pengantin yang berwarna putih, panjang dan mahal harganya, dilengkapi dengan kaos kaki dan tangan yang berwarna putih pula, padahal ini termasuk adat orang-orang nasrani dan termasuk pemborosan.</p>
<p>7. Meramaikan acara pernikahan dengan alat musik, joget, disko dan sejenisnya. Bahkan kadang mengundang artis atau para biduan untuk bernyanyi dan meramaikan acara pernikahan.</p>
<p><strong>KEMUNGKARAN KETIKA KELUAR DAN BEPERGIAN.</strong><br />
1. Memakai parfum ketika keluar rumah, sehingga tercium baunya oleh kaum lelaki. Sungguh ini termasuk kemungkaran dan doas yang sering dilanggar kaum wanita. Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda : &#8220;Wanita mana saja yang memakai minyak wangi kemudian keluar rumah maka sholatnya tidak diterima hingga ia mandi ( HR Ibnu Majah ). Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam juga bersabda : &#8220;Wanita mana saja yang memakai minyak wangi kemudian keluar melewati kaum laki-laki agar mereka mencium baunya, maka dia adalah pezinah (HR Abu daud dan Nasa&#8217;i)</p>
<p>2. Menaiki kendaraan dengan sopirnya ( yang bukan mahramnya ), berdua-duaan dan bersepi-sepi dengannya, padahal Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda: &#8220;Janganlah salah seorang diantara kalian bersepi-sepi dengan wanita kecuali dengan bersama mahramnya (Muttafaqun &#8216;alaihi).</p>
<p>3. Bercampur baur dengan lelaki yang bukan mahramnya, ngobrol, senda gurau, tidak berjilbab dihadapan, mereka, berjabat tangan dengan mereka, serta menampakkan perhiasan dihadapan mereka. Padahal Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam telah bersabda: &#8220;Janganlah kamu sembarang masuk kepada kaum wanita! Seoarang sahabat bertanya :&#8221;:bagaimana dengan saudara ipar? Beliau menjawab : &#8220;Saudara ipar adalah bencana (maut) (Muttafaqun &#8216;alaih).</p>
<p>4. Sering keluar rumah baik kepasar atau yang lainnya tanpa ada kebutuhan, sehingga mengakibatkan banyak bicara dengan para pedagan, penjahit, banyak tertawa dan senda gurau dengan teman-temannya. Padahal Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda : &#8220;Wanita adalah aurat, jika ia keluar maka syetan menganggapnya indah ( Muttafaqun &#8216;alaih).</p>
<p>5. Bepergian tanpa dengan mahram baik dengan mobil atau pesawat atau lainnya. Padahal ini telah dilarang oleh nabi Shalallahu Alayhi Wasallam dalam hadits nya: &#8220;Janganlah seoarang wanita bepergian kecuali dengan mahramnya (Muttafaqun &#8216;alaih).</p>
<p>6. Sebagian meraka meremehkan berobat kepada dokter laki-laki. Padahal ini tidak diperbolehkan kecuali memang mendesak sekali.<br />
Para ahli ilmu membolehkan sorang wanita berobat kepada dokter laki-laki dengan beberapa syarat-syarat yang jarang sekali di peraktikkan</p>
<p>pada zaman sekarang ini yaitu :<br />
a. Tidak ada dokter perempuan yang bisa menanganinya<br />
b. Adanya mahram atau tidak menyendiri antara pasien dan dokter saja<br />
c. Membuka anggota badan yang di butuhkan saja<br />
d. Sangat mendesak sekali</p>
<p>( Lihat Fatawa Syeikh Muhammad ibnu Sholeh utsaimin 2/846-847)</p>
<p><strong>KEMUNGKARAN KEMUNGKARAN UMUM LAINNYA</strong><br />
1. Durhaka kepada kedua orang tua, membentak, membantahnya dan tiadk menuruti perintahnya yang baik, cukuplah sebagai peringatan mereka ayat dibawah ini : &#8220;Dan Rabbmu telah memerintahakn supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduannya perkataan &#8220;ah&#8221; dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia ( Al-Israa&#8217; :23).</p>
<p>2. Meninggalkan kewajiban amar ma;ruf nahi mungkar ditengah-tenah mereka entah karena rasa takut atau segan. Cukuplah sebagai peringatan firman Allah Subhanahu wa Taala : &#8220;Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma;ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan di beri rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi maha bijaksana (At-Taubah :71).</p>
<p>3. Sering mengucapkan ucapan-ucapan haram seperti : fatwa tanpa ilmu, bohong , ghibah, namimah dan lain-lain.</p>
<p>4. Tidak menjaga pandangan terhadap kaum lelaki, seakan-akan mereka menyangka bahwa perintah menundukkan pandangan khusus bagi orang laki-laki, padahal Allah Subhanahu wa Taala berfirman: &#8220;Katakanlah kepada wanita yang beriman : &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka &#8221; (An-Nuur 31).</p>
<p>5. Sebagian wanita menceritakan kepada suaminya akan kecantikan sahabat perempuannya, padahal tidak ada keperluan syar&#8217;i seperti menikah, Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda: &#8220;Janganlah seoarang wanita melihat kulit wanita yang lain lalu ia menceritakan kepada suaminya (sehingga) seakan-akan suaminya melihat wanita tersebut ( HR Abu Daud).</p>
<p>6. Menyerupai model dan gaya hidup lelaki, baik dalam pakaian, gerakan, gaya bicara. Nabi Shalallahu Alayhi Wasallam bersabda: &#8220;Allah melaknat seorang lelaki yang memakai pakaian wanita and Allah melaknat kaum wanita yang memakai pakaian lelaki ( HR Abu Daud).</p>
<p>7. Sering menyia-nyiakan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, sampai-sampai seorang jika bertemu dengan temannya, mereka akan<br />
menghabiskan waktu yang banyak untuk mengobrol dan sejenisnya.</p>
<p>8. Melembutkan perkataan ketika berbicara dengan orang lelaki yang bukan mahramnya. Khususnya dalam telepon. Hal-hal seperti inilah yang mengakibatkan terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan.</p>
<p>9. Sangat asyik dan sangat peduli dengan video, kaset, nyanyian serta tidak pernah absen mengikuti acara sinema, pertandingan dan perlombaan lewat TV, video atau VCD</p>
<p>10. Berteman dengan wanita-wanita yang jelek akhlaqnya sehingga dapat menyeret untuk melalaikan kewajiban-kewajiban Allah dan menerjang larang Allah Subhanahu wa Taala.</p>
<p>Dari Postingan Ummi Dedeh Hasanah di Room</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://oryza.or.id/2008/07/kemungkaran-kemungkaran-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
